21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat dengan Tawakal

Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat dengan Tawakal

Fiqhislam.com - Islam bukan hanya fokus mengajarkan umatnya untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat saja, tetapi juga mendorong umat agar mendapatkan kesuksesan di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا‌ وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ‌ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada oang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu bebuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bebuat kerusakan.” (QS: Al Qashash: 77).

Dalam ayat tersebut umat islam diperintahkan untuk mencari kebahagiaan yang ada di dunia untuk diorientasikan kepada akhirat. Umat islam tidak dilarang untuk menikmati dan mensyukuri kebahagiaan yang ada di dunia.

Semua itu tentu bukan untuk manusia melakukan kerusakan di muka bumi melainkan untuk dapat beramal sebaik-baiknya sebagai bekal akhirat. Namun, kesuksesan di dunia dan akhirat harus diikuti dengan rasa tawakal yang kuat.

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّه

Orang yang paling kuat di sisi Allah Ta;ala adalah orang yang tawakal

Tawakal di sini adalah orang yang tidak bersantai-santai dalam bekerja dan beribadah.

Karena tawakal adalah perkara yang besar, memberi energi positif, dan ia bertempat di qalbu. Maka jika ada orang yang tidak tawakkal kepada Allah Ta'ala dia pasti bisa terjatuh pada dosa besar.

Tawakal ialah perkara keyakinan kepada Allah Ta'ala setelah usaha dan doa dilakukan. Tawakal itu bukan ahlu santai. Tawakal adalah pekerja dan ahlu doa.

Berdoa dan tawakal adalah hal utama yang harus dilakukan umat islam. Untuk itu berdoa adalah kita memohon kepada Allah. Berdoa bukan berarti pasrah dan tanpa usaha.

Doa adalah wujud permohonan dan penghambaan kita kepada Allah sebagai manusia yang lemah. Sedangkan usaha adalah bentuk real dari kesungguhan doa kita kepada Allah. Jadi seorang muslim dilarang bersantai, dia harus giat bekerja dan berdoa.

Allah Ta'ala berfirman :

وَاَنۡفِقُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَلَا تُلۡقُوۡا بِاَيۡدِيۡكُمۡ اِلَى التَّهۡلُكَةِ ۖ  ۛۚ وَاَحۡسِنُوۡا  ۛۚ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ

"Dan belanjakan harta bendamu di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS: Al Baqarah : 195).

Allah berfirman lagi :

فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡۙ

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS: Al Insyirah: 7).

Dalam Surat Al Insyirah di atas menunjukkan bahwa umat islam harus bekerja keras dan produktif. Umat islam tidak dibiarkan oleh Allah untuk hanya bersantai-santai dan berleha-leha. Untuk itu, di dalam ayat tersebut di atas mengabarkan bahwa seorang muslim diperintahkan untuk segera melaksanakan urusan yang lain dengan segera jika urusan yang lain telah dilaksanakan.

Jadi merujuk pada kalamullah dalam Al-Quran, yang paling penting dalam mencapai kesuksesan dalam islam adalah umat islam harus memiliki cara pandang positif dan benar terhadap nasib kehidupannya. Allah tidak akan merubah apapun jika manusia tersebut tidak merubah nasib hidupnya sendiri. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]