4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Murtadnya Penduduk Bahrain Setelah Wafatnya Rasulullah Saw

Murtadnya Penduduk Bahrain Setelah Wafatnya Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Setelah wafatnya Rasulullah SAW, banyak di antara orang-orang yang murtad. Penduduk Bahrain keluar dari agama Islam dan mereka mengangkat al-Mundzir bin an-Nu’man sebagai raja.

Dikutip dari buku Inilah Faktanya karya Utsman bin Muhammad al-Khamis, salah seorang dari mereka mengompori: “Jika Muhammad benar-benar seorang Nabi, seharusnya dia tidak mati." Semua penduduk Bahrain murtad, kecuali orang-orang yang tinggal di desa Juwatsa. Di desa inilah pertama kali sholat Jum‘at didirikan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.

Oleh karena itu, orang-orang murtad mengepung penduduk Juwatsa dan mempersempit gerak mereka. Keadaan ini berlangsung hingga mereka mengalami kelaparan yang sangat mengerikan. Salah seorang dari mereka, yaitu ‘Abdullah bin Hadzaf, berseru lirih:

"Kabarilah Abu Bakar dengan utusan perantara, juga kabari seluruh pemuda Madinah sudikah kalian menolong sekelompok kaum mulia yang menunggu di Juwatsa, sedang terkepung dan payah seolah darah mereka tercecer di setiap jalan raya laksana sinar mentari penerang mata yang diberkahi. Kami bertawakal kepada Allah, sungguh kami ada dan peroleh kemenangan bagi yang bertawakallah."

Tidak lama berselang, bangkitlah salah seorang penduduk Juwatsa bernama al-Jarud bin al-Mu‘alla dan berseru: “Wahai penduduk Bani ‘Abdul Qais, aku akan bertanya kepada kalian tentang suatu hal. Jawablah pertanyaanku jika kalian mengetahuinya, dan tidak perlu dijawab jika kalian tidak mengetahuinya!” Mereka pun menanggap:

“Tanyakanlah!” Dia (al-Jarud) bertanya: “Tahukah kalian bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki Nabi-Nabi sebelum Muhammad?” Mereka menjawab: “Ya.” Dia bertanya lagi: “Apakah kalian benar-benar mengetahuinya, atau itu hanya pendapat kalian?” Mereka menjawab: “Ya, kami benar-benar mengetahuinya.” Dia kembali bertanya: “Lalu, apa yang terjadi dengan mereka?” Mereka menjawab: “Mereka semua telah wafat.”

Maka dia berseru: “Sesungguhnya Muhammad juga telah wafat sebagaimana mereka semua. Karena itulah, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Azza wa Jalla dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah (utusan-Nya).” Lantas mereka mengikuti seruannya: “Kami juga bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Azza wa Jalla dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Sungguh, engkau adalah orang terbaik di antara kami, sekaligus ketua bagi kami.” Dengan demikian, penduduk Juwatsa tetap teguh memeluk Islam.

Abu Bakar Radhiyallahu Anhu mengutus al-‘Ala’ bin al-Hadhrami untuk menyelesaikan permasalahan di Bahrain. Lalu, pasukan Tsumamah bin Atsal Radhiyallahu Anhu ikut bergabung dengannya. Ketika mendekati pasukan orang-orang murtad, al-‘Ala’ turun dari kendaraannya, diikuti oleh segenap pasukan.

Malam hari pun tiba menyelimuti kaum Muslimin. Saat itulah al-‘Ala’ mendengar suara gaduh dari arah tempat kaum murtad berada. Lalu dia bertanya: “Siapakah yang sudi menyelidiki keadaan mereka?” Kemudian, salah seorang pejuang Muslim pergi dan menyelusup di antara orang-orang murtad itu. Dan, dia mendapati mereka dalam keadaan mabuk berat, hingga tidak sadarkan diri karena pengaruh minuman keras. Lantas dia segera kembali dan mengabari al-‘Ala’. Seketika itu juga, al-‘Ala' bersama pasukannya berangkat menuju ke tempat itu dan membunuh mereka. Sungguh, sedikit dari mereka yang bisa melarikan diri. (Tarikh ath-Thabari). [yy/Rossi Handayani/republika]