pustaka.png
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

An-Naba, Berita Besar

An-Naba, Berita BesarFiqhislam.com - An Naba dimaknai oleh pakar-pakar bahasa Arab sebagai berita penting. Jika dia dibahasakan dengan lafaz (‘azhim) dalam bentuk infinitive, maka urgensinya akan nyata.

Namun, Alquran menambahkan huruf al (definitif) dalam kata ‘azhim. Maknanya yakni sudah pasti dia berita yang amat besar.

Surah ini turun di Makkah. Ketika kaum Muslimin belum hijrah ke Madinah. Lantas, berita apa gerangan yang membuat orang-orang memperselisihkannya ketika ayat ini diturunkan? Syeikh Yusuf Qaradhawi dalam Tafsir Juz ‘Amma menjelaskan, mereka bertanya-tanya apakah berita ini benar atau dusta? Meyakinkan atau hanyalah sebatas dugaan tanpa dasar.

Menurut dia, mayoritas ulama tafsir berpandangan jika yang dimaksud merupakan kebangkitan setelah kematian. Berita ini diingkari oleh penduduk Makkah dan orang-orang Arab pada waktu itu. Yusuf Qaradhawi pun menukil ayat Alquran yang menjadi dalil penguat para ulama. “Dan mereka berkata, ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Apa benar kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (QS Al Isra:49).



Di dalam ayat lainnya, Allah SWT berfirman, “Dan ia membuat perumpamaan bagi kami. Dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?’ (QS Yasin: 78).

Ibnu Katsir mengungkapkan, itulah berita tentang hari kiamat. Yakni berita yang amat besar dan mengerikan lagi mengejutkan. Menukil dari pendapat Qatadah dan Ibnu Zaid, Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud berita besar tersebut adalah kebangkitan setelah mati. Mengingat, adanya ayat yang mengungkapkan perselisihan dan ayat setelahnya berbunyi. “Sekali-kali tidak. Kelak mereka akan mengetahui. Kemudian, sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS An-Naba: 4-5).

 Ini merupakan peringatan tegas dan ancaman yang keras. Kemudian, Allah SWT menjelaskan tentang kekuasaan-Nya yang besar melalui ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu yang besar lagi menakjubkan. Semuanya itu menunjukkan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Termasuk tentang hari berbangkit dan lainnya.

Tidak hanya itu. Lanjutan dari ayat-ayat yang disebut sebagai bagian kedua dari An-Naba ikut menguatkan jika berita besar itu adalah hari berbangkit. Dalam sebelas ayat itu, Allah SWT menghitung tanda-tanda kekuasaan-Nya dan hasil ciptaan-Nya di muka bumi.

Dia menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk dan penciptaan. Allah juga telah menundukkan semua apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Penjelasan tersebut dinilai sebagian ahli tafsir yang berpendapat jika berita besar itu adalah hari kebangkitan menjadi penerang atas kekuasaan Allah.

Dia Maha Sanggup menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur. Karena itu, Allah Maha Mampu menjadikan bumi sebagai hamparan. Gunung pun dijadikan sebagai tiang atau pasak. Allah Maha Berkuasa mengembalikan orang yang telah mati seperti Allah menciptakan mereka pada kali pertama.

Meski demikian, Syeikh Qaradhawi menjelaskan, ada sebagian ahli tafsir yang berpandangan jika berita besar ini adalah Alquranul Karim. Sebuah mukjizat kenabian Rasulullah dan apa-apa yang Nabi SAW dapatkan berupa wahyu.

Berita besår itu adalah wahyu yang diberikan kepada Rasulullah sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Lewat Alquran itu, Rasulullah mengajak umatnya kepada ajaran tauhid dan kepada iman terhadap hari berbangkit.

“Bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir. ‘Ini adalah sesuatu yang amat ajaib.’ Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah kami akan kembali lagi? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” (QS Qaf:2-3).

Menurut Qaradhawi, keberadaan Nabi SAW menjadi bukti besarnya nikmat dan rahmat Allah. Allah mengutusnya untuk sebuah hikmah dan tujuan besar agar Rasulullah  menunaikan amanah kenabian yang menjadi kebutuhan manusia. Karena itu, mereka tak boleh melalaikannya.

Allah menjadikan hikmah yang mendalam sekaligus tanda akan kenikmatan-Nya yang besar. “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf. Seorang rasul diantara mereka yang membacakan ayat-ayat Nya kepada mereka menyucikan mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah. (QS Al Jumu’ah: 2). [yy/republika]

 

 



 

Tags: An-Naba | Surah | Quran