29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Tata Cara Menyapih Anak Menurut Islam

Tata Cara Menyapih Anak Menurut Islam

Fiqhislam.com - Menyapih anak menjadi momen penting dalam pola asuh anak kita. Bila dilakukan dengan tepat, asupan zat gizi si kecil bisa tetap terjaga. Secara psikis pun ia tak akan trauma. Dan ternyata, Islam sudah mengatur dalam aspek yang terlihat sederhana ini. Bagaimana praktiknya?.

Dalam Islam dibolehkan untuk menyusuianak hingga berumur lebih dari dua tahun, sebagaimana dibolehkan untuk menyapihnya kurang dari dua tahun, dengan dua syarat. Pertama, tidak membahayakan kesehatan anak maupun ibu. Kedua, disepakati kedua orang tuanya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”(QS. Al-Baqarah: 233).

Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya, “Kalimat ‘bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan‘ dalil bahwa menyusui selama dua tahun tidak wajib. Boleh menyapih sebelum dua tahun. Batasan dua tahun ini tujuannya adalah untuk memutus perselisihan antara suami istri dalam menentukan masa menyusui.

Sehingga jika bapaknya menginginkan agar anaknya disapih sebelum dua tahun, sementara ibu tidak rela, maka bapak tidak boleh memaksakan. Dengan demikian, lebih atau kurang dari dua tahun hanya boleh dilakukan selama tak membahayakan anak atau ibu dan sesuai kesepakatan kedua orang tua. (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur'an, 3:162).

Lalu bagaimana cara menyapih menurut syariat Islam ini? Dirangkum dari berbagai sumber, berikut cara menyapih anak dalam Islam:

1. Niat dan doa

Cara menyapih anak menurut islam yang paling penting ialah niat dan doa dalam setiap prosesnya. Kita diajarkan untuk selalu membaca “Bismillah” sebelum memulai aktivitas baik, begitupun ketika hendak menyapih. Tidak ada doa khusus untuk mempersiapkan si kecil agar tak lagi ketergantungan ASI. Namun Bunda bisa memanjatkan doa untuk kelancaran setiap hari setelah salat wajib.

2. Perhatikan usianya

Dari segi usia, Islam menyarankan bagi setiap orang tua untuk memberikan ASI hingga usia si kecil menginjak 2 tahun. Bukan tanpa dasar, Allah SWT telah berfirman mengenai hal ini dalam Alquran.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu harus memberi ASI mereka kepada anak-anak selama dua tahun.” (Q.S. Al-Baqarah : 233)

Jika sang ibu harus menyapih anak lebih awal dari dua tahun, orang tua diizinkan melakukannya. “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS al-Baqarah: 233).

Ada pendapat lainnya mengenai usia spesifik, yakni sebaiknya menyapih tidak lebih dari dua puluh satu bulan menyusui. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam as-Shadiq. “Periode ibu menyusui anak harus minimal dua puluh satu bulan. Jika seseorang memberi makan anak untuk periode yang lebih sedikit, itu akan menyebabkan kesulitan bagi anak tersebut.”

3. Sabar dan bijaksana

Menyapih anak bukanlah hal yang mudah, seringkali Bunda diliputi rasa tak tega setiap kali melihat si kecil ingin minum ASI. Tetaplah sabar dalam menjalaninya, Bun. Konsisten hati bahwa ini dilakukan untuk kebaikan si kecil.

Tak apa untuk menggunakan trik tertentu yang dinilai aman. Ada ibu yang mencoba untuk menerapkan beberapa bahan pahit pada puting susu mereka atau mewarnai payudara dengan warna hitam yang membuat anak enggan untuk menyusuinya.

Apa pun cara yang dilakukan, sebaiknya Bunda tetap perhatikan psikologis si kecil. Proses menyapih sebaiknya terhindar dari berbagai hal yang membuat si kecil trauma secara psikologis.

4. Mengetahui informasi

MPASI yang baik Dalam ajaran agama Islam, kadar halal dan toyyib atau halal serta kebaikan makanan menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Hal ini tentunya juga berlaku untuk pemberian MPASI pada si kecil.

Tak hanya halal, seorang ibu pun sebaiknya memerhatikan kadar kebaikan makanan tersebut bagi si kecil. Perluas pengetahuan dengan mengetahui tekstur, bahan, dan kandungan makanan dan minuman yang cocok untuk usia anak.

5. Lakukan perlahan

Menyapih merupakan proses yang membutuhkan waktu dan kerja sama antara orangtua dengan anak. Jangan terlalu memaksakan apalagi membandingkan si kecil dengan anak yang lain.

Cobalah untuk berkomunikasi dengan baik dengan si kecil bahwa ia sudah cukup besar untuk tidak lagi menyusu. Seorang ibu juga bisa bertahap membiasakan si kecil minum ASI di botolnya atau minum susu formula di botol.

6. Peran ayah dalam menyapih

Hal yang penting diperhatikan ialah keterlibatan serta peran ayah dalam setiap prosesnya. Islam sangat mengatur hal ini yang sudah banyak ditegaskan mengenai tanggung jawabnya dalam Al-Qur'an.

Beberapa peran vital ayah dalam proses ini antara lain: Memberikan dukungan dan dorongan moral, menyediakan sarana untuk memberi kebutuhan terbaik anak dan ibu. Jika ayah meninggal selama masa menyusui dan menyapih, biaya perawatan bayi harus ditanggung oleh ahli warisnya (biasanya kakek dari pihak ayah bayi). Membahas dan memutuskan menyapih bersama dengan ibu.

Fakta bahwa ayah harus menjadi orang utama yang bertanggung jawab atas keuangan sangat penting dalam Islam, bahkan jika pasangan bercerai, ayah harus terus membayar biaya ibu dan anak sampai bayi disapih (dalam waktu dua tahun). [yy/Widaningsih/sindonews]