fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

Kajian Tafsir Tematik: Kebebasan Beragama Menurut Al Quran

Kajian Tafsir Tematik: Kebebasan Beragama Menurut Al QuranFiqhislam.com - Ajaran Islam adalah ajaran yang bersifat universal, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan ditujukan untuk seluruh umat di belahan bumi manapun mereka berada. Rangkaian ajarannya meliputi aspek keimanan, hukum, etika dan sikap hidup dengan menampilkan kepedulian besar terhadap kemanusiaan. ِ AlQuran berulang kali menyebutkan bahwa Allah SWT mengangkat derajat manusia dari makhluk lainnya dan berulang kali pula akan menurunkan derajatnya sampai lebih hina dari binatang apabila tidak mampu menggunakan anugerah akal dan kelengkapan anggota jasmani yang diberikan kepadanya. Di satu sisi derajatnya diangkat melebihi dari Malaikat, tetapi di sisi lain ia juga bisa menjadi lebih rendah dari hewan.

Semua tergantung pada kemampuan memfungsikan akal sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Allah memuliakan manusia dari makhluk lainnya di muka bumi, memberi rezeki dari sesuatu yang baik-baik kepada mereka dan diberikan-Nya kelengkapan jasmani yang lebih sempurna dari setiap ciptaan-Nya di muka bumi. Agar derajat yang mulia itu dapat diraih oleh manusia, maka Islam mengemukakan lima jaminan dasar yang diberikan kepadanya, baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.

Salah satu dari jaminan dasar itu ialah kebebasan beragama atau yang  sering diungkapkan dengan kemaslahatan agama. Syariat Islam menjamin terpeliharanya kelima hak pokok yang diberikan Allah SWT kepada manusia bagi terciptanya kemaslahatan kehidupan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Jaminan ini melandasi hubungan antar warga masyarakat atas dasar sikap saling menghormati yang akan menimbulkan sikap tenggang dan saling mengerti antara satu dengan yang lain. Terlepas dari sejarah yang mencatat penindasan, kepicikan pandangan dan kezaliman yang pernah terjadi terhadap kelompok minoritas agama, sejarah umat manusia membuktikan bahwa toleransi adalah bagian inheren bagi kehidupan manusia itu sendiri.

Toleransi merupakan hal yang tetap dibutuhkan demi berjalannya transformasi sosial sepanjang sejarah umat manusia. Bahkan sejarah membuktikan bahwa agama merupakan dobrakan moral atas kungkungan yang ketat dari pandangan yang dominan yang berwatak menindas.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh Islam dengan dobrakannya atas ketidakadilan wawasan hidup jahiliah yang dianut mayoritas bangsa Arab di zamannya. Manusia di tempatkan pada martabat yang tinggi dan merupakan karunia pemberian Tuhan kepadanya, bukan pemberian manusia lain dan bukan pula pemberian negara atau superioritas lainnya.

Alquran menjelaskan hal ini secara tegas untuk memperkuat prinsip kemuliaan martabat manusia yang dinyatakan dengan ungkapan yang mutlaq, yaitu Banî  dam. Kemuliaan martabat manusia mencakup seluruh umat manusia tanpa kecuali. Jaminan terhadap perlindungan harkat dan martabat manusia datang dan berasal dari Allah SWT dari sifat Raẖmân dan Raẖim-Nya. Implikasi yang terkandung dari prinsip ini adalah bahwa tunduk dan hormat pada kekuasaan Allah S.w.t. haruslah sekaligus berarti menghormati jaminan  dan ketentuan Allah SWT yang dalam hal ini berarti menghormati dan mengakui martabat setiap manusia.

Tidaklah mungkin  seseorang dapat mengaku menghormati kekuasaan Allah SWT apabila dalam kenyataan ia tetap merendahkan martabat manusia dalam berbagai bentuknya. Dalam kaitan ini, Islam dengan ajaran tauhidnya, memberikan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan. Islam mentolerir perbedaan keimanan dan keyakinan, tanpa harus memaksakan keyakinan dan keimanan terhadap orang lain. Dengan kata lain, Islam melalui ajarannya memiliki pendangan universal yang berlaku untuk seluruh umat manusia.

Atas dasar penjelasan di atas, dalam tulisan ini, dikemukakan wawasan Alquran tentang kebebasan beragama dan implikasinya bagi tata interaksi sosial yang  pembahasannya dibagi dalam beberapa sub bahasan. Bagian pertama berupa pendahuluan dan bagian kedua bahasan tentang prinsip kebebasan beragama. Kemudian pada bagian ketiga dikemukakan konsekuensi logis dari adanya prinsip kebebasan beragama bagi interaksi sosial.

Pembahasan terhadap berbagai masalah di atas bertitik tolak dari beberapa ayat Al-Qur`an, antara lain:

1.  Tidak  ada paksaan untuk   (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya  telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu siapa yang ingkar kepada Thâgūt  dan beriman kepada Allah,  maka sesungguhnya ia  berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha endengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. 2 :256).

2. Maka berikanlah peringatan, karena sesungguhnya kamu adalah orang yang memberi peringatan.  Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka). (Q.S. 88:21-22).

3. Dan jikalau Tuhan-mu  menghendaki  tentulah semua orang yang ada di muka bumi beriman seluruhnya. Maka apakah   kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (Q.S 10:99).

4.  Katakanlah: Hai Ahli Kitâb marilah (berpegang) pada suatu kalimat (ketetapan)  yang  tidak ada  perselisihan antara  kami dan kamu, bahwa  kita tidak sembah  kecuali Allah dan  tidak  kita persekutukan  Dia dengan  sesuatupun dan  tidak (pula)  sebagian kita  menjadikan   sebagian yang  lain sebagai tuhan   selain dari  pada Allah,   jika  mereka berpaling,   maka
katakanlah kepada  mereka,  saksikanlah   bahwa kami  adalah orang-orang yang  menyerahkan diri (kepada  Allah). (Q.S. 3:64).

5.  Katakanlah: Siapakah yang memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan  dari bumi. Katakanlah: Allah, dan   sesungguhnya kami   atau kamu  (orang-orang  musyrik)  pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Q.S.  34:24).

6.  Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan  berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena  agama dan  tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(Q.S. 60:8).

7.  Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab   melainkan dengan  cara yangpaling baik,   kecuali   dengan   orang-orang zalim   di antara   mereka dan katakanlah: Kami beriman  kepada (kitab-kitab)  yang  diturunkan   kepada kami dan yang   diturunkan kepadamu. Tuhan  kami dan  Tuhan-mu adalah satu  dan kami hanya  kepadanya   diri. (Q.S. 29:46).

Di antara jaminan dasar yang dipeliharan dan dilindungi oleh Islam adalah terlindungi dan terpelihara agama. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan hak kebebasan beragama. Setiap orang berhak memeluk agamanya masing-masing dan tidak boleh dipaksa untuk meninggalkannya atau melakukan tekanan terhadap pemeluk agama dengan cara apapun agar ia pindah ke agama lain.

Islam tidak membenarkan adanya pemaksaan kepada pemeluk agama di luar Islam untuk pindah ke agama Islam. Demikian pula sebaliknya, dimana orang luar Islam tidak dibenarkan memengaruhi orang yang Islam supaya ia keluar dari Islam. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa keyakinan beragama yang dipaksakan tidak akan bias menimbulkan keyakinan yang sebenarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut Alquran menyatakan secara jelas bahwa tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang salah. (QS 2:256). Dalam menjelaskan ayat tersebut Yūsuf Ali memberikan komentar bahwa iman merupakan prestasi moral. Dan sebagai kelengkapannya, maka setiap orang yang beriman harus memiliki kesabaran, tidak marah bila berhadapan dengan orang kafir.

Di samping itu, yang lebih penting lagi adalah mereka tidak boleh memaksakan imannya kepada orang lain. Baik melalui tekanan phisik maupun melalui tekanan sosial, bujukan kekayaan, kedudukan dan keunggulan lainnya. Iman yang dipaksakan bukanlah iman yang sebenarnya. Orang harus berjalan secara spiritual dan biarkan rencana Tuhan berjalan sebagaimana dikehendaki.

Ibn Katsîr ketika menafsirkan ayat tersebut di atas  mengemukakan bahwa seseorang tidak boleh memaksa siapapun untuk memeluk agama Islam. Sebab, sudah cukup jelas petunjuk dan bukti-buktinya, sehingga tidak perlu ada pemaksaan terhadap seseorang untuk memasukinya.

Para ahli tafsir menginformasikan bahwa sebab turunnya ayat tersebut menunjukkan bagaimana Islam menganut kebebasan beragama. Diriwayatkan bahwa ‘Abdullâh ibn `Abbâs menjelaskan tentang seorang wanita yang mandul atau kurang subur. Ia menetapkan atas dirinya sendiri bahwa jika ia melahirkan anak yang dapat terus hidup, maka anak itu akan dijadikannya menjadi seorang Yahudi. (Hal ini merupakan kebiasaan wanita-wanita Anshar pada zaman Jahiliah).

Ketika Bani an-Nadhîr (suatu suku kaum Yahudi di Madinah) diusir dari perkampungannya dan di antara mereka terdapat beberapa orang dari keluarga Anshar. Ayah-ayah mereka berkata: Kita tidak biarkan anak-anak kita (maksudnya kami tidak akan membiarkan mereka tetap beragama Yahudi supaya mereka tidak ikut diusir). Dalam hal ini Allah SWT menurunkan ayat: Tidak ada paksaan dalam agama.

Latar belakang sebab turunnya ayat yang tersebut dalam QS 2:256 menurut  riwayat  Sa’îd dari Ibn ‘Abbâs bahwa seorang Anshar dari Banî Salîm ibn `Auf mempunyai dua orang anak laki-laki beragama Nasrani. Ia bertanya kepada Nabi SAW apakah ia  boleh memaksa mereka supaya mereka masuk Islam, maka turunlah ayat ini untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dengan demikian, meskipun ada pemaksaan dari orang tua untuk menganut agama tertentu, Alquran tetap menolak pemaksaan itu. Karena, iman sebagaimana dikenal di kalangan Islam, bukan hanya merupakan kalimat yang diucapkan secara lisan atau dengan melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam upacara keagamaan yang dilaksanakan dengan anggota tubuh semata. Namun, pokok iman adalah pengakuan hati, kepatuhan serta penyerahan diri kepada Tuhan seutuhnya.

Oleh karena itu, tidak dibolehkan pemaksaan suatu agama terhadap seseorang. Karena, ia dipandang mampu untuk menentukan agamanya dan ia harus diberi kebebasan untuk membedakan dan memilih sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Kewajiban orang tua adalah menunjukkan mana yang benar dari agama yang akan diharapkannya untuk dianut anaknya dan menunjukkan  mana yang tidak benar dari agama lain yang tidak dianut oleh orang tua.

Orang tua punya kewajiban dan tanggung jawab untuk menjelaskan yang hak dengan yang batil terhadap anak. Orang tua punya tanggung jawab besar dalam membimbing dan mengarahkan anak menuju jalan hidayah dan jalan yang benar yang dilakukan dengan bijaksana, tanpa memaksa dan melakukan tekanan terhadapnya.

Di samping itu, tuntutan keimanan yang benar dalam Alquran didasarkan pada keimanan dan kepercayaan sepenuhnya terhadap Tuhan melalui hati, yang harus diucapkan secara tegas di lisan tentang keimanan tersebut dan dibuktikan dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan tertentu atas dasar perintah Tuhan yang diimani dan dipercayai.

Oleh karena itu, Allah SWT telah menciptakan kemampuan bagi manusia, maka Dia tidak lagi mengirimkan utusan atau rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Deretan para Nabi dan Rasul telah ditutup oleh kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul penutup. Nabi Muhammad SAW membawa dasar-dasar pokok ajaran yang terus menerus dapat dikembangkan untuk segala zaman dan tempat. Manusialah yang secara kreatif menangkap pesan dalam pokok ajaran Nabi penutup dan memfungsikannya dalam kehidupan nyata yang sedang mereka jalani.

Firman Allah SWT dalam Alquran surat al-Baqarah ayat (256) di atas menurut Nur Kholis Majid menegaskan bahwa jalan hidup tiranik adalah lawan hidup beriman kepada Allah. Hal ini berarti bahwa jalan hidup berdasarkan iman kepada Tuhan adalah kebalikan dari sikap maksa-maksa. Sebaliknya, iman kepada Tuhan sebagai jalan hidup menghasilkan moderasi atau sikap 'tengah' dan tanpa ekstrimitas. Beriman kepada Allah melahirkan sikap yang selalu menyediakan ruang bagi pertimbangan akal sehat untuk membuat penilaian yang jujur atau adil bagi setiap persoalan.

Sebagai konsekuensi logis dari kenyataan tersebut bahwa iman kepada Allah dan menentang tirani mempunyai kaitan logis dengan prinsip kebebasan beragama. Dalam hal ini Allah SWT mengingatkan Rasulullah SAW sebagai berikut: "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya, maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya". (QS. 10:99).

Menurut Muhammad ‘Abduh ayat di atas mengingatkan Rasulullah Muhammad SAW bahwa jika Allah menghendaki semua penduduk bumi beriman tentu tidak sulit baginya untuk menghunjamkan rasa iman ke dalam lubuk hati mereka, sehingga mereka laksana Malaikat dimana fitrahnya tidak dijadikan untuk selain beriman kepada Allah SWT. Ayat tersebut menurut Muhammad ‘Abduh, sama maknanya dengan firman Allah: "Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak akan mempersekutukan-Nya (Q.S. 6:107) dan Jikalau Tuhanmu menghendaki tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat". (QS 11:116).

Ayat-ayat tersebut di atas mengandung pengertian bahwa jika Allah menghendaki untuk tidak menciptakan manusia dilengkapi dengan ftrah akan keimanan dan kekufuran, kebaikan dan kejahatan yang dengan kehendak dan pilihannya (manusia) dapat menerima dan menolak hal-hal yang mungkin sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, maka Allah dapat mewujudkannya. Ketika manusia diciptakan Allah, maka Dia menciptakan sebagian dari mereka beriman dan sebagian yang lainnya tidak beriman.

Dalam menafsirkan firman Allah, "maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya". (Q.S. 10:99), Muẖammad ‘Abduh menyatakan, bahwa pemaksaan keimanan bukanlah merupakan otoritas Rasulullah SAW. Kewajiban beliau hanyalah menyampaikan ajaran tanpa ada unsur-unsur pemaksaan terhadap manusia. Hal ini seperti disebutkan Allah dalam QS. 88:21 & 22, QS. 18:18, QS. 50:45 dan sebagainya.

Dengan demikian, prinsip kebebasan merupakan perhormatan bagi manusia dan Allah. Karena Allah memberi hak kepada manusia untuk memilih sendiri jalan hidupnya, tentu tidak perlu lagi ditegaskan bahwa risiko semua pilihan itu adalah tanggung jawab manusia sepenuhnya. Allah telah menunjukkan mana jalan yang hak dan yang batil.

Perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan tidak ada paksaan dalam menganut agama adalah menganut akidahnya. Ini berarti, jika seseorang telah memilih satu akidah, katakan saja akidah Islam, maka dia terikat dengan tuntunan-tuntunannya, dia berkewajiban melaksanakan parintah-perintahnya. Dia terancam sanksi bila melanggar ketetapannya. Ia tidak boleh berkata bahwa Allah telah memberi saya kebebasan untuk shalat atau tidak, berzina atau nikah. Karena, bila dia telah menerima akidahnya, maka ia harus melaksanakan tuntunannya.

Allah SWT menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian dan kedamaian tidak akan dapat diraih apabila jiwa tidak damai. Paksaan menyebabkan jiwa tidak damai. Karena itu, tidak ada paksaan dalam meganut keyakinan agama Islam. Mana jalan yang benar (hak) dan mana pula jalan yang salah (batil) telah sangat jelas. Sangatlah wajar jika setiap pejalan memilih jalan yang benar dan tidak terbawa ke jalan yang sesat. Hanya orang yang jiwanya keliru yang enggan menelusuri jalan yang lurus, lalu menempuh jalan yang sesat yang berliku.

Pelembagaan prinsip kebebasan beragama untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia adalah yang dibuat oleh Rasulullah SAW. Hal ini terjadi setelah hijrah dari Makkah ke Madinah dan beliau menyebutkan masyarakat majemuk, karena menyangkut unsur-unsur non muslim. Sekarang prinsip kebebasan beragama itu telah dijadikan sebagai sendi sosial politik modern.

Prinsip itu dijabarkan oleh Thomas Jefferson yang “Deist” dan “Uniterianist Universatelist”, namun ia menolak agama formal. Kemudian prinsip ini dijabarkan pula oleh Robepierre, seorang yang percaya akan “Wujud Yang Maha Tinggi”, tetapi ia juga menolak agama formal. Sikap mereka yang demikian mungkin karena agama yang mereka kenal waktu itu tidak mengajarkan kebebasan beragama.

Pengakuan atas kebebasan beragama sebagaimana sebelumnya di atas, menimbulkan berbagai konsekuensi logis dari penerapan Islam dalam kehidupan keseharian. Sejarah tidak pernah mengenal suatu bangsa muslim memaksa 'ahl az-żimmah' untuk masuk Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa saja dari orang Islam yang memerangi ahl az-żimmah tidak akan mencium wangi surga sekalipun wangi sorga tersebut tercium sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Demikian Islam telah memelihara secara baik rumah-rumah ibadah milik non muslim serta menghargai kesucian ritual mereka. Hal ini dapat dilihat secara jelas, bagaimana Allah tidak mengizinkan melakukan perusakan terhadap rumah-rumah ibadah dalam keadaan aman dan damai.

"Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)Nya." (QS 22:40).

Ayat ini diturunkan manakala terjadi pengusiran yang dilakukan kaum musyrikin terhadap Rasulullah SAW dan kaum muslimin di Madinah. Orang-orang musyrik akan melakukan perusakan terhadap rumah-rumah ibadah, baik biara, gereja dan masjid-masjid. Kaum muslimin diperintahkan Allah untuk mencegah hal itu supaya tidak terjadi.

Memang benar bahwa salah satu sasaran yang hendak dicapai dalam menjalin hubungan dengan penganut agama lain ialah mengajak mereka untuk memeluk Islam sesuai dengan misi Islam sebagai agama dakwah. Islam sebagai jalan keselamatan dunia dan akhirat menganjurkan umat Islam untuk mengajak orang lain agar memeluk Islam yang diikat oleh suatu tali akidah atau keimanan yang telah diturunkan kepada para Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan dalam Alquran : "Katakanlah: Hai ahl al-kitâb, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dengan kamu, bahwa kita tidak sembah kecuali Allah dan tidak persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari pada Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS 3:64).

Ibn Jarîr ath-Thabâriy dalam menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa ayat tersebut mengajak kaum Yahudi dan Nasrani (Ahl al-kitâb) agar kembali kepada pegangan yang lurus di antara kaum muslimin dengan mereka, yaitu mentauhidkan Allah dan tidak menyembah selain Dia, tidak menganut suatu keyakinan atau mempertuhankan sesuatu selain Allah, membesarkan-Nya dan sujud kepada-Nya.

Menurut Muẖammad ‘Abduh ketika ahl al-kitâb dalam keadaan tidak yakin atas ketuhanan Isa As, maka keyakinan mereka mengalami guncangan. Ayat tersebut diturunkan untuk mengajak mereka supaya kembali kepada pokok-pokok dan ruh agama, yaitu tauhid,  suatu keyakinan yang telah didakwahkan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SWA.

Setelah Allah menjelaskan perlunya mengajak Ahl al-kitâb kepada tauhid, maka sebagian dari mereka menerima ajakan itu dan sebagian yang lain menolaknya. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran : "Mereka itu tidak sama, di antara Ahl al-kitâb segolongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedang mereka juga bersujud." (QS 3:113).

Menurut Muẖammad ‘Abduh ayat di atas menunjukkan bahwa di antara Ahl al-kitâb ada yang berpegang teguh pada ajaran agamanya yang hak sehingga ketika diajak memasuki Islam mereka dengan sukarela menerimanya. Sementara sebagian Ahl al-kitâb yang lain menolak. Penolakan mereka terhadap ajakan kepada tauhid tidak berarti bahwa eksistensi mereka diingkari oleh Islam. Mereka tetap sebagai suatu kelompok yang memiliki keyakinan dan aturan-aturan keagamaan yang wajib mereka laksanakan sendiri.

Karena itu, berkenaan dengan tata interaksi sosial dengan penganut agama lain. Islam membuka cakrawala pandang yang lebih luas dan membuka peluang besar dalam interaksi sosial dengan umat penganut agama lain. Hal ini, tercantum dalam persamaan kemanusiaan yang dicetuskan Islam dan tercermin dalam keluasan wilayah risalah Rasul-nya untuk semua umat manusia. Hal ini termaktub dalam QS 16:36. Di samping itu Islam menganjurkan tentang kesatuan nubuwwah dan umat yang percaya kepada Tuhan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (QS 21:92).

Allah bukan hanya sebatas menjelaskan bahwa Dia tuhan yang harus disembah, tetapi juga menjelaskan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah kelanjutan langsung dari agama-agama sebelumnya. Tambahan lagi Alquran secara tegas memerintahkan umat Islam untuk menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang beragama lain, khususnya Ahl al-kitâb, sebagaimana dinyatakan Allah : "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahl al-kitâb melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka dan katakanlah: Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kamu. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." (QS 29:46).

Uraian di atas menjelaskan bahwa asas yang harus dipegang dalam berinteraksi dengan penganut agama lain adalah sikap hormat menghormati agama dan kepercayaan yang mereka anut. Dalam hubungan ini, Allah memberikan petunjuk, sebagai berikut : Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi. Katakanlah: Allah, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) nanti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata." (QS 34:24).

Ayat tersebut pertama-tama mengajak kaum musyrik untuk menyadari bahwa sembahan-sembahan mereka tidak mampu memberikan rezeki dengan menurunkan hujan dari langit dan menyiapkan sumber rezeki lainnya untuk menghidupkan tumbuh-tumbuhan guna dimakan manusia dan binatang ternak. Kemudian pernyataan ayat “dan apakah kami atau kamu yang dalam kesesatan yang nyata” memberikan kesan seolah-olah belum ada kepastian bagi orang-orang yang mengucapkan kata itu (Nabi), apakah dia yang mendapat petunjuk (karena agama yang dianutnya yakni Islam) atau yang lain (kaum musyrikin) sebagai lawan bicaranya yang justru mendapat petunjuk karena agamanya, yakni berhala. Dengan perkataan lain seperti belum ada kepastian siapakah sebenarnya dari kedua belah pihak yang mendapat petunjuk dan siapa pula yang tersesat di jalannya.

Ayat di atas menggambarkan bagiamana seharusnya seorang muslim berinteraksi dengan penganut agama dan kepercayaan yang berbeda dengannya. Tidak dapat disangkal bahwa setiap penganut agama tak terkecuali Islam, meyakini sepenuhnya tentang kebenaran anutannya serta kesalahan anutan yag bertentangan dengannya.

Namun demikian, hal tersebut tidak harus ditonjolkan keluar. Apalagi, dikumandangkan di tengan masyarakat plural. Gaya bahasa ayat di atas oleh para Ulama disebut dengan istilah “uslūb al-inshâf”, dimana perbicara tidak secara tegas mempersalahkan mitra bicaranya, bahkan boleh jadi mengesankan kebanaran mereka. Ayat tersebut juga tidak menyatakan secara gamblang kemutlakan kebenaran ajaran Islam dan kemutlakan kesalahan pandangan lawan bicaranya.

Konsekuensi logis yang lain dari prinsip kebebasan beragama bagi tata interaksi sosial dengan penganut agama lain adalah bahwa umat Islam wajib menjalin hubungan secara baik dengan mereka apabila mereka menghormati umat Islam dan menghargainya serta tidak menghalangi kebebasan beragama umat Islam. Demikian pula sebaliknya. Hal inilah yang dinyatakan Allah : "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (QS 60:6).

Dalam menafsirkan ayat di atas Maẖmūd an-Nasafiy menyatakan, bahwa umat yang lain yang tidak memerangi atau tidak menghalangi umat Islam menjalankan ajaran agamanya hendaklah dihormati dan berbuat baik kepadanya dalam interaksi sosial, baik dalam bentuk perkataan maupun dalam bentuk perbuatan. Meskipun demikian, di kalangan ahli tafsir terdapat beberapa pendapat mengenai ayat tersebut. Menurut Qatâdah bahwa ayat tersebut menasakh ayat: "Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu menemuinya." (QS 4:89). Alasannya adalah bahwa aturan hukum yang menyatakan  boleh bergaul dengan penganut agama lain merupakan suatu keringanan karena ada sebab, yaitu saat damai.

Sedangkan setelah usai damai, yaitu saat futūẖ Mekah, maka hukumnya terhapus, sekalipun tulisannya tetap terbaca. Menurut Mujâhid ayat tersebut berlaku secara khusus bagi orang-orang beriman yang tidak ikut hijrah ke Madinah. Mereka adalah para wanita dan anak-anak yang tetap berdomisili di kampung halamannya sendiri dan tidak boleh diperangi.

Dengan demikian, ayat tersebut dapat dijadikan salah dasar bagi interaksi sosial umat Islam dengan penganut agama lain. Hal ini telah dipraktikan pada masa Rasulullah SAW di Madinah. Ketika itu, umat Islam hidup dalam kemunitas sosial dengan penganuta agama lain. Salah satu hal yang diperhatikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah pembuatan perjanjian dengan penganut agama lain (Yahudi) untuk hidup berdampingan secara damai.

Perjanjian tersebut dikenal dengan Piagam Madinah, yang isinya antara lain :
1.  Bahwa kaum Yahudi hidup damai bersama-sama dengan kaum muslimin dan kedua belah pihak bebas memeluk dan menjalankan  agamanya  masing-masing.
2. Kaum muslimin dan kaum Yahudi wajib tolong-menolong untuk siapa saja yang memerangi Islam. Orang Yahudi memikul tanggung jawab belanja sendiri dan orang Islam memikul belanja meraka sendiri.
3. Kaum muslimin dan kaum Yahudi wajib nasehat-menasehati dan tolongmenolong dalam melaksanakan kebijakan serta keutamaan.
4. Bahwa kota Madinah adalah kota suci yang wajib dihormati oleh mereka yang terikat dengan perjanjian itu. Bila terjadi perselisihan antara kaum Yahudi dengan kaum muslimin sekiranya dikhawatirkan yang akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka urusan tersebut hendaknya diserahkan kepada Allah dan Rasul.
5. Bahwa siapa saja yang tinggal di dalam atau di luar kota Madinah wajib dilindungi kemanan dirinya, kecuali orang yang zalim dan yang bersalah, sebab Allah menjadi pelindung terhadap orang-orang yang berbaik hati.

Perjanjian di atas merupakan sekelumit bukti yang menunjukkan bahwa perjanjian politik yang dibuat oleh Rasulullah SAW sejak XV abad yang silam telah menjamin kemerdekaan beragama dan berpikir serta hak-hak kehormatan jiwa  dan harta, baik bagi golongan muslim maupun bagi golongan non muslim. Sebaliknya, Islam melarang umatnya bergaul dengan penganut agama lain yang berusaha menghalangi umat Islam dalam menjalankan agamanya atau yang mengusir mereka dari negeri mereka sendiri.

"Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS 60:9).

Dari uraian di atas diketahui bahwa Islam sangat memperhatikan toleransi dalam pergaulan sosial denga penganut agama lain. Bertrand Russel memandang, ajaran toleransi dalam Islam berasal dari hakekat Islam itu sendiri. Ajaran inilah yang menyebabkan Islam mampu memerintah dan menguasai wilayah yang begitu luas dari berbagai bangsa yang ada di dunia.

Sikap toleransi yang inheren dalam watak Islam itu sendiri, karena Islam lebih mementingkan perdamaian dan kedamaian dari pada permusuhan dan peperangan. Sikap toleransi telah dipraktikan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah menerapkan dasar toleransi dalam hubungan beliau dengan kaum musyrikin yang dibuat melalui naskah perjanjian, baik pada saat dalam keadaan damai maupun pada saat di medan perang.

Perjanjian Ḫudaibiah adalah salah satu contoh nyata dari sikap saling menghormati yang ada dalam ajaran Islam, dimana Rasulullah SAW pada saat itu dihalangi oleh kaum musyrik Makkah untuk datang melakukan umrah ke Makkah. Kaum musyrik Makkah pada saat itu menghadapi kedatangan Rasulullah SAW berasama para sahabat dalam situasi siap perang. Tetapi, hal itu tidak terjadi dan berakhir dengan tercapainya perjanjian Ḫudaibiah.

Jaminan atas kebebasan beragama merupakan kebutuhan dasar manusia, bahkan merupakan kebutuhan yang paling asasi dalam kehidupan manusia. Kebutuhan akan kebebasan beragama mendapatkan perhatian sangat besar dalam Alquran yang oleh para Fuqahâ dikategorikan sebagai salah satu kebutuhan naluri manusia. Karena itu, Islam harus disebarkan di tengah-tengah masyarakat dengan cara bijaksana, tanpa tekanan dan paksaan dalam bentuk apapun. Sebab, keimanan tidak akan tumbuh dari paksaan dan tekanan.

Jaminan dasar atas kebebasan beragama memberi implikasi dalam tata interaksi sosial antara umat Islam dengan penganut agama lain. Dalam pergaulan sosial umat Islam dengan penganut agama lain, islam memerintahkan untuk berlaku adil terhadap mereka. Umat Islam dapat bekerja sama dalam berbagai kegiatan sosial sepanjang tidak mengorbankan prinsip akidah, yang kesemuanya demi terciptanya perdamaian. Sungguhpun demikian sikap menolak boleh dilakukan apabila umat Islam dihalangi dalam menjalankan kewajiban agamanya. Kebebasan beragama dilakukan tanpa melanggar batas-batas yang akibatnya memunculkan kekacauan dalam interaksi sosial. [yy/republika]

Oleh H. Mahyuddin Nasution, MA.
Dosen UIN Sumatera Utara