pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


12 Dzulqa'dah 1442  |  Selasa 22 Juni 2021

Rasulullah Mau Bermusyawarah dan Mendengar Nasihat Istrinya

Rasulullah Mau Bermusyawarah dan Mendengar Nasihat Istrinya

Fiqhislam.com - Sebagai seorang pemimpin dalam keluarga, Rasul bukanlah sosok yang otoriter. Beliu senantiasa bermusyawarah dan mau mendengarkan nasihat istri-istrinya. Salah satunya adalah Ummu Salamah. 

Dalam kitab Muhammad Sebagai Suami dan Ayah, disebutkan, ketika berada di Hudaibiyah, Nabi memerintahkan orang-orang untuk menyembelih hewan kurban dan memotong rambut mereka. Namun orang-orang itu tak menuruti perintahnya. 

Dalam keadaan jengkel, Muhammad masuk ke tendanya dan berkata kepada Ummu Salamah: "Tiga kali aku memerintahkan orang-orang untuk menyembelih hewan mereka dan mencukur rambutnya. Tapi lihatlah betapa malas dan lambannya mereka."

Saat itu, muncullah intuisi feminim yang menyelamatkan situasi. Ummu Salahmah pun berkata dengan lembut kepada Rasul. "Ya Rasulullah, engkau tak bisa membuat 1.500 orang ini melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Lakukan saja kewajibanmu yang telah Allah tetapkan atasmu. Majulah dan laksanakanlah ibadahmu sendiri di tempat terbuka agar setiap orang bisa melihatmu. Ini tentu akan membuat cukup membuat mereka merasa bodoh," kata Ummu Salamah. 

Nabi menyadari makna saran itu. Beliau pun keluar tenda dan melihat matahari telah terbit dan menerangi gurun yang sangat luas itu. Beliau berjalan ke tempat hewan ternak. Setiap orang kini menyaksikannya.

Bahkan kaum musrik Makkah yang ikut menginap di sana malam itu melihat sendiri beliau mengambil unta Abu Jahal. Beliau menggiringnya ke tempat terbuka dan menyembelihnya sambil berucap: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Tak lama kemudian, dia memanggil Khirasy ibn Umayyah Al Khuza'i, dan mencukur rambutnya.

Ketika kaum Muslim melihat apa yang dilakukan Rasul, mereka bangkit dan mengikutinya. Mereka menyembelih hewan dan mencukur rambut mereka.

Cara Menolak Masakan Istri yang tak Sesuai Seleranya

Sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW, ada banyak perilaku beliau yang patut menjadi teladan. Salah satunya adalah menyatakan penolakan secara halus terhadap masakan sang istri yang tak sesuai seleranya. 

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, dikisahkan, suatu hari Rasulullah mengajak Khalid bin Walid mengunjungi istri beliau, Maimunah, yang belum lama dinikahinya. Maimunah adalah saudara perempuan Ibunda Khalid. 

Melihat kedatangan suami tercinta dan kemenakannya, Maimunah kemudian masuk ke dapur dan memasak daging dhabb. Dhabb adalah sejenis hewan biawak. 

Saat dihidangkan, Rasulullah dengan penuh selera menjulurkan tangannya untuk mengambil hidangan yang disajikan istrinya. Lalu, tiba-tiba seorang perempuan dari bilik Maimunah berkata, "Beritahukanlah kepada Rasul tentang daging yang kalian hidangkan kepada beliau itu!"

"Wahai Rasul, ini daging dhabb," ujar salah seorang yang hadir. 

Begitu tahu daging tersebut, Rasul pun menarik kembali tangannya. Melihat hal itu, Khalid bertanya, "Wahai Rasul, apakah daging dhabb haram?"

Rasulullah menjawab, "Tidak, hanya saja daging dhabb ini tidak terdapat di daerah kaumku. Karena itu, saya merasa kurang berselera memakannya," jawab beliau dengan ramah dan santun.

Cara Rasulullah menolak dengan ramah dan bahasa yang santun itu tidak melukai hat istrinya yang telah menyiapkan daging panggang tersebut. 

Menurut Abu Hurairah, sahabat Rasul, beliu tidak pernah mencela makanan. Jika menyenanginya, Beliau akan memakannya. Jika tidak, dia meninggalkannya. 

Nah, sudahkan Anda meniru cara Rasul menolak secara halus hidangan yang tak sesuai selera Anda setelah sang istri bersusah payah memasaknya?.

Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Dalam hidup berumah tangga, berbagi tugas dan tanggungjawab antara suami dan istri adalah suatu yang niscaya. Sebagai umat Muhammad, tentu sudah selayaknya kita berkaca pada apa yang pernah dilakukan oleh beliau. 

Di zaman Rasulullah Muhammad SAW pun, hal-hal kecil yang selayaknya menjadi pekerjaan perempuan, juga pernah dilakukan oleh Rasul. Dalam buku Muhammad Sebagai Suami dan Ayah, disitu dikisahkan Muhammad sering membantu istrinya Aisyah dalam pekerjaan rumah tangga. 

Sebagai istri, kepatuhan Aisyah kepada Nabi Muhammad sungguh besar. Dia selalu melayani Rasul dengan baik. Meskipun ada seorang pelayan di rumahnya, Asiyah senantiasa melakukan pekerjaannya sendiri. Dia biasa menggiling dan membuat pasta dari tepung. Memasak makanan dan merapikan tempat tidur. (HR Bukhari dan Syama'il). 

Aisyah juga sering membawakan air untuk Nabi berwudhu serta mencucikan pakaian beliau. 

Ketika Nabi memberikan unta untuk kurban, Aisyah sendiri yang membuatkan kalung bunga untuk kurban Nabi itu (HR Bukhari).  Ketika Nabi tidur, Aisyah meletakkan siwak atau sikat gigi yang terbuat dari akar lengkap dengan air untuk berkumur di dekat ranjang Nabi (HR Ahmad). Aisyah juga membersihkan siwak tersebut untuk menghilang kotoran yang melekat (HR Abu Dawud)

Di lain pihak, Rasul pun tidak segan-segan turun tangan membantu. Menurut Aisyah seperti diriwayatkan Bukhari, Nabi tak segang menyibukkan diri dalam pekerjaan rumah tangga. Misalnya menjahit baju yang sobek, menyapu lantai, memerah susu kambing, belanja ke pasar, membetulkan sepatu dan kantung air yang rusak, menambat dan memberi makan hewannya. Bahkan Rasul pernah memasak tepung bersama-sama dengan pelayannya. 

Beliau juga memperbaiki dinding rumahnya sendiri. Rasul tak suka dibantu orang lain dalam urusan ini.

Mendidik Anak Tentang Makanan Halal Sejak Kecil

Makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, haruslah makanan yang halal dan baik. Hal ini telah dicontohkan Rasullulah bahkan kepada anak kecil. 

Mengutip prinsip perilaku Nabi terhadap anak yang ditulis dalam kitab Muhammad Sebagai Suami dan Ayah, dikisahkan suatu hari seseorang mengirimkan kurma ketika Nabi berada di masjid. Kemudian salah seorang cucu beliau yang masih kecil datang. Dia mengambil kurma itu dan memakannya. 

Namun karena asal kurma itu tidak jelas, Nabi pun mengambil kurma yang ada dalam mulut cucunya. Beliau tidak mau anak cucunya memakan sesuatu yang haram. Walaupun tidak berdosa hukumnya jika cucunya yang masih kecil memakan kurma tadi. 

Namun beliau mendidik demikian sedari kecil agar kelak saat dewasa mereka terbiasa dengan hal yang baik dan halal.

yy/republika