pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Liberalisme Dorong Homoseks

http://4.bp.blogspot.com/_sITt1I9PG2s/TC6hesoRf4I/AAAAAAAABKo/Z1aCJfWG56g/s1600/homoseksual.jpgSesuai dengan fitrahnya, mestinya seorang laki-laki tertarik pada perempuan, dan perempuan tertarik pada laki-laki. Kalau kemudian ada laki-laki atau perempuan tertarik pada sesama jenisnya berarti ini merupakan penyimpangan seksual. Lantas apa yang membuat mereka menyimpang? Bagaimana cara mengatasinya?

Seorang perempuan mengaku jadi lesbian lantaran trauma karena sebelumnya sering dikecewakan laki-laki, pacarnya terdahulu. Komentar Anda?
Bisa jadi pengalaman traumatis akan menjadi pemicu seseorang menjadi lesbian, tapi semestinya sebagai seorang yang berakal, pengalaman traumatis tidak dijadikan alasan untuk melakukan perilaku seks yang menyimpang. Sikap yang seharusnya muncul adalah tidak mengingat-ingat pengalaman traumatisnya, tapi bersikap optimis untuk membangun kehidupan rumah tangga atau kehidupan seksual yang benar.  

Bagaimana pendapat Anda dengan pernyataan seorang waria, bahwa sesungguhnya jiwanya adalah perempuan yang terjebak ke dalam fisik laki-laki?
Dalam persoalan ini  mesti dilihat lebih cermat. Apa yang menyebabkan jiwanya merasa perempuan. Apakah memang ada kelainan secara fisiologis yang berkaitan dengan alat kelaminnya, atau karena pola asuh keluarga, lingkungan, pengalaman buruk dan lain-lain yang membuat mereka merasa lebih nyaman menjadi perempuan?

Jika memang ada kelainan secara fisik, tampak seperti laki-laki tetapi sesungguhnya dia berkelamin dalam perempuan, maka kegelisahan itu dapat dimaklumi, dan kemudian mesti dipertegas/disempurnakan identitasnya sebagai perempuan.

Tetapi jika bukan karena itu maka harus dikembalikan identitasnya sebagai laki-laki, sehingga tidak akan ada seorang laki-laki yang berlagak seperti perempuan. Bukankah Rasulullah SAW telah melaknat seorang laki-laki yang menyerupai perempuan? Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan: Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang meniru wanita dan wanita yang meniru laki-laki.

Adakah penyimpangan orientasi seks tersebut karena faktor genetis, bawaan sejak lahir?

Memang ada yang mengatakan bahwa gay atau lesbi karena pengaruh genetis. Tapi pernyataan ini tidak didukung oleh fakta. Buktinya, mereka yang gay atau lesbi terlahir dari orang tua yang normal. Sebaliknya, mereka yang gay dan lesbi, bila kelak kemudian punya anak melalui perkawinan normal ternyata juga tidak otomatis anaknya seperti mereka.

Lantas apa yang membuat orang menjadi homoseks?

Faktor dari luar. Secara teoritis, dorongan seksual akan muncul jika ada rangsangan dari luar. Ada dua jenis rangsangan, yaitu pikiran dan realitas yang tampak.
Pemikiran liberal telah mendorong orang untuk mencoba melakukan homoseks. Menurut paham ini, orang bebas melakukan apa saja termasuk dalam memenuhi dorongan seksualnya. Tolok ukurnya memang sangat bersifat materialistik. Karenanya, aktivitas homoseksual ditempatkan sebatas sebagai cara memuaskan hasrat seksual.

Padahal, seksualitas itu merupakan nikmat yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada manusia untuk melanjutkan keturunan. Bila mereka “kawin sejenis”, harus diberi tanda petik karena sesungguhnya tidak pernah ada kawin sejenis, bagaimana akan lahir keturunan? Selain itu, alasan hak asasi manusia (HAM) sering kali dijadikan sebagai dalih. Selama pemikiran-pemikiran ini terus dikembangkan di tengah masyarakat atas nama kebebasan pribadi dan berekspresi, maka penyimpangan seksual tersebut akan terus terjadi.

Bisakah kehidupan seks mereka menjadi normal?

Insya Allah bisa, kalau memang ada niatan yang sungguh-sungguh dan keinginan yang kuat untuk berubah.

Caranya?
Diawali dengan mengubah cara pandang tentang seks dan bagaimana pemenuhannya. Bahwa seks bukanlah hanya untuk menyalurkan hasrat seksual  semata dan mencari kepuasan semu, tetapi seksualitas merupakan jalan rasional untuk melanjutkan keturunan, di samping tentu saja akan didapat kenikmatan.

Munculnya kesadaran untuk berubah harus diikuti dengan usaha yang keras untuk mengendalikan ketika muncul keinginan untuk melakukan hubungan dengan yang sejenis. Dan yang juga sangat penting adalah keluar dari komunitas dan lingkungan yang seperti itu.

Ada yang latah sebelum mereka benar-benar kembali hidup normal, mereka diberi penyuluhan untuk menggunakan kondom dan fasilitas kesehatan lainnya agar terhindar dari HIV/AIDS. Pendapat Anda?
Ini sebuah solusi yang tidak akan menyelesaikan masalah. Memang tidak mudah untuk mengembalikan kehidupan seks mereka menjadi normal. Tapi kalau itu solusinya bukankah sama saja artinya dengan memfasilitasi mereka untuk terus beraktivitas seksual menyimpang dan memperbanyak korban?
Kapan mau selesai? Di lapangan, pengalaman homoseksual justru terbukti menjadi salah satu faktor penyebab berkembangnya homoseksualitas. Jadi ibarat rantai, ini akan terus tumbuh sehingga perlu tindakan tegas untuk memutusnya.

Lantas solusi apa yang tepat untuk menyembuhkan mereka dan tidak menular kepada yang lainnya?

Berikan mereka pemahaman untuk sungguh-sungguh bertobat. Juga diingatkan bahwa pelaku homoseks, gay atau lesbian akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Dalam Islam, baik yang menghomoi atau yang dihomoi keduanya dihukum mati. Bukan malah difasilitasi dengan berbagai sarana.
Juga, ada yang mesti kita perhatikan dalam memberikan solusi. Selain memperbaiki, mencegah adalah solusi yang lebih tepat.

Caranya?

Pertama, jauhkan anak dari berbagai rangsangan. Hasrat untuk melakukan homoseksual akan muncul bila terdapat rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk mencoba atau melakukannya. Seperti misalnya film, gambar-gambar, internet atau VCD.

Kedua, menguatkan identitas diri sebagai anak laki-laki atau perempuan. Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, sesungguhnya sudah sangat jelas tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga. 

Islam menghendaki agar laki-laki memiliki kepribadian maskulin dan perempuan memiliki kepribadian feminin. Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan, memiliki peran yang besar dalam memperkuat identitas anak sebagai laki-laki atau perempuan. 

Ketiga, mengatur pergaulan sejenis. Di samping telah memberikan aturan bagaimana bergaul dengan lawan jenis, Islam juga memberikan aturan hubungan sejenis. Terkait masalah ini, dalam hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda:
”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut.”

Laki-laki yang melihat aurat laki-laki ataupun perempuan yang melihat aurat sesama perempuan akan terangsang. Hal ini dapat menjadi pemicu penyimpangan seksual. Apalagi kalau tidur dalam satu selimut.

Keempat, secara sistemik menghilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk melakukan homoseksual. Saat ini banyak beredar VCD terkait dengan homoseksual. Bahkan tayangan-tayangan di televisi juga seringkali menghadirkan sosok laki-laki yang menyerupai perempuan. Di dunia maya juga berkeliaran promosi tentang itu. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang tegas dari pemerintah agar masyarakat terjaga dan anak-anak tidak terdorong untuk mencoba.

mediaumat.com

Perbincangan wartawan Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dengan psikolog Zulia Ilmawati.