fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


4 Syawal 1442  |  Minggu 16 Mei 2021

Kiat Menumbuhkan Fithrah Bijaksana

Kiat Menumbuhkan Fithrah Bijaksana ALLAH SWT menjadikan postur tubuh manusia seimbang, pula memiliki makna bahwa keistimewaan manusia istimewa adalah kecenderungan/kecondongannya kepada sikap keseimbangan dan keadilan serta kebijaksanaan. Karena itu, Allah SWT berfirman dalam Surat Al Infithar “Fa’adalak”.

Tetapi, karena kurang dirawat dengan taqarrub, tabattul, tajarrud dan tawajjuh ilallah, demikian pula karena penjajahan lingkungan social (fudhulul mukhalathah), betapa hari ini kita menyaksikan sifat yang mulia yang melekat dalam diri manusia tersebut tergerus oleh sifat susulan yaitu perbuatan dzalim (menganiaya orang lain). Sehingga yang menonjol pada diri manusia itu bengis dan kejam serta kehilangan rasa kemanusiaan. Seperti para pemimpin yang mempertahankan status quo.

Demi kekuasaan, mereka tidak segan-segan mengorbankan dan memperalat rakyat kecil. Demi ideologi, dia rele mangadu-domba yang lain dengan cara-cara kejam.

Fakta sehari-hari kita bisa menyaksikan, betapa penganiayaan antar sesama manusia sudah demikian parah. Misalnya suami tega menganiaya istrinya. Anak durhaka kepada orangtua. Pembantu mengkhianati majikannya. Pejabat membohongi yang memilihnya dll.

Dari sinilah akan mendatangkan kemurkaan-Nya di dunia ini.

Berikut ini adalah kiat sukses memelihara dan menumbuhkan sifat bijaksana.

1. Menyadari bahwa perbuatan zhalim akan kembali kepada pelakunya di dunia ini. Tidak menunggu balasan di akhirat.

"Dua perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia ini adalah berbuat zhalim (al-Baghyu) dan mendurhakai orang tua (‘uququl walidaini)." (al-Hadits).

2. Menyadari betapa mahalnya karunia kehidupan yang dianugerahkan kepada kita sehingga bisa menikmati berbagai fasilitas kehidupan adalah atas kebijaksanaan Allah SWT.

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?." (Al Baqarah (2) : 28).

3. Mensyukuri karunia dan kebijaksanan-Nya menjadikan kita makhluk yang paling mulia/terhormat dibandingkan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia akan memuliakan dirinya dan menghormati orang lain.

"Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan [untuk mencari kehidupan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Al Isra (17) : 70).

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At Tin (95) : 4).

4. Menghayati kebijaksanan-Nya, alangkah mahalnya karunia akal yang berfungsi untuk memahami ayat-ayat-Nya yang berupa diri sendiri, ayat Al-Quran dan ayat yang digelar di alam semesta. Betapa sedihnya jika sudah diberi karunia hidup, tetapi bukan manusia, dan manusia tetapi akalnya mengalami disfungsi. Manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak.

"Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai." (Al Araf (7) : 179).

5. Menyadari keadilan-Nya, betapa karunia Islam merupakan nikmat yang paling mahal dalam kehidupan. Dengannya ruhaninya akan ditumbuh kembangkan secara maksimal.

"Pada hari ini telah KU- sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. "(Al Maidah (5) : 3).

Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam. Tiada lagi yang aku banggakan selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu ?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang, ”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian dari keluarga Muhammad saw.

6. Menyadari atas kebijaksanaan-Nya, bahwa orang beriman itu bagian dari keluarga besar kaum muslimin di seluruh dunia. Sehingga akan memiliki kebanggaan korps, berdasarkan keyakinan dan keimanan bukan ikatan yang bersifat lahiriyah yang semu. Dari sini akan memperoleh pelajaran yang amat mahal, ukhuwwah islamiyah. Sebuah persaudaran melebihi dari ikatan nasab.

"Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujurat (49) : 10).

7. Bercermin pada sikap keadilan dan kebijaksanaan para pendahulu kita yang shalih.

"Kebenaran Islam berada pada lisan Umar bin Khathab." (al-Hadits)

8. Menyadari kehadiran kitab suci, atas rahmat dan kebijaksanaan-Nya

"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (Al Isra (17) : 82).

9. Menyadari terutusnya Rasulullah SAW adalah semata-mata kebijaksanaan-Nya.

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al Jumuah (62) : 2).

10. Menyadari penciptaan manusia, bumi dan seisinya dengan kebijaksanaan, bukan sekedar permainan.

"Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia." (Al-Mukminun (23) : 115-116).

oleh: Shalih Hasyim
hidayatullah.com