16 Rajab 1444  |  Selasa 07 Februari 2023

basmalah.png

4 Sahabat Nabi Muhammad Saw yang Berdakwah ke Yaman

4 Sahabat Nabi Muhammad Saw yang Berdakwah ke Yaman

Fiqhislam.com - Sahabat Nabi Muhammad Saw yang berdakwah ke Yaman lumayan banyak. Di antara mereka adalah Khalid bin Walid , Ali bin Abi Thalib, Barra bin Azib, dan Muadz bin Jabal.

Muhammad Fethullah Gulen dalam bukunya berjudul "Cahaya Abadi Muhammad Saw Kebanggaan Umat Manusia" menyebut Rasulullah Saw menjalankan dakwah secara baik dan teratur.

Menurut cendekiawan Muslim Turki ini, strategi Rasulullah ketika salah seorang sahabat merasa tidak cocok dengan perjuangan dakwah di satu tempat, atau mendapat kendala dalam berdakwah di satu tempat maka Rasulullah akan mengirimkan sahabat lain untuk menggantikan. "Metode seperti itu ternyata mendatangkan dampak positif bagi dakwah Islam," ujar Fethullah Gulen.

Pada mulanya, Khalid bin Walid diutus Rasulullah untuk berdakwah ke Yaman. Nyatanya, penduduk Yaman kurang bisa menerima Khalid. Rasulullah pun mengirim Ali bin Abi Thalib bersama Barra bin Azib.

Menariknya ketika Ali dan Barra hampir tiba di tujuan, orang-orang Yaman sudah keluar menyambut kedatangan mereka. Setelah itu Ali bin Abi Thalib pun mengimami sholat dan setelahnya membacakan surat Rasulullah. Seketika itu juga seluruh penduduk Yaman masuk Islam.

Sedangkan setelah kedatangan Ali, Rasulullah memindahkan Khalid bin Walid untuk berdakwah ke daerah Najran yang pada saat itu didiami kaum Nasrani.

Ali bin Abi Thalib ternyata tepat ditempatkan di Yaman. Sebab Ali memiliki sejarah panjang dengan Rasulullah dan juga karena dia adalah ayah dari Hasan dan Husain serta menjadi puncak silsilah dari semua quthb, para muqarrabun, wali-wali, dan para ashfiya yang akan terus muncul hingga hari kiamat.

Hingga hari ini, kebenaran dan hakikat tetap berada di bawah naungan mereka. "Ali berhasil menaklukkan hati penduduk Yaman dengan kata-katanya yang terkenal mampu meluluhkan siapa pun yang mendengarnya," jelas Gulen.

Hingga kemudian saat peristiwa penaklukan Makkah terjadi orang-orang Yaman yang telah memeluk Islam datang ke Makkah untuk bergabung dengan umat Islam lainnya.

Selanjutnya, Muadz bin Jabal juga sempat diutus oleh Nabi Muhammad Saw ke wilayah Yaman. Selain berdakwah, di sana Muadz bin Jabal bertugas sebagai penguasa, hakim agung, sekaligus menjadi pengajar dan pengumpul zakat.

Prof Muhammad Quraish Shihab dalam buku "Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw" menjelaskan, misi Muadz bin Jabal ke Yaman diiringi dengan surat-surat kepercayaan dari Nabi Muhammad. Yang salah satunya berisi: “Aku mengutus kepadamu, wahai penduduk Yaman, keluargaku yang terbaik.”

Sebelum Muadz berangkat ke Yaman pun, Nabi seolah tengah menguji kelayakan kepadanya dengan beberapa pertanyaan.

Nabi berkata kepada Muadz: “Bagaimana engkau bersikap jika diajukan kepadamu permintaan menetapkan hukum?”.

Muadz pun menjawab: “Aku memutuskan berdasarkan Kitabullah,”. Nabi bertanya lagi: “Kalau engkau tak temukan dalam Kitabullah?”.

Muadz menjawab: “Dengan sunah Rasulullah.”

Nabi kembali bertanya: “Fa in lam yakun fi sunnati Rasulillah?”

Muadz dengan tegas menjawab: “Aku mencurahkan daya sekuat mungkin / berijtihad.”

Mendengar jawaban mantap seperti itu dari Muadz, Nabi kemudian bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah menuju apa yang diridhai oleh Rasulullah.”

Nabi kemudian berpesan kepada Muadz saat ia akan menunggangi kendaraannya untuk menuju ke Yaman: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, ikutkanlah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan menghapusnya dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik."

Nabi berpesan juga kepada Muadz: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Jika engkau menemui mereka, maka ajaklah mereka untuk menyaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."

"Jika mereka mematuhimu dalam hal tersebut, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sholat lima kali sehari semalam." "

Bila mereka mematuhimu dalam hal tersebut maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka atas zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang miskin mereka."

"Jika mereka mematuhimu dalam hal tersebut, maka jangan sekali-kali engkau mengambil harta mereka yang paling baik. Berhati-hatilah menyangkut doa orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”

Ketika Muadz naik ke tunggangannya dan kakinya telah menyentuh pelana unta, Nabi sekali lagi mengingatkan: “Bisa jadi engkau tidak lagi akan menemuiku setelah tahun ini. Semoga engkau dapat mampir di masjidku ini dan di kuburku.”. [yy/miftah h yusufpati/sindonews]