fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ulama Pencinta Ilmu

Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ulama Pencinta Ilmu

Fiqhislam.com - Nama Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah adalah salah satu dari beberapa ulama Islam Sunni terkenal di era ini. Ia dikenal di sebagian besar dunia Islam, mulai dari Brunei hingga ke Amerika Utara terutama atas prestasi luar biasa dalam Hadis dan Hukum Islam (syariah).

Sosok Syekh Abdul Fattah merupakan ulama Suriah yang dikenal karena kiprah akademiknya. Dilahirkan di kota Aleppo, Suriah pada 9 Mei 1917, ia memiliki nama kecil Abdul Fattah bin Muhammad bin Bashir bin Hasan Abu Ghuddah atau Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Ayahnya, Muhammad bin Bashir dikenal baik karena ketaatan dan keshalehannya dalam Islam. Silsilah keluarga Abdul Fattah berasal dari keturunan sahabat Rasulullah, Khalid bin Walid Radiallahu Anhu. Sejak kecil hingga remaja, Abdul Fattah telah dididik dengan baik dalam agama Islam, ia pun mengenyam pendidikan menengah di Madrasah Khesrevia, Institut Islam Arab Aleppo.

Setelah selesai di sekolah menengah pada 1942, Abdul Fattah melanjutkan pendidikan tingginya ke Unversitas Al Azhar Kairo. Ia mengambil berbagai disiplin ilmu mulai dari Syariah, mempelajari psikologi dan prinsip pendidikan pada 1944 hingga 1948, dan pendidikan bahasa arab hingga lulus dari Universitas Al Azhar Kairo pada 1950.

Selama perjalanannya menuntut ilmu ia bertemu beberapa ulama besar yang terkenal di Kairo saat itu. Di antaranya, Syaikh Muhammad Al-Khidr Husain, Syaikh Abdul Majid Daraz, Syaikh Abdul Halim Mahmud, Syaikh Mahmud Shaltut.

Dia juga bertemu Syekh Mustafa Sabri, Syaikh Muhammad Zahid Al-Kauthari, dan pemimpin Ikhwanul Muslimin, Imam Hasan Al-Banna yang kemudian menginspirasinya untuk aktif dalam organisasi ini dan kemudian mengembangkannya di Suriah. Sedangkan di Suriah ia sempat berguru pada Syaikh Raghib Al-Tabakh, Syekh Ahmad Al-Zarqa, Syekh Eisa Bayanuni, Syaikh Muhammad Al-Hakeem, Syekh Asad Abji Syaikh Ahmad Kurdi, Syekh Najib Sirajuddin dan Syaikh Mustafa Al-Zarqa.

Dari berbagai guru yang ia temui itulah ia kemudian memantapkan perjalanan dakwah dan pengajarannya ke berbagai dunia Islam, mulai negara-negara Arab dan Turki, India, Pakistan, Indonesia, Malaysia hingga Brunei.

Ia bertemu dan belajar dari ulama negara-negara ini, serta mereka manfaat dari pengetahuannya. Sebagian besar hasil paling banyak dari kunjungannya ke India dan Pakistan, ia mampu membawa banyak pengetahuan anak benua India ke Saudi.

Dia menghasilkan banyak kitab dan tulisan serta mengajarkannya kepada kalangan sarjana muslim di berbagai negara.
Di antara para ulama terkemuka bahwa dia bertemu di negara-negara adalah Syaikh Muhammad Syafi'i 'Mufti Pakistan, Mufti Atiqur Rahman Delhi, Syaikh Mohammad Zakaria Kandahlawi, Syaikh Muhammad Elias Kandahlawi, Syekh Mohammad Yusuf Banwori, Syaikh Muhammad Latif, Syekh Abul Wafa Al Afghani, Syekh Abul A'la Maududi dan Syekh Abul Hasan Ali Nadwi.

Setelah ia menyelesaikan studinya di Mesir, Syaikh Abu Ghuddah kembali ke Suriah pada tahun 1951 di mana ia terpilih sebagai guru terkemuka dalam bidang Pendidikan Islam.

Dia mengajarkan Studi Islam selama sebelas tahun di Aleppo, menulis buku teks dalam bidang ini dan juga diajarkan di madrasah Sha'baniyah, sekolah syari'ah yang mengkhususkan diri dalam memproduksi ulama dan orator.

Dia kemudian dipindahkan ke College of Syariah di Universitas Damaskus, tempat ia mengajar Usul Al-Fiqh, Hanafi Fiqh dan Fikih Perbandingan selama tiga tahun.

Setelah itu, ia membuat semacam ensiklopedia Fikih Islam di Perguruan Tinggi syariah di Damaskus selama dua tahun, di mana ia juga menyelesaikan Kamus Fiqh Al-Muhalla Ibnu Hazm yang telah dimulai oleh beberapa rekan-rekannya. Ini diproduksi oleh Universitas Damaskus dalam dua volume besar.

Pada pertengahan 1960-an, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menggalang ulama di Suriah dan membawa persatuan di kalangan umat Islam. Di Masjid Kheservia, ribuan orang akan berkumpul setiap minggunya.

Ia mengangkat isu-isu kontemporer dan digunakan untuk berbicara melawan gelombang sekularisme. Pada tahun 1962, Syaikh terpilih sebagai anggota Parlemen untuk kota Aleppo, meskipun perlawanan sengit ia hadapi dari pesaing lainnya. Dia menggunakan posisi ini untuk membantu dan mempromosikan kepentingan Islam dan umat Islam di Suriah.

Syekh Abdul Fattah pun sempat dipenjarakan pada tahun 1966 dan menghabiskan sebelas bulan di penjara dengan ulama lainnya sebelum dibebaskan pada Juni 1967. Setelah dibebaskan, ia kembali ke Aleppo dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Arab Saudi.

Disana, ia mengajar di Universitas Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh selama tahun 1965-1988. Ia juga membantu mengembangkan dan kursus rencana dan program di Universitas. Ia menyibukkan dengan aktivitas akademik diundang sebagai Profesor tamu di Universitas Islam Um Durman di Sudan.

Dia juga berpartisipasi dalam berbagai seminar dan konferensi dan juga bekerja untuk jangka waktu di King Saud University di Riyadh. Dalam prestasi ilmiahnya, para sarjana Muslim menominasikan Syaikh Abdul Fattah pada tahun 1995 untuk jadiah dari Sultan Brunei dalam bidang Studi Islam.

Hadiah itu ditawarkan kepadanya oleh Oxford Centre for studi Islam dalam sebuah upacara di London. Perilakunya merupakan contoh akhlak mulia karakter seorang Ulama dan Mujahid handal yang memiliki pengetahuan dan kecerdasannya yang luas.

Ia sangat peduli dan mencintai keutuhan umat dalam Islam. Dia menunjukkan wawasan dalam genggamannya masalah melanda umat Islam.

Syekh Abdul Fattah dikenal sopan dan lembut dalam sambutannya dan menyentuh hati orang-orang yang ia berkomunikasi dengan. Dia cerdas, dan cepat dalam menanggapi dan hati orang-orang akan berbalik ke arahnya dengan cinta, hormat dan kepercayaan. Pandangannya jauh dari ekstremisme dan tidak akan reaktif atau mudah terprovokasi.

Dia akan selalu menilai hal dalam terang dan mengajar murid-muridnya untuk melakukan hal yang sama. Hingga kemudian Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddag meninggal pada Ahad 9 Syawal 1417/16 Februari 1997.

Ia dimakamkan di Jannat al-Baqi` di Madinat al-Munawwarah. Ribuaan umat Islam memanjatkan doa semoga Allah memberikan rahmat-Nya padanya, dan memberinya ganjaran terbaik atas amal ibadahnya. [yy/republika]