14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Mohammad Natsir, Moral Obligasi Seorang Pemimpin

Mohammad Natsir, Moral Obligasi Seorang Pemimpin

Fiqhislam.com - Mohammad Natsir yang diangkat menjadi perdana menteri oleh Presiden Soekarno, sesudah adanya mosi integral mengakibatkan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jasa Natsir adalah menyatukan Indonesia, yang mula-mula berbentuk federal menjadi negara kesatuan seperti sekarang. Jabatan sebagai perdana menteri, hanya berlangsung satu tahun, dan sesudah adanya perbedaan pendapat dengan Presiden Soekarno , tak lama Natsir mengambil keputusan mengundurkan diri dari jabatannya.

Ketika Natsir meninggalkan jabatannya sebagai perdana menteri, dan kemudian menyerahkannya kembali kepada Presiden Soekarno, terjadi sebuah peristiwa, di mana Natsir meninggalkan Istana, bukan diantar dengan naik kendaraan dinas ke rumahnya di Jalan Jawa (HOS Tjokroaminoto), tetapi Natsir menumpang sepeda ontel, yang dinaiki supirnya menuju rumahnya.

Ketika, Natsir diangkat menjadi perdana menteri oleh Soekarno, tidak memiliki rumah yang mewah, tetapi ia tinggal di sebuah gang yang sempit di daerah Kramat, dan sesudah diangkat menjadi perdana menteri, dibelikan rumah oleh sahabatnya, yang tidak terlalu besar, yang selanjutnya ditempatinya sampai meninggalnya. Rumah di Jalan Jawa itu, sekarang sudah roboh depannya, dan tak terurus lagi.

Sesudah Natsir dibebaskan dari penjara Keagungan di Jakarta, tahun 1968, dan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan memimpinnya, sampai ia meninggal. Suatu kali Mohammad Natsir pergi ke Bandung, bersama dengan stafnya, tujuannya menyerahkan bantuan dana untuk pembangunan dua masjid di kota itu. Ketika berangkat ke Bandung, mereka belum makan pagi (sarapan). Padahal, Natsir membawa dua tas, isinya uang yang akan diserahkan kepada panitia pembangunan masjid.

Salah seorang stafnya mengajak makan pagi, sesudah mereka tiba di Bandung. Dengan menggunakan uang bantuan yang ada, dan akan diganti. Tetapi Natsir menolak ajakan itu. Natsir mengatakan, bahwa uang yang dibawa itu,bukanlah uang milik pribadinya. Sehingga, tidak jadi untuk makan pagi, saat mereka sudah ada di kota Bandung. Mereka akhirnya makan pagi di rumah KH.Rusyad Nurdin, Ketua DDII Jawa Barat.

Natsir lebih mengutamakan kepentingan umat, dibandingkan dengan kepentingan pribadinya. Saat dia sudah menjadi Ketua DDII, datang seorang yang sudah tua ke rumahnya, menceritakan tentang masjid yang dikelolanya akan digusur. Dengan penuh perhatian ia memperhatikan perihal keluhan dari seorang yang datang pagi-pagi ke rumahnya. Natsir memhubungi seorang staf walikota Jakarta pusat, sampai kemudian masjid itu tidak jadi digusur.

Padahal, pagi itu, Natsir ada dua tamu yang penting, Dr.Amin Rais dan Dubes Kuwait, yang ingin menemuinya, tetapi dengan seksama ia menemui tamunya, seorang pengurus masjid di Tanbah Abang. Bahkan, Natsir ketika tamunya meninggalkan rumahnya, ia mengantarkan sampai ke pintu gerbang, dan memberikan ongkos untuk pulang ke Tanah Abang.

Prawoto Mangkusasmito, yang pernah menjadi wakil perdana menteri, sehari-hari menggunakan sarung dan kopiah, dan kemana-mana juga menggunakan pakaian seperti itu. Ia meninggal jauh dari kota Jakarta, di ujung pulau Jawa, hampir dekat dengan Banyuwangi, saat memberikan arahan kepada para pengurus Organisasi Tani Islam (STII). Dengan segala ketulusannya ditemui para pengurus petani di ujung Pulau Jawa itu.

Inilah moral obligasi (kewajiban moral) seorang pemimpin Islam, yang sangat penting, dan akan menjadi suri tauladan. Betapa kehidupannya penuh dengan tanggung jawab, barangkali mereka adalah orang terakhir, yang akan menikmati kehidupan. Bukan mereka dahulu yang menikmati kehidupan, sementara itu, rakyat dan umat masih berada dalam kehidupan yang sangat miskin. Mereka tidak mau menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi.

Lebih jauh mengacu kepada generasi salaf. Misalnya, Abu Bakar Shiddiq, dan telah memberikan tauladan, yang sangat terpuji. Sewaktu ia memiliki kekayaan besar, ditanyakannya kepada dirinya sendiri : “Kenapa harus bersenang-senang dengan harta ini, sedangkan kaum muslimin menderita dalam kemiskinan? Apakah saya lebih baik dari mereka?”. Pertanyaan itu dijawabnya sendiri: “Tidak. Saya tidak lebih baik dari mereka, dan karena itu hendaklah kalian sama-sama menikmati kesenangan harta ini”, tukasnya.

Kesederhanaannya merupakan unsur terpenting dari kebesarannya. Kesaksian janda-janda tua yang telah menjadi janda akibat kematian suami mereka, atau gugur sebagai syuhada fi sabilillah. Dan, terdapat pula para anak-anak yatim. Maka, Abu Bakar r.a. biasa mengunjungi rumah-rumah para janda dan memerahkan susu domba mereka. Dikunjungi pula rumah-rumah anak-anak yatim buat mengolah dan memasakan makanan bagi mereka. Padahal, Abu Bakar adalah seorang Khalifah dan pengganti Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Begitu besar perhatiannya kepada orang-orang yang lemah, dan itu sebagai bentuk moral obligasi mereka.

yy/eramuslim.com