9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Hujjatul Islam: KH Abdul Wahab Hasbullah, Pemikir Progresif NU

Hujjatul Islam: KH Abdul Wahab Hasbullah, Pemikir Progresif NUFiqhislam.com - KH Abdul Wahab Hasbullah adalah salah satu ulama besar yang dimiliki Indonesia. Kiai Wahab merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), bersama dengan KH Hasyim Asy'ari dan KH Bisri Syansuri.

Ketokohan dan keilmuan yang dimilikinya, telah diakui sejumlah kalangan, apalagi di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Wahab merupakan pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dan membaginya dalam dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai upaya menyatukan dua generasi berbeda, yakni kalangan tua dan muda.

Tahun 1916, ia mendirikan organisasi Islam bernama Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Kemudian pada 1926, ia ditunjuk sebagai Ketua Tim Komite Hijaz yang dikirim ke Makkah untuk bertemu dengan Raja Saud (Arab Saudi), yang bermazhab Wahabi.

Ketika itu, gerakan Wahabi di Makkah berencana untuk menghancurkan berbagai situs Islam agar tidak menjadi 'berhala' bagi umat. Kiai Wahab meminta kebijakan Raja Saud untuk situs-situs Islam tidak dihancurkan. Tujuannya agar umat bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari situs-situs tersebut. Persoalan ini pula yang melandasi pemikiran KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan Nahdlatul Ulama tahun 1926.

Saat pendudukan Jepang di Indonesia, Kiai Wahab pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah). Dan ketika melawan Jepang ini, bersama pasukannya, Kiai Wahab berhasil membebaskan KH M Hasyim Asy'ari dari penjara.

Dan setelah Indonesia merdeka, pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang ini pernah pula menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), bersama dengan Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa.

Haus akan Ilmu
KH Wahab Hasbullah dilahirkan pada Maret 1888, di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dan wafat pada 29 Desember 1971. Ayahnya, Kiai Said, adalah pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sedangkan ibunya bernama Fatimah.

Semenjak kanak-kanak, Abdul Wahab dikenal kawan-kawannya sebagai pemimpin dalam segala permainan. Ia dididik ayahnya sendiri cara hidup seorang santri. Ia diajak shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajud.

Tak hanya itu, sang ayah juga membimbingnya untuk menghafalkan Juz Amma dan membaca Alquran dengan tartil dan fasih. Lalu ia dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil (tipis) dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari hingga yang tebal. Misalnya, Kitab Safinah An-Naja, Fath Al-Qarib, Fath Al-Mu'in, Fath Al-Wahab, Muhadzdzab dan Al-Majmu'. Ia juga belajar ilmu tauhid, tafsir, ulum Alquran, hadis, dan ulum al-hadis.

Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Sampai berusia 13 tahun, Abdul Wahab berada dalam asuhan langsung ayahnya.

Kemudian, ia menghabiskan masa remajanya dengan menimba ilmu di sejumlah pesantren. Ia pernah belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang. Ia juga pernah berguru kepada Syekh R Muhammad Kholil dari Bangkalan Madura dan KH M Hasyim Asy'ari, pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang.

Tak puas hanya belajar di pesantren-pesantren tersebut, pada usia sekitar 27 tahun, pemuda Abdul Wahab pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu. Di Tanah Suci itu, ia mukim selama lima tahun dan belajar pada Syekh Mahfudz At-Tirmasi (Termas, Pacitan) dan Syekh Al-Yamani. Setelah pulang ke Tanah Air, ia langsung diterima oleh umat Islam dan para ulama dengan penuh kebanggaan.

Tashwirul Afkar
Di kalangan pesantren, sosok KH Abdul Wahab Hasbullah dikenal sebagai seorang ulama yang berpandangan modern. Ia selalu menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagaman, terutama kebebasan berpikir dan berpendapat di kalangan umat Islam Indonesia.

Untuk itu, ia mendirikan surat kabar, yaitu Harian Umum Soeara Nahdlatul Oelama atau juga dikenal dengan Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

Kiai Wahab juga membentuk kelompok diskusi antarulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah, dan organisasi Islam lainnya, pada 1914 di Surabaya. Kelompok diskusi bentukan Kiai Wahab ini diberi nama Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran).

Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi, berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.

Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antartokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Dari posnya di Surabaya, kelompok ini menjalar hampir ke seluruh kota di Jawa Timur. Bahkan, gaungnya sampai ke daerah-daerah lain di seluruh Jawa.

republika.co.id