15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Ibnu Abbas: Berjuluk Juru Bicara Al-Quran dan Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah

Ibnu Abbas: Berjuluk Juru Bicara Al-Quran dan Nenek Moyang Dinasti Abbasiyah

Fiqhislam.com - Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib atau dikenal dengan Ibnu Abbas adalah nenek moyang Bani Abbasiyah . Beliau adalah sahabat Nabi terkemuka, lahir di Mekkah, tumbuh dan berkembang pada permulaan periode kenabian sehingga senantiasa berdampingan dengan Rasulullah dan banyak meriwayatkan hadits-hadits shahih dari beliau.

Syaikh Muhammad Al-Khudari dalam bukunya yang berjudul "Ad-Daulah Al-Abbasiyyah" menjelaskan beliau inilah yang kemudian menurunkan Dinasti Abbasiyah. Sebab saudara-saudaranya tidak memiliki keturunan yang masih bertahan hidup. Keturunan Abdullah bin Al-Abbas yang menjadi cikal bakal berdirinya Dinasti Abbasiyah berasal dari putranya, Ali bin Abdullah bin Al-Abbas.

Abdullah bin Al-Abbas' adalah putra kedua Al-Abbas bin Abdullah Muthallib, yang dilahirkan dua tahun sebelum Hijrah. Ketika Rasulullah wafat, Abdullah bin Abbas berusia tiga belas tahun. Rasulullah mencintai dan mendoakannya. Beliau berdoa, “Ya Allah, ajarkanlah tawil kepadanya.”

Abdullah bin Masud berkata, “Juru bicara Al-Qur'an adalah Ibnu Abbas”. Sedangkan Atha' berkata, “Orang-orang terbiasa mendatangi Ibnu Abbas untuk belajar syair dan nasab, dan mereka menemuinya pada hari-hari besar bangsa Arab dan hari-hari penting lainnya, dan banyak juga dari mereka yang belajar fikih dan ilmu pengetahuan lainnya darinya.

Syekh Muhammad Al-Khudari mengatakan Abdullah bin Al-Abbas termasuk orang yang paling memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan menafsirkannya, serta hukum-hukum agama dengan kelancaran berbicara, kefasihan berbahasa, dan mendalami materi yang dibicarakannya.

Umar bin Al-Khattab mencintainya dan menggolongkannya dalam kelompok sahabat senior dalam forum musyawarah khusus. Bahkan Umar banyak meminta fatwanya meskipun usianya masih muda.

Sedangkan Khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai Amirul Hajj (Pemimpin Haji) pada tahun 35 H. Tepatnya ketika Khalifah Utsman dijadikan tahanan rumah oleh kaum Khawarij.

Abdullah bin Abbas pun memimpin pelaksanaan ibadah haji musim itu. Ketika Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah, Abdullah bin Al-Abbas merupakan pendukung utama dan mengambil peran penting dalam berbagai peperangannya.

Ali bin Abi Thalib mengangkatnya sebagai gubernur Bashrah dan daerah sekitarnya yang berada di bawah naungannya. Abdullah bin Abbas melepaskan diri darinya pada akhir hidupnya dengan meninggalkan Bashrah menuju Mekkah dan menetap di Tha'if. Ada yang menyebutkan bahwa kepergian Abdullah bin Al-Abbas tersebut terjadi setelah pembunuhan Ali bin Abi Thalib.

Abdullah bin Al-Abbas terus menetap di Tha' if selama masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Muawiyah menghormati dan bersikap ramah kepadanya sebagaimana dilakukannya dengan Bani Hasyim lainnya. Abdullah bin Al-Abbas wafat pada tahun 68 H.

Beliau inilah yang kemudian menurunkan Dinasti Abbasiyah. Sebab saudara-saudaranya tidak memiliki keturunan yang masih bertahan hidup. Keturunan Abdullah bin Al-Abbas yang menjadi cikal bakal berdirinya Dinasti Abbasiyah berasal dari putranya, Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]