29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Mujahidah: Zubaidah binti Ja'far, Perempuan di Balik Kegemilangan Abbasiyah

Fiqhislam.com - Di belakang pria hebat, pastilah ada sosok wanita kuat. Begitulah peran permaisuri dari khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun Al-Rashid. Sosok sang ratu, Zubaidah binti Ja'far, menjadi kesayangan rakyatnya karena selalu memerhatikan kebutuhan mereka.

Mujahidah: Zubaidah binti Ja'far, Perempuan di Balik Kegemilangan AbbasiyahKarakter kuat perempuan bernama lahir Amatul Aziz binti Ja’far bin Abi Ja’far Al-Mansour ini sangat berpengaruh pada pemerintahan dinasti terbesar Islam, Abbasiyah. Panggilan Zubaidah diberikan sang kakek karena kulitnya yang putih bersih serta sikapnya yang lembut.

Zubaidah yang terlahir tahun 765 Masehi menikah dengan Sultan Harun pada 781 Masehi atau saat pemerintahan dinasti di bawah Al-Mahdi. Rasa cinta kasihnya tercurah utuh pada sang suami. Tapi, dia tak hanya sekadar mendampingi kegiatan kerajaan, acapkali Sultan Harun meminta pendapat istrinya.

Nyatanya, Zubaidah tak hanya dikaruniai paras rupawan. Kelebihannya terletak pada wawasannya, sikap bijaksana, dan berjiwa pemberani. Bakat seni juga dimiliki sang permaisuri. Dia menulis banyak puisi yang diikutkan dalam pagelaran seni. Keunikan isi puisinya menahbiskannya sebagai salah satu patron seni di Irak.

Dukungannya cukup besar untuk regenerasi bidang seni dan keilmuan. Pasalnya, Zubaidah menawarkan hadiah sejumlah uang bagi para sastrawan dan ilmuwan dunia yang mau mengembangkan karyanya di Kota Baghdad.

Saking akrabnya dengan para sastrawan, di kemudian hari muncul anggapan jika kisah 1001 Malam terinspirasi dari kehidupan Sultan Harun dan Zubaidah. Padahal tokoh utamanya, Syahrazad, terlahir dari kehidupan pribadi ibu Sultan Harun, Al-Khayzarun.

Selain mencintai seni, tampuk pemerintahan yang dipegang sang suami turut menjadi perhatian Zubaidah. Sultan Harun memang selalu meminta pertimbangan Zubaidah dalam setiap pengambilan keputusan. Alasannya, keputusan Zubaidah selalu tepat dan bijak.

Sejarawan Ibnu Al-Jawzi mencatat, saat sang sultan berkutat dengan urusan ketentaraan, dia menyerahkan kekuasaan untuk membuat kebijakan pada Zubaidah secara penuh.

Setelah urusan kebijakan tuntas, Zubaidah tak segan-segan mendampingi Sultan Harun di medan tempur. Kemudian mereka berdua memungkasinya dengan menunaikan ibadah haji bersama.

Rasa sosial yang tinggi melekat kuat pada kepribadian Zubaidah. Saat menjalani prosesi haji, dia melihat para jamaah lainnya kesulitan mendapatkan air. Dia langsung memerintahkan para insinyur untuk membuat jalan sepanjang 900 mil dan terowongan sepanjang 10 mil dalam proyek bernama Sungai Zubaidah.

Kedua prasana tersebut agar memudahkan distribusi air bersih dari Baghdad menuju Makkah. Jalan tersebut kemudian dikenal dengan nama Jalur Zubaidah.

Prakarsa pembangunan Zubaidah sepanjang jalur tersebut meliputi fasilitas lainnya, seperti toko kerajinan, khan (penginapan gratis bagi jamaah haji), dan beberapa masjid. Sekitar 54 juta dinar digelontorkan untuk menyelesaikan proyek ini.

Sultan Harun selalu menganggap Zubaidah sebagai mitra yang tak pernah berkhianat. Sejarawan Al-Khatib pun tegas menuturkan dalam bukunya “Sejarah Baghdad” dan Ibnu Jeed salut pada kontribusi pemikiran Zubaidah. Sang permasuri mempunyai visi luas merancang masa depan tahta kerajaan.

Peran tersebut terabaikan saat sang suami hendak menunjuk penggantinya. Sultan Harun memilih anak sulungnya, Al-Ma'mun. Sementara Zubaidah mengusulkan putranya, Muhammad Al-Amin yang berusia enam tahun lebih muda dari Al- Ma'mun.

Pertimbangan Harun memilih si sulung karena telah bergelar sarjana dan menunjukkan sikap bijaksana. Zubaidah menolak calon tersebut karena pertimbangan garis keturunan ibu Al-Ma'mun dari kalangan budak Persia. Meski begitu, Zubaidah tetap menjaga sikap dan kasihnya pada Al-Ma'mun yang dirawatnya sejak ibu kandungnya meninggal.

Klan Dinasti Barmaki mendukung pilihan Harun. Pemimpinnya, Ja’far bin Yahya Al-Barmaki yang saudara sepersusuan dengan Sultan Harun sebenarnya berniat jahat. Dengan alasan latar belakang yang sama dengan Al-Ma'mun, sejatinya Al-Barmaki ingin menguasai Persia seutuhnya dari tangan Dinasti Abbasiyah.

Kekacauan memuncak jelang akhir pemerintahan Abbasiyah. Sultan Harun akhirnya menunjuk Al-Amin sebagai calon penggantinya.

Namun, dia juga menunjuk Al-Ma'mun sebagai penggantinya pula. Putra ketiganya, Al-Qasim pun mendapat giliran berikutnya.

Konflik internal pun tak terelakkan. Setelah sehari kematian Sultan Harun, Al-Amin dinobatkan menjadi sultan baru. Perdebatan di dalam istana memuncak menjadi perang saudara. Al-Amin terbunuh. Saudaranya, Al-Ma'mun yang dibantu keturunan Al-Barmaki naik singgasana.

Zubaidah pun diliputi kesedihan mendalam saat mengetahui tragedi ini. “Ibu mengucapkan selamat atas pelantikanmu sebagai khalifah yang baru. Ibu telah kehilangan putra kandung, tapi Ibu lega karena kedudukannya digantikan anak ibu lainnya,” tulis Zubaidah pada Al-Ma'mun.

Kehalusan budi Zubaidah ternyata dibalas kebaikan pula oleh Al-Ma'mun. Sepanjang 32 tahun pemerintahannya, dia ikut merawat Zubaidah dan menghormatinya seperti ibu kandungnya sendiri. Nasihat dan masukan dari Zubaidah juga menjadi prioritas Al-Ma'mun sebelum memutuskan kebijakan pemerintahan.

Sepanjang hidupnya, Zubaidah dikenal sebagai penganut sufisme aliran Imam Ismaili. Bahkan untuk menghormati sang pimpinan sufi, Muhammad Bbin Ismail, dia membangun sebuah gedung besar yang dikelilingi taman di Baghdad sebagai tempat ritualnya. Dia pun memutuskan untuk keluar dari istana, kemudian mempekerjakan 10 orang pekerja untuk mengurus programnya bersama sang imam.

republika.co.id