fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Syekh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Pertama Arab Saudi

Syekh Muhammad bin Ibrahim, Mufti Pertama Arab Saudi

Fiqhislam.com - Dalam usia remaja, syekh menderita kebutaan, namun ia kemudian menjadi guru segala bidang ilmu agama. Karena kefakihannya dalam ilmu agama, ia kemudian menjadi mufti atau penasihat agung pertama di Arab Saudi.

Dialah Syekh Muhammad bin Ibrahim bin Abdul Lathif bin Abdur Rah-man bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi.

Syekh lahir di Riyadh pada 1311 Hijriyah atau 1893 Masehi. Keluarganya merupakan klan dari Bani Tamim, salah satu bani dari suku Quraisy. Alu Syaikh merupakan keluarga dia yang sebagian besar anggota keluarganya merupakan ulama. Maka, Syekh Muhammad pun dibesarkan dalam didikan Islam yang sangat kental.

Sang ayah, Syekh Ibrahim bin Abdul Lathif, merupakan seorang qadhi (hakim) di Kota Riyadh. Paman-pamannya pun ulama yang terkenal, salah satunya, yakni Syekh Abdullah bin Abdul Lathif, imam masjid agung di Riyadh. Jabatan imam ini kemudian diemban Syekh Muhammad saat pamannya meninggal. Sejak itulah dia mengajarkan ilmu agama di sana dengan jumlah murid yang sangat banyak. Alhasil, hingga kini masjid tersebut terkenal dengan nama Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim.

Dari ayah dan pamannya, Syekh Muhammad kecil mulai mempelajari agama. Pada usia tujuh tahun, dia memahami ilmu tajwid. Kemudian, pada usia 11 tahun, dia menghafal seluruh Alquran. Setelah hafiz, barulah dia menghafal kitab-kitab ulama. Saat menginjak remaja, yakni pada usia 16 tahun, syekh mengalami sakit mata hingga menyebabkan kebutaan. Namun, buta mata tidaklah menjadikannya buta hati. Dia makin bersemangat menuntut ilmu.

Sejak itu, ia mulai gigih mempelajari beragam bidang ilmu agama. Apalagi, pada 1329 Hijriyah, sang ayah, sang guru utama, meninggal dunia. Maka, syekh pun mulai mencari guru yang ahli di bidangnya. Dalam kondisi buta, ia gigih mendatangi sang guru dan belajar padanya. Semua bidang ilmu agama dia pelajari.

Setelah ilmunya mantap, syekh dianggap para gurunya layak untuk mengajar. Apalagi, setelah sang paman meninggal dan menyerahkan tugas sebagai imam masjid di Riyadh. Syekh pun memulai aktivitasnya untuk berdakwah. Padahal, saat itu syekh masih sangat muda, yaitu 28 tahun. Majelis ilmunya di masjid tersebut didatangi banyak penuntut ilmu. Semakin hari jumlah mereka makin bertambah. Pada usia 34 tahun, syekh diutus oleh raja Saudi kala itu, Malik Abdul Aziz, untuk berdakwah di kawasan Ghathghath.

Dia sangat gigih dalam berdakwah. Acap kali musim haji tiba, dia mengumpulkan para dai dari seluruh penjuru dunia untuk mengetahui perkembangan dakwah mereka. Tak sedikit nasihat yang dia sampaikan untuk para dai tersebut.

Tak hanya itu, syekh pun kemudian menjadi pengusung dakwah di Afrika, juga menjadi pembina beragam pusat studi Islam di Eropa. Para dai dari seluruh penjuru dunia selalu meminta arahan untuk mengembangkan dakwah. Tak heran jika kemudian beberapa tahun sebelum meninggal, yakni pada 1384 H, syekh sempat mendirikan sebuah lembaga dakwah bernama Mu’assasah Dakwah Islamiyah.
 
Tak hanya sebagai pengajar dan juru dakwah, syekh pun menduduki jabatan penting sebagai mufti atau penasihat agung kerajaan pada 1311 Hijriyah atau 1893 Masehi. Inilah mufti pertama kerajaan. Syekh menjadi penasihat bagi dua periode raja, yakni Raja Abdul Aziz bin Ibrahim dan Raja Faisal bin Abdul Aziz. Dengan jabatan tersebut, dia memberikan fatwa terkait Muslimin yang kemudian dijalankan pihak kerajaan dan dipatuhi masyarakat.

Melihat banyaknya fatwa yang dibutuhkan masyarakat, syekh kemudian mendirikan Hai’ah Kibarul Ulama (Majelis Ulama Besar). Lembaga inilah yang hingga kini menjadi rujukan fatwa Muslimin di Saudi, bahkan seluruh dunia.

Kecerdasan syekh dalam ilmu agama makin dibutuhkan masyarakat. Ia kemudian menjadi kepala Dewan Riset Ilmu dan Fatwa Saudi, Darul Ifta’ atau al-Lajnah al-Ilmiyah wal Ifta’. Lembaga ini banyak menghasilkan karya penelitian yang bermanfaat. Syekh juga generasi awal saat ilmu agama mulai gigih dipelajari pemuda dan mulai gencar dibangun Saudi.

Ketika berdiri Universitas Islam Madinah dan Sekolah Tinggi Kehakiman Arab Saudi, syekh menjadi rektor pertama bagi dua perguruan tinggi tersebut. Selain itu, kefakihannya dalam beragama pun juga diakui ulama dunia. Ia kemudian diamanahi menjadi ketua Majelis Tinggi Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islami).

Setelah banyak berkiprah bagi Muslimin, Syekh Muhammad menghembuskan napas terakhir saat Ramadhan. Dia wafat di Riyadh pada Kamis, 24 Ramadhan 1389 Hijriyah, atau bertepatan dengan 1969 Masehi. Dia mewariskan banyak ilmu pada murid-muridnya yang sebagian besar menjadi ulama penerus dakwah di seluruh penjuru dunia.

Dia pun banyak menghasilkan karya yang hingga kini masih menjadi rujukan para ulama. Di antaranya, Majmu’ Fatawa dan Rasailnya dalam 13 jilid, al-Jawabul Wadhih al-Mustaqim, Tahkimul Qawanin, Nashihatul Ikhwan fir Raddi ala Ibni Hamdan, al-Jawabul Mustaqim fi Naqli Maqami Ibrahim, Tuhfatul Huffazh wa Marji’ul Qudhat wal Muftiin wal Wu’azh, dan Nazham Ilmi ‘ala Muqaddimah al-Inshaf.

Oleh Afriza Hanifa
yy/republika.co.id