29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Tiba-Tiba Menjadi Islam

Tiba-Tiba Menjadi Islam

Fiqhislam.com - Warisan. Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan agama, keyakinan, dan kepercayaan yang kita anut selama ini.

Umat beragama apapun itu. Tak terkecuali mayoritas Umat Islam. Bahkan hal tersebut sudah kita warisi semenjak lahir.

Jadi, ketika kita lahir, tiba-tiba kita sudah menjadi Islam. Hinggalah kita beranjak besar, remaja, dewasa, tua, hingga kematian menjemput.

Semenjak lahir, disematkanlah berbagai macam simbol untuk menegaskan keislaman kita. Diazankan, diiqamatkan, diberi nama ala Islam yang cenderung kearab-araban, diaqiqahkan, dikhitan, dan entah apalagi hal serupa yang tak lain untuk menegaskan, bahwa kita ini Islam.

Tiba-tiba kita sudah menjadi Islam, dengan berbagai macam pernak-perniknya. Mengucap dua kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada rasul, percaya kepada kitabullah, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qadha’ dan qadar. Yang kadang kita pun tak mengerti, apa sebenarnya maksud semua itu akan diri dan kedirian kita. Yang pasti, kita harus meyakini dan menjalankannya, tanpa ada satupun ruang untuk kita bertanya akan semua hal tersebut.

Jika kita menyakini semua hal tersebut dengan seyakin-yakinnya, maka kita akan masuk surga, yaitu suatu tempat yang sangat indah yang disediakan oleh Tuhan untuk hamba-Nya yang beriman dan beramal shaleh. Namun sebaliknya, jika kita tidak meyakininya, maka kita akan dimasukkan ke dalam suatu tempat penyiksaan yang bernama neraka.

Setiap kita di waktu kecil mungkin pernah membayangkan pedihnya penyiksaan di neraka, dan nikmatnya surga. Jika kita teringat akan pedihnya siksa di neraka, maka kecutlah hati ini. Sehingga dengan begitu segala gerak-gerik kita pun terdorong oleh rasa takut. Panas, menggelegak, dan entah apa lagi bayangan ketakutan itu susul-menyusul mendera kita. Bayangan itu meneror pada saat masa-masa belia kita. Sepertinya tak ada lagi pemahaman yang selain itu. Melalui sekolah, melalui lingkungan, melalui bacaan, semuanya seakan-akan menggiring kita kepada pemahaman tersebut, semuanya seakan-akan bersatu dan bekerjasama untuk menakut-nakuti masa kecil kita.

Sebaliknya, kita juga diiming-imingi oleh manis, nikmat, dan indahnya surga. Yang satu ini tentunya tak begitu saja didapatkan. Berbuatlah kebaikan, taatlah kepada Tuhan, selalulah beramal shaleh, berbaktilah kepada kedua orang tua, pokoknya … bla…bla…bla…, kita dikondisikan untuk selalu menjadi orang baik, taat, serta rajin beramal-ibadah. Surga adalah hadiah dari kebaikan, ketaatan, dan amal ibadah yang kita lakukan itu.

Seperti inilah wajah keberagamaan kita. Seperti inilah keislaman yang kita anut. Agama ini kita warisi. Kebanyakan dari kita mungkin tidak memeluk dan menjalankannya secara sadar dan tulus. Atau secara sederhananya bahwa kita menganut agama ini dan juga menjalankan ritual-ritual di dalamnya lebih secara terpaksa. Kita mungkin jarang yang mau mengakui hal ini. Atau mungkin mayoritas kita meyakini adanya larangan mempertanyakan yang seperti ini.

Hanafi Mohan | thenafi.wordpress.com