22 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 27 Nopember 2021

basmalah.png

Jangan Terkecoh dengan Kuantitas

Jangan Terkecoh dengan Kuantitas

Fiqhislam.com - Fenomena mengejar kuantitas semakin kontras. Ingin disebut paling kaya, memburu kuantitas harta dengan cara apa saja. Tidak peduli halal-haram. Ingin disebut hafiz Alquran, mengejar kuantitas hafalan, terserah setelah itu hafalan tersebut diabaikan lagi.

Ingin viral dan banyak penggemarnya, tidak peduli viralnya dengan cara maksiat. Ingin disebut ahli puasa, ahli shalat, ahli sedekah, tidak peduli dengan kualitas semua itu. Ingin banyak pendukung, dengan segala cara, entah dengan menyogok dan sebagainya. Tentu, penyakit membesar-besarkan kuantitas ini akan merusak perbaikan terhadap kualitas.

Allah SWT sejak dini telah mengingatkan “alhaakumut takatsur (telah membuat kamu lalai karena perlombaan mengejar kemegahan)." (QS at-Takatsur: 1). Kemegahan maksudnya sibuk memburu kuantitas. Adapun lalai maksudnya, terlena dengan kuantitas sehingga lupa kepada kualitas.

Pada saat surah ini diturunkan, di Kota Madinah sedang terjadi dua kabilah dari kalangan Anshar yang saling membesarkan-besarkan jumlah tokoh, yaitu kabilah Banil Harits dan Banil Haritsah.

Salah satunya mengatakan, di tengah kami ada tokoh besar dan berpengaruh namanya fulan bin fulan. Satunya menjawab, kami juga ada tokoh lebih terkenal dan lebih berpengaruh, namanya fulan bin fulan.

Setelah kehabisan jumlah tokoh, mereka lalu bersaing di depan kuburan, menghitung jumlah tokoh yang sudah mati dan mereka anggap berasal dari kabilahnya.

Itulah mengapa Allah SWT menegaskan ancaman yang sangat mengerikan terhadap para pemburu kuantitas. Perhatikan ayat berikutnya dalam surah yang sama, (QS at-Takatsur: 3-7), seakan Allah mengatakan: “Jangan lakukan itu, kamu akan tahu akibatnya. Sekali lagi jangan lakukan itu, kamu pasti akan tahu akibatnya. Nanti kalau kamu mengetahui akibat perbuatanmu dengan yakin, kamu pasti akan menyesal. Tahukan kamu apa akibatnya, itulah neraka jahim, dan kamu akan berada di dalamnya."

Jelas sekali akibat amal yang hanya mengandalkan kuantitas, yaitu masuk neraka. Boleh jadi seseorang sedekahnya banyak, shalatnya hebat, dakwahnya luar biasa, tetapi karena tidak ikhlas, semua itu ditolak oleh Allah SWT.

Ikhlas adalah kualitas penting dalam amal “ikhlashul amal”. Ditambah pelaksanaannya harus benar dan maksimal “itqaanul amal”. Bagi Allah tidak ada masalah jumlah yang sedikit asalkan berkualitas. Alangkah lebih hebat jika dipadukan antara kuantitas dan kualitas.

Karena itu Allah memenangkan pasukan Badar sekalipun lebih sedikit hanya 313 orang dibanding pasukan kafir 1.000 orang. Allah berfirman “kam min fiatin qaliilatin ghalabat fiatan katsiratan biiznillah” (berapa banyak jumlah yang sedikit bisa mengalahkan jumlah yang banyak karena izin Allah) (QS al-Baqarah: 246). [yy/republika]

Oleh Ustaz DR. Amir Faishol Fath, Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

 


 

Tags: Ikhlas | Dermawan | Tamak | Kikir | Bakhil