15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Implementasi Aliran Mu'tazilah | Khawarij | Murji'ah

Implementasi Aliran Mu'tazilah | Khawarij | Murji'ah

Fiqhislam.com - Dunia adalah tempat di mana kita dilahirkan dan dimatikan. Di mana setiap umat manusia pasti mempunyai pegangan-pegangan agama atau aliran-aliran yang dipercayainya, agar kelak ketika sudah dunia kiamat manusia bisa masuk surga (kenikmatan) lewat pegangan agama masing-masing, salah satunya adalah agama Islam.

Islam adalah agama terbesar di seluruh dunia, hampir di setiap negara mayoritas penduduknya ada yang memeluk agama Islam. Akan tetapi, Islam di seluruh dunia mengalami perpecahan menjadi 73 golongan (aliran).

Tidak sedikit yang berpendapat riwayat dari hadits di bawah ini lemah. Namun, Imam Tarmidzi menyatakan hadits di bawah ini Shahih ;

,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam telah bersabda; Kaum Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan kamu Nasrani akan terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Tarmidzi).

Salah satu perpecahan Islam dari 73 golongan Islam adalah aliran/golongan Mi'tazilah. Apa sih aliran Mi’tazilah itu?.

Golongan Mu’tazilah adalah aliran teologi yang hanya mengedepankan akal, sehingga mereka mendapatkan julukan “kaum rasionalis Islam. Mu’tazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan lebih filosofis dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang dibawa om h kaum Khawarij dan Murji’ah .

Pokok-pokok yang diajarkan dari kaum mu’tazilah sendiri yaitu jaran yang dikenal dengan al-usul al-khamsa (5 dasar) yang harus menjadi pegangan dan identitas sebagai kaum Mu’tazilah.

Kelima dasar ajaran Mu’tazilah ini merupakan suatu pengembangan yang dilakukan oleh pengikut-pengikut terhadap Wasit bin Atha’, setelah melalui proses modifikasi terhadap unsur lain maka lahirlah ajaran dasar yang baku bagi aliran Mu’tazilah yang di kenal dengan al-Usul al-Khamsah.

Wasil bin Atha’ sebagai pendiri aliran ini telah meletakkan tiga ajarannya sebagai dasar pertama dalam bidang teologi, yaitu Nafi al-Sifat, Qadar, dan Al-Manzilah bain al-Manzilatain.

Dua ajaran di antara warisan Wasit bin Atha' yaitu al-Tauhid, sebagai materi intinya adalah penjagaan Sifat-sifat Allah (Bagi al-Sifat) dan Al-Manzilah bain Al-Manzilatain dengan topik pembahasannya adalah status orang yang telah berbuat dosa besar.

Mu’tazilah adalah sebuah sakte yang mulai berkembang di awal abad kedua Hijriyah. Sakte ini di turunkan dan diajarkan oleh Washil bin Atha', seorang murid dari al-Hasan Basri yang memilih menyimpang dari ajaran Gurunya.

Di kemudian hari, sakte yang ia dirikan dijuluki dengan sekte Mu’tazilah yang diambilkan dari lafadz “i’tazal” (menyendiri/menyimpang) karena telah menyimpang dari paham-paham mayoritas pada mayoritas Islam.

Di zaman sekarang ini, sudah banyak aliran-aliran yang mengatasnakan Islam. Mereka beranggapan bahwa dirinya adalah golongan-golongan yang paling benar dan golongan yang akan masuk Islam.

Kita sebagai generasi-generasi penerus bangsa ini, jangan sampai mudah tertipu oleh argumentasi mereka. Kuatkan Tauhid dan Iman kita, teruslah mencari ilmu dan mengaji pada Ulama. Karena kita akan lebih bisa mengenal diri kita sendiri, dan kita juga akan mengenal Tuhan kita. Wallahu A'lam. [yy/republika]

Oleh Rizal Bilhakiki

 

Implementasi Aliran Mu'tazilah | Khawarij | Murji'ah

Fiqhislam.com - Dunia adalah tempat di mana kita dilahirkan dan dimatikan. Di mana setiap umat manusia pasti mempunyai pegangan-pegangan agama atau aliran-aliran yang dipercayainya, agar kelak ketika sudah dunia kiamat manusia bisa masuk surga (kenikmatan) lewat pegangan agama masing-masing, salah satunya adalah agama Islam.

Islam adalah agama terbesar di seluruh dunia, hampir di setiap negara mayoritas penduduknya ada yang memeluk agama Islam. Akan tetapi, Islam di seluruh dunia mengalami perpecahan menjadi 73 golongan (aliran).

Tidak sedikit yang berpendapat riwayat dari hadits di bawah ini lemah. Namun, Imam Tarmidzi menyatakan hadits di bawah ini Shahih ;

,عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam telah bersabda; Kaum Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan kamu Nasrani akan terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” (HR. Tarmidzi).

Salah satu perpecahan Islam dari 73 golongan Islam adalah aliran/golongan Mi'tazilah. Apa sih aliran Mi’tazilah itu?.

Golongan Mu’tazilah adalah aliran teologi yang hanya mengedepankan akal, sehingga mereka mendapatkan julukan “kaum rasionalis Islam. Mu’tazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan lebih filosofis dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang dibawa om h kaum Khawarij dan Murji’ah .

Pokok-pokok yang diajarkan dari kaum mu’tazilah sendiri yaitu jaran yang dikenal dengan al-usul al-khamsa (5 dasar) yang harus menjadi pegangan dan identitas sebagai kaum Mu’tazilah.

Kelima dasar ajaran Mu’tazilah ini merupakan suatu pengembangan yang dilakukan oleh pengikut-pengikut terhadap Wasit bin Atha’, setelah melalui proses modifikasi terhadap unsur lain maka lahirlah ajaran dasar yang baku bagi aliran Mu’tazilah yang di kenal dengan al-Usul al-Khamsah.

Wasil bin Atha’ sebagai pendiri aliran ini telah meletakkan tiga ajarannya sebagai dasar pertama dalam bidang teologi, yaitu Nafi al-Sifat, Qadar, dan Al-Manzilah bain al-Manzilatain.

Dua ajaran di antara warisan Wasit bin Atha' yaitu al-Tauhid, sebagai materi intinya adalah penjagaan Sifat-sifat Allah (Bagi al-Sifat) dan Al-Manzilah bain Al-Manzilatain dengan topik pembahasannya adalah status orang yang telah berbuat dosa besar.

Mu’tazilah adalah sebuah sakte yang mulai berkembang di awal abad kedua Hijriyah. Sakte ini di turunkan dan diajarkan oleh Washil bin Atha', seorang murid dari al-Hasan Basri yang memilih menyimpang dari ajaran Gurunya.

Di kemudian hari, sakte yang ia dirikan dijuluki dengan sekte Mu’tazilah yang diambilkan dari lafadz “i’tazal” (menyendiri/menyimpang) karena telah menyimpang dari paham-paham mayoritas pada mayoritas Islam.

Di zaman sekarang ini, sudah banyak aliran-aliran yang mengatasnakan Islam. Mereka beranggapan bahwa dirinya adalah golongan-golongan yang paling benar dan golongan yang akan masuk Islam.

Kita sebagai generasi-generasi penerus bangsa ini, jangan sampai mudah tertipu oleh argumentasi mereka. Kuatkan Tauhid dan Iman kita, teruslah mencari ilmu dan mengaji pada Ulama. Karena kita akan lebih bisa mengenal diri kita sendiri, dan kita juga akan mengenal Tuhan kita. Wallahu A'lam. [yy/republika]

Oleh Rizal Bilhakiki

 

Khawarij

Kesesatan Akidah Khawarij


Fiqhislam.com - Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizahullah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu yang berbuntutnya terbunuhnya beliau.Kemudian dimasa kepimimpinan Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, keadaan mereka semakin memburuk, bahkan mereka mengkafirkan beliau serta para Khulafaur Rasyidin, sebab inilah para sahabat tidak menyetujui mahzab mereka. Dan mereka menghukumi siapa saja yang menyelisihi pandangan mereka sebagai kafir. Bahkan mereka juga mengkafirkan orang-orang pilihan yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lamhatun ‘anil Firaqidh Dhallah, hlm. 31)

Cikal bakal mereka sudah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari sahabat nabi Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “ketika kami berada disisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membagi-bagikan hasil rampasan perang, datanglah Dzul Khuwaisirah dari Bani Tamim, kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak adil.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Biarkan ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka. Mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari ramiyyah. Kemudian dilihat rishaf nya (tempat masuknya nashl pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat qudzadz nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) juga tidak didapati pula bekasnya. Anak panah tersebut benar-benar dengan cepat melewati lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang. Mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin.

Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi pula bahwa Ali bi Abu Thalib radhiallahu ‘anhu memerintahkan untuk mencari seorang laki-laki (yang disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantara mayat-mayat mereka) dan ditemukanlah ia lalu dibawa (ke hadapan Ali radhiallahu ‘anhu). Aku benar-benar melihatnya sesuai ciri-ciri yang disifati oleh Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Imam Muslim).

Asy-Syihristani rahimahullah berkata, “Siapa saja yang memberontak dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang sudah disepakati, maka ia termasuk golongan Khawarij (seorang Khawarij), baik muncul di masa al-Khulafa ar-Rasyidin maupun masa tabi’in, dan kepada pemimpin muslim yang sudah sah.” (al-Milal wan Nihal, hlm 114)

Kenapa Disebut Khawarij?

Al Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dinamakan Khawarij karena keluarnya mereka dari kaum muslimin. Dikatakan pula mereka kerluar dari jalan (manhaj) kaum muslim.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Dinamakan khawarij dikarenakan keluarnya mereka keluar dari din (agama) dan keluarnya mereka dari ajaran orang terbaik dari kaum muslimin.” (Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari, 12/296)

Mereka juga disebut dengan sebutan al-Haruriyyah dikarenakan mereka dahulu tinggal di Harura yaitu sebuah daerah di Irak Kota Kufah, dan menjadikannya sebagai tempat untuk memerangi Ahlul ‘Adl (para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). (al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 7/145)

Disebut juga dengan al-Maariqh (yang keluar), karena banyaknya hadits-hadits yang menerangkan tentang keluarnya mereka dari agama. Disebut juga al-Muhakkimah, karena sering mengulangi kata-kata Laa Hukma Illa Lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ‘azza wa jalla), suatu yang haq namun dimaukan dengan kebatilan. Disebut an-Nawashib, berlebihannya mereka dalam menyatakan permusuhan kepada Ali bin Abu Thalib radiallahu ‘anhu. (Firaq Mu’ashirah, 1/68-69)

Cara Mereka Bermazhab?

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, mahzab mereka itu tidak berpegang pada As Sunnah wal Jamaah, tidak mau menaati pemimpin (kaum muslim), berkeyakinan memberontak adalah bagian dari agama. Karena hal ini mereka menyelisihi apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu menaati pemerintah (dalam hal kebaikan (ma’ruf) dan tidak menyelisihi syariat) dan menyelisihi yang telah diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla, seperti dalam firmannya :

أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

Taatilah Allah dan taatilah Rasul nya, serta Ulil Amri (pemimpin) diantara kalian.” (an Nisa : 59)

Allah ‘azza wa jalla dan Nabi nya shallallhu ‘alaihi wa sallam menjadikan ketaatan kepada pemimpin sebagai dari agama. Khawarij menyatakan bahwa pelaku dosa besar telah dihukum kafir, tidak ada ampunan bagi dosanya, dan mereka kekal di dalam neraka. Ini sangat bertentangan dengan Al Qur’an. (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka yakin atas kafirnya Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu serta para pengikutnya. Mereka yakin atas sahnya kepemimpinan Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu sebelum akhirnya mereka juga mengkafirkannya, dan kelompok yang melawan Ali radhiallahu ‘anhu di perang Jamal juga dikafirkannya. (Farhul Bari, 12/296)

Al-Hafitzh rahimahullah juga berkata, “Mereka yang tidak berkeyakinan atau sependapat dengan akidah mereka, maka ia kafir, maka halal darah, harta serta keluarga mereka. (Fathul Bari).

Apakah Khawarij Kafir?

Kafirnya kaum Khawarij masih diperselisihkan oleh kalangan ulama. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian ulama Ahlus Sunnah berpendapat, bahwa kaum Khawarij tersebut adalah orang-orang fasiq dan hukum dalam Islam berlaku untuk mereka. Hal ini dikarenakan bahwa mereka masih mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu melaksanakan rukun Islam. Mereka hanya di hukumi fasiq, karena mereka mengkafirkan kaum-kaum muslimin berdasarkan penafsiran yang salah, yang pada akhirnya mereka menyakini akan halalnya darah dan harta orang-orang yang bertentangan dengan keyakinan mereka, serta persaksian atas mereka dengan kekufuran dan kesyirikan.” (Fathul Bari)

Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Bahwa jumhur ulama berpendapat bahwasanya Khawarij tidak keluar dari Islam (masih muslim). (Fathul Bari).

Sebab kesesatan Khawarij

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Yang demikian itu disebabkan oleh kebodohan dari mereka sendiri tentang agama Islam, bersamaan dengan ‘wara (sikap kehati-hatian). Ibadah, dan kesungguhan mereka. Namun semua itu tidak berdasarkan ilmu yang benar, dan akhirnya menjadi masalah bagi mereka sendiri. (Lamhatun ‘Anil Firaqidn Dhallah, hlm. 35)

Mereka juga enggan untuk mengambil pemahaman para Salafush Shalih dalam memahami masalah-masalah agama, sehingga akhirnya terjerumuslah mereka kedalam kesesatan.

Anjuran untuk memerangi Khawarij

Ada beberapa anjuran-anjuran untuk memerangi mereka, meskipun tidak harus menggunakan pedang, tapi setidaknya kita harus menyelisihi pemikiran-pemikiran Khawarij. Adapun anjuran-anjuran tersebut diantaranya yaitu :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Maka jika kalian mendapati mereka (Khawarij), perangilah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Al-Imam Ibnu Hubairah rahimahullah berkata, “Memerangi Khawarij itu lebih utama daripada memerangi kaum musyrikin, memerangi mereka merupakan “modal Islam” (penjagaan kemurniaan) Islam, sedangkan memerangi orang musyrikin merupakan “pencarian laba”, dan penjagaan modal lebih utama daripada mencari laba” (Fathul Bari)

Nasihat dan Peringatan

Dimasa sekarang ini mazhab Khawarij terus saja berkembang dan merusak akidah umat. Oleh karena itu asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizahullah menasihatkan, “wajib untuk umat muslim di zaman sekarang ini, jika terbukti menemukan madzhab ini untuk segera mengatasinya dengan dakwah dan menjelaskan kepada umatnya tentang jahatnya mazhab tersebut. Jika mereka tidak menghiraukannya, hendaknya kaum muslimin memerangi mereka agar membentengi umat dari kesesatanya.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah). Wallahu a’lam bish-shawab. [yy/republika]

Oleh Bagus Tri Buwono Sudiharjo

 

Murji'ah

Mengenal Sekte Murji'ah


Fiqhislam.com - Murji'ah adalah isim fa'il dari kata al-irja', dan memiliki dua arti:

1. Berarti : pengakhiran.

2. Berarti : memberikan harapan.

Seperti yang dijelaskan Imam Ahmad, Murji'ah adalah: orang-orang yang menganggap :

1. keimanan itu hanya sebatas pengucapan dengan lisan saja, dan seluruh manusia tidak saling mengungguli dalam keimanan. Sehingga, keimanan mereka dengan keimanan para malaikat dan para nabi itu satu (sama dan setara).

2. Keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang.

3. Tidak ada istitsna’ (ucapan insya Allah) dalam hal keimanan

4. Dan siapa saja yang beriman dengan lisannya namun belum beramal, maka ia seorang mukmin yang hakiki

Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi mengatakan: “Murji'ah adalah mereka yang mempublikasikan perilaku dalam batas-batas iman.

Sebab Mereka dinamakan Murji'ah

Mereka disebut Murji'ah karena mereka mengecualikan perbuatan mereka dari ranah iman. Mereka mengatakan bahwa kemaksiatan tidak akan mempengaruhi keyakinan (seseorang), seperti halnya ketaatan tidak baik dalam kekufuran. Atas dasar itulah mereka selalu memberikan harapan kepada para pelaku maksiat berupa pahala dan ampunan dari Allah

ada juga yang mengatakan mereka disebut murji'ah karena selalu membawa harapan pahala dan ampunan bagi pelaku maksiat.

Perbedaan dasar antara Murji'ah dan Ahlussunnah

Perbedaan paling mendasar antara kelompok Ahlussunnah dan Murji'ah adalah soal definisi keimanan. Murji'ah mengatakan bahwa keimanan adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat disertai pembenaran dalam hati. Dan mereka tidak memasukkan amal perbuatan sebagai bagian dari keimanan.

Sedangkan Ahlus Sunnah mengatakan bahwa keimanan itu adalah:

1. Pengucapan dengan lisan. Yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.

2. Meyakini dengan hati.

3. Pengamalan dengan anggota badan.

4. Dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, serta berkurang dengan bermaksiat.

Kelompok-kelompok Murji'ah

Para ulama yang menulis kitab firaq (sekte-sekte dalam islam) mengklasifikasikan jenis-jenis Murji'ah. Berikut klasifikasi kelompok ini oleh Syaikhul Islam ibn Taimiyyah rahimahullah.

1. Kelompok yang mengatakan bahwa keimanan itu hanya sebatas apa yang ada di dalam hati, baik berupa pengetahuan dan keyakinan. Diantara mereka ada yang memasukkan amalan hati ke dalam cakupan iman, dan ada juga yang tidak seperti Jahm bin Shofwan dan para pengikutnya.

2. Kelompok yang mengatakan bahwa iman itu hanya sebatas ucapan dengan lisan. Dan ini merupakan perkataan Karromiyyah.

3. Kelompok yang mengatakan keimanan itu hanya pembenaran dengan hati dan ucapan (2 kalimat syahadat).Dan ini merupakan perkataan Murjiah fuqaha.

Tipe ketiga ini paling dekat dengan Ahlussunnah, dan golongan Murji'ah sering bekerja pada tipe ini.

Syekh Abdul Aziz Ar-Rojihi juga membagi murji'ah menjadi 4 golongan :

1. Jahmiyyah. Mereka mengatakan bahwa iman adalah mengenal Tuhan dari hati. Dan kufur adalah ketidaktahuan Tuhan di dalam hatinya. Mereka adalah orang-orang ekstrem; dan ini merupakan definisi yang paling rusak tentang iman

2. Karromiyah. Mereka mengatakan bahwa iman hanyalah sebatas ucapan dengan lisan. Jika seseorang mengucapkan syahadat dengan lisannya, maka meskipun dia berbohong dalam hatinya, dia adalah orang yang beriman.

3. Asy'ariyah dan Maturidiyah. Mereka mengatakan bahwa iman hanyalah pembenaran batin/hati

4. Murji'ah Fuqaha. Mereka mengatakan bahwa iman adalah tindakan dan pembelaan hati serta perkataan dengan lisan.

Dan penamaan murji’ah fuqaha dikarenakan mereka adalah dari kalangan para ahli fiqih dan ahli ibadah yang diakui oleh ahlussunnah

Diantara buah pemikiran kelompok murji'ah

seperti disebutkan sebelumnya, perbedaan mendasar antara Murji'ah dan Ahlussunnah terletak pada masalah keyakinan. Hal ini memunculkan banyak pandangan mereka yang berbeda dari Ahlussunnah. Diantaranya adalah:

1. Iman tidak bertambah atau berkurang. Sepuluh

2. Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengimani didalam hati, dianggap sebagai seorang mukmin yang sempurna imannya dan termasuk penghuni surga. Meskipun ia meninggalkan shalat, puasa, dan melakukan dosa-dosa besar lainnya.

3. Keimanan seorang mukmin sama dengan keimanan para malaikat dan para nabi. Karena keimanan itu tidak saling melebihi satu dengan yang lain.

4. Seseorang tidak boleh ber–istitsna dalam keimanan, yaitu mengatakan “saya mukmin insya Allah”. Karena itu adalah tanda keraguan tentang iman. Yaitu ashlul iman (pokok keimanan). Dan siapa yang ragu dalam keimanan, maka tidak bisa dikatakan sebagai seorang mukmin. Kecuali berkata demikian dalam rangka khawatir terjerumus dalam men-tazkiyah diri sendiri, yaitu khawatir dianggap merasa imannya sudah sempurna, maka boleh berkata demikian. Namun bukan dalam rangka meragukan ashlul iman (pokok keimanan). Wallahualam bissawab. [yy/republika]

Oleh Ahmad Alamul Huda