12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Berdzikir Setiap Saat adalah Perintah Allah SWT

Berdzikir Setiap Saat adalah Perintah Allah SWT

Fiqhislam.com - Dalam bahasa agama Islam, dzikir diartikan dengan menyebut atau mengingat Allah SWT. Dalam Surah An-Nisa' Ayat 103, Allah SWT memerintahkan Muslim untuk selalu berdzikir setiap saat dalam kondisi apapun.

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS An-Nisa': 103).

Dalam penjelasan Tafsir Ringkas Kementerian Agama, dijelaskan ayat yang lalu menggambarkan pelaksanaan shalat khauf dengan tata cara tersendiri dalam suasana perang. Pada ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan dzikir sesuai dengan kondisi mereka, berdiri, duduk, atau berbaring setelah selesai melakukan shalat.

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat yang dilakukan dalam keadaan takut tersebut, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya sesuai dengan kondisi dan kemampuan kamu, ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring, dan semoga dengan memperbanyak dzikir itu kamu mendapat pertolongan dari Allah.

Kemudian, apabila kamu telah merasa aman dari suasana menakutkan yang kamu alami yang menyebabkan kamu melaksanakannya dengan cara yang disebutkan di atas atau sudah kembali ke tempat asal kamu dari medan perang. Maka laksanakanlah shalat itu sebagaimana biasa sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan syariat, terpenuhi rukun dan syaratnya serta sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Sungguh, shalat yang kamu lakukan itu adalah kewajiban yang ditentukan batas-batas waktunya atas orang-orang yang beriman. Karena itu, setiap shalat dalam kondisi normal itu harus dilakukan pada waktu yang ditentukan untuknya, tidak bisa dimajukan atau dimundurkan.

Ayat ini dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, diperintahkan apabila shalat khauf itu selesai dikerjakan dengan cara yang telah diterangkan itu, maka hendaklah pasukan Islam itu mengingat Allah terus-menerus dalam segala keadaan.

Mereka harus menyebut nama Allah pada saat mereka berada dalam ancaman musuh. Allah akan menolong mereka selama mereka menolong agama Allah.

Hendaklah mereka mengucapkan tahmid dan takbir ketika berdiri di medan pertempuran, atau ketika duduk memanah musuh atau ketika berbaring karena luka-luka. Segala penderitaan lahir dan batin akan lenyap, jika jiwa sudah diisi penuh dengan dzikir kepada Allah, oleh karenanya kaum Muslimin harus terus ingat dan berdzikir kepada Allah baik dalam keadaan perang ataupun damai.

Orang Beriman Setiap Saat Berjuang

Orang beriman setiap saat berada di dalam perjuangan. Pada suatu saat dia berperang dengan musuh, pada saat yang lain dia bertempur melawan hawa nafsunya. Demikianlah berdzikir mengingat Allah diperintahkan setiap saat karena dia mendidik jiwa, membersihkan rohani dan menanamkan kebesaran Allah ke dalam hati.

Bila peperangan sudah usai, ketakutan sudah lenyap dan hati sudah tenteram hendaklah dilakukan shalat yang sempurna rukun dan syaratnya. Karena shalat adalah suatu kewajiban bagi orang Mukmin dan mereka wajib memelihara waktunya yang sudah ditetapkan.

Lima kali dalam sehari semalam umat Islam melakukan shalat agar dia selalu ingat kepada Allah, sehingga meniadakan kemungkinan terjerumus ke dalam kejahatan dan kesesatan. Bagi orang yang ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, waktu lima kali itu dipandang sedikit, maka dia menambah lagi dengan shalat sunah pada waktu-waktu yang telah ditentukan dalam agama. [yy/republika]