14 Muharram 1444  |  Jumat 12 Agustus 2022

basmalah.png

Uang Dapat Memenuhi Segala Keinginan, Tapi Belum Tentu Dapat Memberikan Kebahagiaan

Uang Dapat Memenuhi Segala Keinginan, Tapi Belum Tentu Dapat Memberikan Kebahagiaan

Fiqhislam.com -  Pada awalnya orang-orang yang lalu-lalang tak begitu memperhatikan seseorang yang tengah mondar-mandir di depan halaman rumahnya. Mereka menganggapnya, mungkin ia tengah mengukur-ukur sesuatu untuk rumahnya.

Namun, tatkala mereka kembali, orang tersebut masih terlihat mondar-mandir. Kali ini ia terkadang duduk sambil mengorek-orek tanah. Ia Nampak sedang mencari sesuatu.

Merasa penasaran dengan tingkahnya, salah seorang tetangganya yang kebetulan lewat bertanya. “Aku lihat dari tadi kamu berjalan mondar-mandir sambil merunduk, mengorek-orek tanah, apakah ada sesuatu yang sedang kamu cari?”

Ia menoleh kepada orang yang bertanya sambil berkata, “Benar sekali. Aku sedang mencari cincinku yang hilang.”

“Boleh aku membantu mencarinya?” Tanya Sang Tetangga menawarkan bantuan.

“Boleh.” Jawabnya singkat tanpa melihat lagi kepada orang yang menawarkan bantuan.

Sang Tetangga dengan sukarela membantunya. Tak lama kemudian, ada beberapa orang yang juga ikut membantu. Lama sekali mereka mencari cincin yang konon hilang tersebut, namun mereka tak menemukannnya.

Salah seorang tetangganya mencoba bertanya, “Memangnya, cincinmu itu hilangnya dimana?”

“Seingatku cincin tersebut jatuh di dalam rumah, bukan di halaman depan rumah.” Jawabnya dengan santai tanpa merasa bersalah.

Mendengar jawaban seperti itu, orang-orang langsung menghentikan pencarian. Sebagian ada yang marah, menggerutu, dan sebagian ada yang langsung pergi. Hanya beberapa orang yang tetap tinggal.

“Jika jatuhnya di dalam rumah, mengapa engkau mencarinya di halaman depan rumah?” Tanya salah seorang dari mereka agak kesal.

Sejenak ia menghela nafas. “Di dalam rumahku gelap sekali, makanya aku mencarinya di tempat yang terang. Siapa tahu cincinnya mau pindah ke tempat terang. Bukankah kalian juga sering melakukan yang seperti aku lakukan saat ini?” Ia balik bertanya kepada para tetangganya yang masih duduk-duduk di teras rumahnya.

“Maksud kamu? Kami belum pernah kehilangan cincin, dan melakukan seperti yang kamu lakukan?” Tanya mereka.

“Kalian belum perbah kehilangan cincin, tapi kalian pernah kehilangan cincin solusi dan kebahagiaan. Bukankah jika kalian menghadapi suatu masalah, kalian lebih suka mencari penyebabnya di luar diri kalian. Bukankah kalian sering menyalahkan pihak lain, dan menuduh orang lain sebagai biang keladi atas persoalan yang melilit kalian?”

“Bukankah kalian selalu mencari kebahagiaan di luar diri kalian? Kalian mencarinya dalam tumpukan uang, rumah dan kendaraan mewah. Padahal sumber masalah dan kebahagiaan itu ada di dalam diri kalian. Mengapa kalian mencarinya di luar diri kalian?”

Orang yang dibantu mencari cincin oleh tetangganya tersebut tiada lain adalah Abu Nawas. Nama aslinya Hasan Ibn Abd al Awwal ibn al Shabbah. Ia seorang penyair keturunan bangsa Arab. Syair-syairnya berisi sindiran atas perilaku dan problema hidup yang sering kita hadapi (Ahmad Sumarto, Tertawa Berasama Abu Nawas untuk Penyegar Jiwa).

Terdapat dua ibrah dari satire yang dilontarkan Abu Nawas. Pertama, ketika menghadapi suatu permasalahan, kita lebih senang menyalahkan orang lain daripada introspeksi akan kekurangan dan kelemahan diri.

Kita lebih senang menunjuk orang lain sebagai biang keladi daripada sungguh-sunguh mencari solusi. Padahal, ketika kita menunjuk orang lain hanya dengan satu jari, dengan telunjuk mengarah ke depan. Sementara tiga jari lainnya dilipat menunjuk ke arah diri kita, dan ibu jari dimasukkan diantara tiga jari yang dilipat.

Filosofinya, diri kita berpotensi melakukan tiga kesalahan sambil melipat segala kelemahan dan kesalahan diri, sementara orang yang kita tunjuk berbuat kesalahan, ia hanya berpotensi melakukan satu kesalahan. Dengan demikian, ketika menghadapi suatu persoalan, kita lebih baik melakukan introspeksi, melihat ke dalam diri sendiri, kemudian mencari solusi daripada menggerutu, dan mencari biang keladi.

Lain kisah, seekor ikan besar menyambar dan menelan Nabi Yunus a.s yang dilemparkan ke tengah lautan oleh seorang nakhoda kapal. Sang ikan membawanya ke kegelapan dasar samudera. Ketika peristiwa tersebut menimpanya, ia tidak menyalahkan orang lain, tapi ia introspeksi, melihat ke dalam dirinya sendiri. Ia mengakui segala kekeliruannya, dan memohon ampun kepada Allah.

Dan ingatlah ketika Zun Nun (Yunus) pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdo’a dalam keadaan yang sangat gelap (dalam perut ikan), ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang zalim’ “ (Q. S. Al-Anbiya : 87).

Kedua, dalam memandang kebahagiaan, kita selalu mengukurnya dengan unsur kebahagiaan yang ada di luar diri kita. Banyaknya jumlah uang, rumah dan kendaraan mewah, luasnya kebun yang dimiliki, dan harta lainnya. Padahal kebahagiaan sejati datangnya dari dalam diri sendiri. Kebahagiaan sejati itu ada di hati, bukan dalam tumpukan harta yang kita miliki.

Beberapa orang ilmuwan dan psikolog Amerika pernah melakukan penelitian. Benarkah uang dapat membeli kebahagiaan? Pada umumnya orang menganggap demikian, tapi dalam kenyataannya banyaknya uang yang dimiliki tidak menjamin kehidupan seseorang lebih bahagia. Benar, dengan setumpuk uang dapat memenuhi segala keinginan, tapi belum tentu dapat memberikan kebahagiaan. (David G. Myers, The American Paradox, Spiritual Hunger in Age of Plenty, 2000 : 126).

Tak sedikit orang yang semakin kaya semakin merasakan kesepian. Dirinya merasa terisolasi dari orang-orang di sekitarnya. Pengawalan selalu mengikuti kemanapun pergi, tinggal di rumah berpagar tinggi dengan penjagaan ketat dari sekuriti. Kegelisahan demi kegelisahan menjadi sahabat karibnya. Berbagai penyakit mulai setia menyelimuti diri. Uang yang berlimpah hanya dipakai membeli obat dari apotek sebagai penyambung hidup, pengganti makanan (Matthew D. Lieberman, Social, Why Our Brains Are Wired to Connect).

Ada pula orang superkaya yang selalu mencari ketenangan dan kebahagiaan ke tempat-tempat wisata, tidur di hotel mewah, makan di restoran mewah, namun kebahagiaan yang ia rasakan cuma sesaat. Setelah pulang dari tempat liburan, kegelisahan kembali menyelimuti. Uang dan harta berlimpah malah mengusir kebahagiaan dan ketenangan diri (Yongey Mingyur Rinpoche, Joy of Living Unlocking The Secret and Science of Happiness).

Selayaknya, kita melihat ke dalam diri, mencari solusi atas berbagai masalah yang tengah kita hadapi, seraya mengurangi mencari biang keladi dan menyalahkan orang lain tanpa kendali. Sementara semakin yakin akan ketentuan Allah, tatat beribadah, bersyukur, menerima segala sesuatu yang telah Allah berikan, dan senang berbagi dengan orang lain merupakan sumber-sumber kebahagiaan nan sejati.

Tulisan dua orang penulis kenamaan, Yitta Halderstam dan Judith Leventhal dalam karyanya Gifts from the Heart layak menjadi bahan renungan. Ada seorang hartawan yang pelit. Ia tak mau berbagi dengan siapapun. Orang lain tak boleh merasakan bahagia dengan mencicipi sebagian hartanya, sebab hartanya hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Secara finansial mungkin ia kaya, tapi secara spiritual ia sedang menuju kepada malapetaka dan kebangkrutan.

Sebaliknya ada orang yang dianggap miskin, hartanya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Tapi dengan murah hati, ia rela berbagi dengan orang lain. Ia memberi bukan karena kaya, tapi ia pernah merasakan bagaimana pedihnya ketika tidak punya. Ia menginginkan semua orang ikut mencicipi rasa bahagia. Siapa yang sesungguhnya kaya, dan siapa yang sesungguhnya miskin?

Marilah kita selalu introspeksi. Bisa jadi setumpuk uang dapat memenuhi segala keinginan, tapi belum tentu dapat memberikan kebahagiaan.

Sungguh benar sabda Rasulullah saw, “Kaya (kebahagiaan) bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (kebahagiaan) terletak dalam hati yang selalu merasa cukup(H. R. Bukhari-Muslim). [yy/republika]

Oleh Ade Sudaryat