7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Seberapa Penting Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah

Seberapa Penting Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah

Fiqhislam.com - Perkara shalat adalah perkara pertama yang akan Allah tanya nanti di hari kiamat, jika shalat ini bagus, insya Allah perkara lainnya juga bisa bagus, namun jika perkara shalat ini bermasalah, jangan heran jika perkara lainnya juga bisa ikut jelek. Jika sudah demikan jangan pernah menyalahkan orang lain, caci makilah dirimu sendiri.

Bagi mereka yang sekarang sudah terbiasa shalat lima waktu, Alhamdulillah. Itulah kenikmatan diatas kenikmatan, namun ada hal juga harus diingat bahwa tidak ada yang tahu apakah shalat yang kita kerjakan itu sudah sempurna atau belum. Ini perkara ghoib, janganlah kiranya terlalu yakin bahwa shalat-shalat itu sudah diterima, namun buatlah jiwa ini selalu merasa takut, ‘jangan-jangan’ shalat-shalat tidak diterima, sehingga dari sini akan muncul kehati-hatian bagi kita ketika melaksanakan shalat berikutnya.

Kehati-hatian itulah yang mendorong kita membutuhkan suatu hal yang dengannya bisa membantu nilai dari shalat-shalat wajib kita jika saja shalat-shalat itu ternyata bermasalah.

Shalat Sunnah Qobliyah dan Ba’diyah

shalat ini adalah shalat sunnah yang waktu mengerjakannya sangat berkaitan dengan waktu shalat wajib.

Qobliyah itu adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum shalat wajib, para ulama mengatakan bahwa hal ini bertujuan sebagai pemanasan agar ketika mengerjakan shalat wajibnya, badan kita sudah segar.

Jika pemain sepak bola saja sangat membutuhkan pemanasan, agar bisa bermain lebih kuat dalam pertandingan, maka ini juga berlaku untuk shalat. Setelah bangun malam, mungkin badan kita masih terasa lemes, mata masih redup, dan lainnya, sehingga membutuhkan sebuah pemanasan agar dengannya badan kita lebih segar, maka dalam hal ini Rasul Shallallahu alaihi wasallam meminta kita untuk bisa memulainya dengan shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.

Sedangkan ba’diyah adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah shalat wajib, dan ini bertujuan sebagai penyempurna atau sebagai penutup jika saja ada kebolongan-kebolongan yang secara tidak sadar terjadi ketika shalat wajib.

Mungkin saja ketika shalat wajib, ada beberapa hal yang mengganggu kekhusyu’an shalat, sehingga pikiran kita kemana-mana, yang ujung-ujungya bisa menyebabkan berkurangnya nilai shalat wajib kita.

Inilah fungsi terbesar shalat ini, sebagai penambah nilai jika saja nilai shalat wajib yang dikerjakan dibawah standar. Bukan hanya ujian saja, yang ada sistem penambahn nilai, shalat juga ada.

Apakah setiap shalat wajib ada shalat qobliyah dan ba’diyah

Para ulama membagi permasalahan ini dalam dua katagori:

1. shalat sunnah qobliyah dan ba’diyah yang sangat dianjurkan (Muakkadah)

Jumhur ulama mengatakan bahwa jumlahnya hanya 10 rakaat. Dua rakaat sebelum shalat zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah shalat maghrib, dua rakaat setelah shalat isya’ dan dua rakaat sebelum shalat subuh.

Inilah 10 rakaat yang sangat dianjurkan versi sebagian besar ulama, mereka melandaskan hal ini atas hadits Ibnu Umar:

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma berkata, ”Aku memelihara dari Nabi SAW sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum shubuh. Dua rakaat sebelum shubuh itu termasuk waktu-waktu dimana Rasulullah SAW tidak ditemui, namun Hafshah radhiyallahuanha menyebutkan padaku bahwa bila muadzdzin mengumandangkan adzan saat terbit fajar, beliau SAW shalat dua rakaat. (HR. Bukhari)

Akan tetapi Imam Abu Hanifah menambahkan bahwa shalat sebelum zuhur itu 4 rekaat, sehingga menjadi 12 reka’at, bukan 10 rakaat. Beliau berlandaskan hadits Aisyah:

Dari Aisyah radhiyallahuanha dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda, ”Orang yang selalu menjaga dua belas rakat maka Allah SWT akan bangunkan untuknya rumah di dalam surga. Empat rakaat sebelum Dzhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah Isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum subuh." (HR. An-Nasai dan At-Tirmizy)

2. shalat sunnah yang sifatnya biasa-biasa saja (bukan sunnah muakkadah)

Seperti dua atau empat rakaat sebelum shalat ashar, berdasarkan hadits: "Allah SWT menyayangi seseorang yang shalat empat rakaat sebelum shalat Ashar." (HR Abu Daud)

Dua rakaat sebelum shalat maghrib, sepertii hadits Nabi: “Shalatlah kalian sebelum Maghrib (beliau mengulangnya tiga kali). Diakhirnya beliau bersabda,"Bagi siapa saja yang mau melaksanakannya". Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai sunnah. " (HR. Bukhari No. 1183)

Dan dua rakaat sebelum shalat isya’, berlandaskan hadits: Dari Abdullah bin Mughaffal Ra ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Diantara adzan dan iqomah ada shalat, diantara adzan dan iqomah ada shalat (kemudian dikali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau” (HR. Bukhari No. 627 dan Muslim No. 838)

Semua ada dalilnya, namun para ulama mengatakan bahwa dalil-dalil itu bersifat biasa-biasa saja, berbeda dengan kekuatan dalil untuk 10/12 reka’at yang diatas tadi.

Berpindah Tempat Ketika shalat

Berpindah tempat disini maksdunya adalah mencari tempat lain setelah mengerjakan satu shalat untuk meneruskannya dengan shalat berikutnya, ini lebih terlihat ketika sebagian orang berpindah tempat ketika melaksanakan shalat qobliyah atau ba’diyah.

Tentunya kebiasan ini bukan tanpa alasan, karena memang ada tuntunannya, yang kedepan manfa’atnya juga akan sangat baik bagi pelakunya.

Dintara hadits Rasul yang mengisyaratkan hal itu adalah: Dari Abu Hurairah Ra dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apakah kamu merasa lemah (keberatan) apabila kamu shalat untuk maju sedikit atau mundur, atau pindah ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri?” (HR. Ibnu Majah)

Dan diantara alasan disyariatkanya hal tersebut adalah untuk memperbanyak tempat sujud atau ibadah, sebagaimana dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Al-Baghawi.

Karena tempat-tempat ibadah tersebut akan memberi kesaksian di hari akhir nanti sebagaimana firman Allah Swt:

يَوْمَئِذٍ تحَُدِّثُ أخْبَارَهَا

Pada hari itu bumi menceritakan khabarnya“ (QS. Al-Zalzalah : 4)

Namun jika masjid atau mushalla sempit, bisa saja seseorang meminta jamaah yang lain untuk bergeser ke tempatnya dan melaksanakan shalat sunnah qobliyah atau ba’diyah di tempatnya. Tetapi jika memang tidak memungkinkan juga untuk bertukar tempat, maka tidak mengapa untuk melaksanakan shalat rawatib di tempat yang sebelumnya digunakan untuk melaksanakan shalat wajib.

Qobliyah dan ba’diyah pada shalat Jama’ Qoshor

Walaupun shalat ini sangat dianjurkan, akan tetapi dalam kondisi menjama’ atau mengqoshor shalat, para ulama' mengatakan tidaklah disyari’atkan untuk memulainya dengan qobliyah atau menyudahinya dengan shalat ba’diyah. Wallahu A’lam Bisshowab. [yy/rumahfiqih]

M. Saiyid Mahadhir