15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Ibnu Katsir, Ulama Ahli Tafsir yang Tunanetra Dimasa Tuanya

Ibnu Katsir, Ulama Ahli Tafsir yang Tunanetra Dimasa Tuanya

Fiqhislam.com - Ibnu Katsir memiliki nama lengkap Imaduddin Abul Fida’ Ismail ibn ‘Amr ibn Katsir ibn Dhoui ibn Katsir ibn Zara’ al-Bashri al-Dimasyqi. Sebagai seorang yang faqih dan merupakan ulama ternama di kalangan mazhab Syafi’i , Ibnu Katsir juga digelari dengan sebutan al-Imam al-Jalil al-Hafidz.

Ibnu Katsir lahir pada tahun 700 H di Bushra, Suriah. Ia sering disebut dengan al-Busrawi, gelar yang dilekatkan pada tanah kelahirannya: Busra atau Basrah. Selain itu, ia juga diberi gelar al-Dimasyqi karena Kota Basrah yang terletak di kawasan Damaskus.

Ayah Ibnu Katsir berasal dari Bushra, sementara ibunya berasal dari Mijdal. Ayahnya, Syihabuddin Abu Hafsh Umar ibn Katsir adalah ulama yang faqih dan berpengaruh di daerahnya. Ia juga terkenal sebagai ahli ceramah.

Ibnu Katsir dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama dan menjunjung nilai-nilai keilmuan, menjadi modal Ibnu Katsir dalam menekuni banyak ilmu pengetahuan hingga menjadi sosok ulama yang diperhitungkan. Hanya saja, di saat usianya baru menginjak 3 tahun ia telah ditinggalkan oleh ayahnya.

Selanjutnya, di usianya yang ke-7 ia bersama saudaranya Kamaluddin merantau ke Damaskus dan mempelajari khazanah keilmuan Islam di sana. Di usianya yang ke-11 tahun, beliau telah berhasil menghafalkan al-Qur’an lengkap 30 Juz serta telah mempelajari qira’at beserta tafsirnya.

Di antara guru-gurunya yang berhasil membawanya menjadi pemuda yang gemilang dan penuh ilmu ialah Burhanuddin al-Fazari, Ishaq al-Amidi, Ibn ‘Asakir, Ibn Taimiyah dan al-Mizzi—seorang ahli Hadis yang menjadi pemandunya saat mengkhatamkan Tahzib al-Kamal. Al-Mizzi tidak hanya menjadi guru namun juga menjadi mertuanya setelah menikahkan Imaduddin muda dengan putrinya.

Di antara guru yang paling mempengaruhi pemikirannya ialah Ibn Taimiyah. Ibn Qadhi Syuhbah dalam Thabaqat-nya mengatakan bahwa antara Ibn Katsir dan Ibn Taimiyah terjalin sebuah ikatan khusus yang pada akhirnya mempengaruhi sebagian besar pemikiran Ibn Katsir. Maka tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim karya Ibnu Katsir merupakan wujud aplikatif dari kaidah tafsir yang ditulis oleh Ibn Taimiyah, Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir.

Sebagai seorang ulama yang dinilai memiliki derajat keilmuan yang tinggi, Ibn Katsir memiliki warisan keilmuan yang termaktub dalam karya-karyanya. Adapun di antara karya-karya peninggalannya ialah magnum opusnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, kemudian al-Ahkam dalam bidang fiqh namun sayangnya belum terselesaikan secara lengkap, lalu al-Bidayah wa al-Nihayah dalam bidang tarikh/sejarah dan al-Mukhtashar serta Syarh Shahih al-Bukhari dalam bidang Hadits.

Ibnu Katsir dikenal pemberani. Ia tidak gentar berhadapan dengan penguasa. Ia terdepan mendukung kebijakan penguasa yang sesuai dengan petunjuk Ilahi.

Di saat yang sama, ia juga terdepan mengkritik atau memilih berseberangan dengan penguasa yang menyalahi aturan Tuhan dan Undang-Undang yang membawa kemaslahatan untuk umat.

Ia bahkan pernah harus menanggung siksaan karena mengeluarkan fatwa tentang thalaq yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Sempat juga ia disidang karena menjatuhkan hukuman mati terhadap orang yang mengaku dirinya menyatu dengan Tuhan.

Buta di Akhir Hayat

Dalam Al-Durar Al-Kaminah fi A‘yan Al-Mi’at Al-Tsaminah, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) menjelaskan bahwa, Ibnu Katsir kehilangan penglihatannya pada akhir hayat beliau. Keterangan yang sama juga disebutkan oleh Muhammad Husain Al-Dzahabi dalam Al-Tafsir wa Al-Mufassirun.

Cobaan ‘kebutaan’ yang menimpa Ibnu Katsir di akhir-akhir masa hidupnya, tidak menghalangi beliau untuk tetap berkarya dalam upaya menghidupkan Ilmu-Ilmu Al-Quran, khususnya Ilmu Tafsir. Melalui tafsirnya yang monumenal, kajian tafsir terus mengalami perkembangan, bahkan telah bermunculan mufassir-mufassir lain yang tetap berkiblat kepada penafsirannya.

Kepiawaiannya dalam berbagai bidang tersebut diakui oleh banyak ulama besar. Muhammad Husain al-Zahabi, dalam al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyatakan “Ibnu Katsir telah menduduki posisi yang sangat tinggi dari sisi keilmuan, dan para ulama menjadi saksi terhadap keluasan ilmunya, penguasaan materinya, khususnya dalam bidang tafsir, hadits, dan tarikh.”

Ibn Katsir wafat di bulan Sya’ban pada tahun 774 H di Damaskus dan dikebumikan di samping makam gurunya Ibn Taimiyah di pemakaman al-Shufiyah. [yy/miftah h yusufpati/sindonews]