fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Syawal 1442  |  Jumat 14 Mei 2021

Umar Khayyam Sang Perintis Ilmu

Umar Khayyam Sang Perintis Ilmu

Fiqhislam.com - Era keemasan dalam sejarah peradaban diisi banyak sarjana brilian. Salah seorang di antaranya, Umar Khayyam. Tokoh Persia itu merintis sejumlah disiplin keilmuan. Berkiprah dalam dunia eksakta maupun sastra.

Sang Sarjana Universal

Umumnya sejarawan sepakat, periode gemilang dalam sejarah peradaban Islam terjadi antara abad kedelapan dan 14 Masehi. Dalam periode tersebut, ada begitu banyak tokoh Muslim yang berperan membawa kemajuan dan maslahat.

Sejumlah nama bersinar terang dan terus menginspirasi dunia bahkan hingga saat ini. Di antara mereka ialah Umar Khayyam.

Menurut pelbagai sumber manuskrip Arab, nama lengkapnya adalah Abu’l Fath Umar bin Ibrahim al-Khayyam. Sementara, namanya yang tergurat dalam teks-teks Persia abad pertengahan ialah Umar Khayyam.

Tokoh berbangsa Persia ini lahir di Nishapur, Khurasan, pada 1048 M. Daerah tersebut masuk wilayah Dinasti Seljuk, sebuah kerajaan Islam yang sedang mengalami masa keemasan pada saat itu.

Dalam bahasa Arab, khayyam berarti ‘pembuat tenda'. Karena itu, tak sedikit sejarawan yang meyakini, Umar berasal dari sebuah keluarga perajin alat perkemahan tersebut.

Memang, Nishapur merupakan salah satu kota transit di Jalur Sutra yang menghubungkan antara Cina, Asia Tengah, Persia, Mesopotamia, dan Eropa. Rute perniagaan itu kerap diramaikan para pedagang, termasuk penjual tenda untuk keperluan pengelana.

Seyyed Hossein Nasr dalam Science and Civilization in Islam (1968) menggolongkan Umar Khayyam sebagai salah satu tokoh Islam yang universal. Sebab, cendekiawan dari abad ke-11 itu menguasai banyak cabang ilmu pengetahuan. Ia tidak hanya fasih menerangkan pelbagai persoalan dalam bidang filsafat dan kesusastraan, tetapi juga astronomi, matematika, fisika, dan lain-lain.

Mehdi Aminrazavi dan Glen van Brummelen menjelaskan dalam artikel “Umar Khayyam” (2017), sang polymath diketahui memiliki sifat tenang, pendiam, dan bersahaja. Namun, karakteristiknya kerap disalahpahami. Beberapa orang menudingnya sebagai pribadi yang egoistis. Terlebih lagi, beberapa kali saintis Persia ini kedapatan tidak mau menerima para pengikut atau murid.

Padahal, kecenderungan sifatnya memang sebagai orang introvert. Kesendirian lebih disukainya daripada berdiri di tengah keramaian. Seolah-olah, tidak ada sedetik pun waktu terlewatkannya tanpa merenung dan berpikir, baik mengenai konsep-konsep abstrak maupun fakta empiris di sekitarnya.

Gambaran tentang tabiatnya yang enggan menonjolkan diri tampak dari sepenggal bait sajaknya Ruba’iyyat, “Rahasia yang telah ditumbuhkan oleh buku cintaku. Tidak bisa diberi tahu lantaran takutku kehilangan kepala. Karena tidak ada yang pantas untuk belajar, atau peduli untuk mengetahui. Lebih baik semua pikiranku tetap tak terkatakan.”

Aminrazavi dan van Brummelen meneruskan, di antara sejumlah sosok yang mempengaruhi alam pikiran Umar Khayyam ialah Ibnu Sina (Avicenna), al-Khwarizmi, dan Euclid. Dua nama yang terakhir berkaitan dengan minatnya terhadap matematika. Adapun Ibnu Sina secara khusus disebutnya sebagai “guruku”.

Padahal, sang penulis Al-Qanun fii ath-Thibb itu sudah wafat 11 tahun sebelum Umar lahir atau tepatnya pada 1037 M. Karena itu, pujiannya kepada Ibnu Sina tidaklah berarti bahwa keduanya pernah bertemu langsung.

Kuat dugaan, Umar semata-mata merasa berutang budi atas karya alim kelahiran Bukhara itu. Ada pula yang berpendapat, ia pernah belajar pada Bahmanyar. Matematikawan itu juga terkenal sebagai salah satu murid Ibnu Sina yang paling cemerlang.

Masyarakat Barat modern mulai mengenal nama Umar Khayyam berkat hasil kerja sastrawan Edward Fitzgerald (1809-1883) yang telah menerjemahkan Ruba’iyyat ke dalam bahasa Inggris pada 1859 M. Penyair asal Britania Raya itu juga mengulas biografi sang sarjana Muslim berdasarkan pembacaannya atas sejumlah manuskrip terkait.

Menurutnya, salah satu guru yang paling awal mengajarkan ilmu kepada Umar ialah Imam Muwaffaq. Ulama ini tinggal di Nishapur. Majelis ilmu yang diadakannya selalu ramai diikuti hadirin. Sewaktu menjadi muridnya, lanjut Fitzgerald, Umar Khayyam mulai berkenalan dengan Nizham al-Mulk. Kelak, sosok yang bernama asli Abu Ali al-Husain at-Thusi itu berkarier sebagai perdana menteri Kesultanan Seljuk.

Ada sebuah sumber yang menuturkan kesaksian dari Nizham al-Mulk tentang ikatan persahabatan yang dijalaninya saat masih berguru pada Imam Muwaffaq. Selain Umar, dirinya berkawan baik kala itu dengan Hasan Ben Sabbah.

Suatu hari, Hasan menyampaikan curahan hatinya kepada Nizham dan Umar. Diusulkannya bahwa siapapun di antara mereka yang mencapai kesuksesan terbesar di masa depan, maka kegemilangan yang diraihnya harus dibagi secara merata kepada yang lain.

Nizham dan Umar setuju dengan usulan tersebut. Tahun demi tahun berganti. Akhirnya, Nizham memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara kedua sahabatnya itu. Suatu hari, Hasan Ben Sabbah datang dan mengingatkan kepadanya akan janji masa lalu. Sang wazir Kerajaan Seljuk itu membenarkannya. Hasan meminta jabatan kepadanya, sedangkan Umar hanya menginginkan jaminan keamanan baginya dari Istana. Dengan begitu, lelaki introvert ini dapat fokus bekerja, menulis, dan meneliti.

Nizham mengabulkan seluruh permintaan kedua sahabatnya itu. Ternyata, Hasan belakangan semakin lupa daratan. Bahkan, tokoh ini kemudian terlibat dalam sebuah operasi rahasia yang hendak merebut pemerintahan dari tangan Bani Seljuk.

Mengembara

Masa mudanya di Nishapur dapat dikatakan habis “hanya” untuk belajar. Umar Khayyam termasuk beruntung karena berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi yang mapan. Ia pun dapat diterima di berbagai majelis ilmu dan diajar banyak guru, termasuk mereka yang elite.

Keberuntungan keduanya ialah, pada masa itu Negeri Seljuk sedang jaya-jayanya. Dan, penguasa setempat sangat menyokong perkembangan ilmu pengetahuan di wilayahnya. Alhasil, banyak perpustakaan umum dibangun. Di sanalah, pemuda yang cerdas ini kerap singgah, menyelami lautan ilmu dari buku-buku.

Demi menuntaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan, Umar Khayyam berhijrah dari kampung halaman tercinta. Kala itu, usianya genap 20 tahun. Ia bertolak menuju Bukhara untuk menyambangi banyak perpustakaan yang berdiri di sana.

Dua tahun kemudian, remaja ini meneruskan langkah kakinya ke Samarkand. Di kota tersebut, lelaki yang fasih banyak bahasa ini mulai menulis karyanya tentang aljabar, dengan sokongan gubernur setempat Abu Thahir Abdurrahman bin ‘Alaq. Ya, dalam umur semuda itu, dia sibuk dalam pelbagai kegiatan riset ilmiah; semata-mata didorong oleh rasa ingin tahunya.

Asia Tengah di bawah pemerintahan Islam kala itu sedang mengalami kejayaan—atau yang disebut sejarawan modern sebagai Renaisans Asia Tengah. Samarkand, Bukhara, dan Qarakhaniyah adalah beberapa wilayah yang menyemai semangat kemajuan itu.

Karenanya, kedatangan sarjana genius dan tekun seperti Umar Khayyam segera mengundang simpati penguasa masing-masing wilayah. Tidak hanya di Samarkand, penerimaan yang hangat juga dirasakannya di Qarakhaniyah. Penguasa lokal saat itu, Syam al-Mulk Nashr, memberinya penghormatan luar biasa. Ia bahkan dipersilakan duduk di samping singgasana raja untuk mendiskusikan pelbagai topik sains dan ilmu pengetahuan.

Antara tahun 1073 dan 1074, Kerajaan Qarakhaniyah diguncang prahara politik. Sultan Malik Shah I menyerang wilayah negeri tersebut. Bagaimanapun, posisi Umar Khayyam tetap aman.

Di sinilah, ia mulai berjumpa kembali dengan sahabat lamanya, Nizham al-Mulk yang menjadi wazir raja tersebut. Dengan senang, Umar menerima tawaran Istana untuk mendirikan dan memimpin sebuah observatorium di Isfahan.

Sang saintis mengepalai sejumlah ilmuwan dari berbagai negeri, dan pelbagai pemeluk agama, untuk melakukan pengamatan ilmiah. Salah satu kontribusi observatorium ini ialah revisi atas kalender Persia. Bermula pada tahun 1076 hingga 1079, Umar dan rekan-rekannya pun menyimpulkan pengukuran panjang tahun mereka, melaporkannya ke 14 angka penting dengan akurasi yang mencengangkan.

Adapun persembahan yang unik dari Umar sendiri begitu banyak mendukung kinerja tempat penelitian ini. Misalnya, kritik sang saintis terhadap geometri Euclidian. Mengutip Husain Heriyanto dalam Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam (2011), salah satu aksioma Euclid adalah bahwa lewat titik dalam sebuah bidang, maka hanya dapat ditarik satu garis sejajar dengan sebuah haris tertentu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jumlah sudut-sudut segitiga pastilah 180 derajat tepat. Namun, ilmuwan Muslim ini menunjukkan adanya kemungkinan bahwa jumlah sudut-sudut segitiga dapat kurang atau lebih dari 180 derajat. Karena itu, Umar Khayyam dapat dipandang sebagai perintis ilmu geometri non-Euclidian.

Anehnya, dalam naskah-naskah matematika modern disebutkan bahwa penemu geometri non-Euclidian adalah Lobachevsky-Bolyai, tanpa menyebutkan sama sekali nama Umar Khayyam. Fenomena ini, lanjut Heriyanto, menunjukkan bahwa tampak sekali ada kecenderungan untuk menghapus jejak-jejak Islam dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan sains

Para pendukung distorsi historis demikian bertujuan untuk menguatkan klaim fatamorgana bahwa Barat adalah “Dunia Pertama”, sedangkan Islam sebagai “Dunia Ketiga” yang identik dengan keterbelakangan.

Padahal, banyak ilmuwan Muslim pada abad pertengahan yang memuluskan jalan kebangkitan sains modern dan universalitas ilmu. Salah satunya adalah Umar Khayyam. Karena itu, amat disayangkan bila umat Islam kini seolah-olah melupakan sejarah sendiri.

Malik Shah I dan perdana menterinya wafat dibunuh sebuah operasi politik. Umar termasuk kalangan ilmuwan yang diintimidasi rezim baru. Ia lantas diusir dari Qarakhaniyah dengan kamuflase sebagai imbauan berhaji. Sesudah itu, dirinya diterima Sultan Ahmad Sanjar untuk menjadi ilmuwan resmi Kerajaan Seljuk.

Bertahun kemudian, matematikawan yang mahir bersyair ini diperbolehkan kembali ke Nishapur karena alasan kesehatan yang kian menurun. Di sanalah sang alim beristirahat sembari menghabiskan hari demi hari dengan membaca dan meneliti—tanpa mau menerima banyak murid. Pada 4 Desember 1131, Umar Khayyam wafat dalam usia 83 tahun. [yy/republika]

Oleh Hasanul Rizqa