29 Rabiul-Akhir 1443  |  Sabtu 04 Desember 2021

basmalah.png

Abdurahman Nashir As-Sa'diy Pakar Tafsir dari Unaizah

Abdurahman Nashir As-Sa'diy Pakar Tafsir dari Unaizah

Fiqhislam.com - Dia bersafari dari satu tempat ke tempat lain demi mendapat faedah ilmu. Setiap generasi pasti memiliki pembaruan yang menyelamatkan Muslimin dari kebodohan. Merekalah para mujaddid yang menjadi lentera di tengah kegelapan dunia. Di bidang penafsiran kitabullah, setelah generasi ulama tafsir ternama Syaikh Ibnu Katsir, lahir generasi ulama penerus, Syaikh As-Sa’diy.

Nama lengkapnya Abu Abdillah Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah bin Nashir As Sa’di. Syaikh berasal dari Bani Tamim yang lahir di Kota Unaizah, Qasim, wilayah Najd, Arab Saudi pada 12 Muharram 1307 Hijriyah atau 1886 Masehi.

Sejak usia sangat belia, syaikh telah kehilangan kedua orang tuanya. Sang ibu wafat saat dia baru berusia empat tahun. Kemudian, sang ayah juga meninggal saat syaikh berusia tujuh tahun.

Dia  akhirnya tinggal bersama ibu tiri dan seorang saudara laki-laki. Kendati demikian, syaikh tumbuh besar sebagai seorang anak yang amat cerdas.

Sejak kecil Syaikh As-Sa’diy sudah memperlihatkan kemampuan intelektual yang luar biasa. Dia pun sangat semangat dan rajin dalam menuntut ilmu. Setiap ulama berkunjung ke kotanya, syaikh tak pernah absen dalam majelis mereka.

Tak heran jika dia telah menghafal Alquran dengan qiraah yang baik dan sempurna saat baru berusia 11 tahun. Sejak itulah, syaikh membulatkan tekad untuk fokus mempelajari ilmu agama.

Begitu banyak perjuangan syaikh demi mendapatkan ilmu agama. Dia bersafari dari satu tempat ke tempat lain demi mendapat faedah ilmu. Sebanyak mungkin ilmu harus ia peroleh, demikian tekad syaikh.

Dengan kegigihan tersebut, syaikh pun memiliki banyak sekali guru. Di antaranya, Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir, guru pertama As-sa’diy dalam mempelajari agama.

Kemudian, seorang qadhi Unaizah, Syekh Saleh bin Utsman, ketika ia mempelajari fikih. Lalu, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Haasir, Syaikh Muhammad bin Abdul Kariim Asy Syibl, Syaikh Muhammad Asy Syinqiti, dan masih banyak lagi.

Beberapa penulis biografi menyebutkan, As-Sa’diy merupakan murid dari dua ulama yang sangat terkenal, yakni Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

Dalam hal ini, syaikh tidaklah bertemu langsung karena perbedaan generasi dengan dua ulama tersebut. Hanya saja, para penulis biografi tak segan menyebut As-Sa’diymerupakan murid keduanya karena ia sangat memperhatikan dan mempelajari setiap karya dua ulama tersebut.

Syaikh As-Sa'dy sangat mendalami karya-karya kedua ulama sehingga seakan-akan ia adalah murid Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

Menginjak usia 30 tahun, syaikh tak lagi sekadar menuntut ilmu, melainkan juga mengajarkannya. Banyak penuntut ilmu yang datang untuk belajar kepadanya. Seluruh waktu syaikh pun hanya untuk belajar dan mengajar.

Di antara murid As-Sa’diy, terdapat seorang ulama yang juga amat terkenal pada generasi selanjutnya. Ia adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.
 
Selama hidupnya, As-Sa’diy menghasilkan banyak sekali karya. Yang paling terkenal ialah karya di bidang tafsir. Beberapa di antaranya, Taisirul Karimil Mannan fi Tafsir Kalamil Rahman, yakni Kemudahan dari Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi dalam Tafsir Kalam Ilahi. Ini terdiri atas delapan juz.

Selain itu, Taisirul Lathiifil Mannan fi Khulasati Tafsiril Quran atau Kemudahan dari Yang Mahahaluas dalam Ringkasan Tafsir Alquran, Qowa’idul Hassaan li Tafsiril Quran atau Kaidah-Kaidah yang Bagus dalam Tafsir Alquran. Karya-karya tafsirnya pun masih menjadi rujukan ulama hingga kini.

Tafsirnya amat mudah dipahami dan sangat membantu Muslimin untuk memahami firman Allah. Oleh karena itu, syaikh terkenal sebagai ulama tafsir. Walaupun, banyak karyanya selain tafsir yang juga sangat memberikan faedah ilmu bagi Muslimin.

Beberapa karya selain tafsir yang pernah syaikh tulis, yakni Al-Irsyad ilaa Ma’rifatil Ahkam (Petunjuk untuk Memahami Hukum-Hukum), Ar-Riyadh an-Nadhirah (Taman-Taman yang Bercahaya), Bahjatu Qulubil Abrar (Kegembiraan Hati Orang-Orang yang Bertaqwa).

Karya lainnya, Manhajus Salikin wa Taudhihul Fiqh Fid Diin (Pedoman Orang yang Beribadah dan Penjelasan Fikih dalam Agama). Juga, Hukmu Syurb Ad-Dukhan wa Bai’uhu wa Syiro’uhu (Hukum Menghisap Rokok, Menjual, dan Membelinya) dan Al-Fatawa As-Sa’diyah (Fatwa-Fatwa Syekh Sa’dy).

Ia juga memiliki beberapa kitab kumpulan khotbah, seperti Al-Haqqul Wadhih Al-Mubin bi Syarhi Tauhidil Anbiyaa wal Mursalin (Kebenaran yang Jelas dan Nyata dalam Penjelasan tentang Tauhid Para Nabi dan Rasul), Taudhihul Kaifiyah As-Syafiah (Penjelas yang Cukup dan Memuaskan).

Seluruh karya tersebut menjadi warisan syaikh yang pahalanya terus mengalir hingga akhir zaman. Setelah meninggalkan warisan berharga itu bagi umat Islam, Syaikh As-Sa’diy wafat pada Kamis, 23 Jumadil Tsaniah 1376 H atau 1955 masehi.

Ia mengidap sakit keras sebelum ajal menjemputnya. Syaikh meninggal di kota kelahirannya, Unaizah. Semoga Allah merahmati Syaikh Abdurahman Nashir As-Sa’diy.

Oleh Afriza Hanifa
yy/republika.co.id