21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Abu Yahya Shuhaib: Rela Korbankan Hartanya demi Hijrah Bersama Rasulullah Saw

Abu Yahya Shuhaib: Rela Korbankan Hartanya demi Hijrah Bersama Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Cahaya iman bisa menembus hati siapa saja yang Allah kehendaki. Bahkan, karena hidayah tersebut, seseorang bisa rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi hijrah ke jalan Allah.

Seperti kisah inspiratif dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Yahya Shuhaib bin Sinan. Dia rela meninggalkan harta kekayaan yang telah diperolehnya dari hasil perniagaan selama bertahun-tahun di Makkah demi bisa hijrah bersama Rasulullah SAW. Abu Yahya Shuhaib bin Sinan adalah di antara sahabat Nabi SAW yang memainkan peran penting dalam peristiwa hijrah ke Madinah.

Mengutip artikel di laman About Islam, Suhaib dilahirkan dalam lingkungan yang dikelilingi kenyamanan dan kemewahan. Ayahnya adalah seorang gubernur terkenal di Irak jauh sebelum kedatangan Islam. Ayahnya merupakan pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi.

Sumber lain menyebutkan mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak. Namun, suatu ketika negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah penduduk, termasuk di antaranya Shuhaib.

Ia diperjualbelikan oleh saudagar-saudagar berlian. Menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di negeri Romawi (kekaisaran Byzantium), lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi. Perkelanaannya yang panjang berakhir di kota Makkah.

Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya sehingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya. Ia diberikan kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya. Namun saat mencapai Makkah, dia mengorbankan segalanya dan menyerahkan jiwanya serta membuka hatinya untuk cahaya Islam.

Ketika di Makkah, Shuhaib menjadi seorang Muslim yang setia dan sangat taat pada agama barunya. Ia memiliki kesempatan untuk mendengar langsung agama Islam dari Nabi SAW. Ketika itulah, ia berjanji setia pada Islam.

Namun, ketika Islam mulai diketahui secara terang-terangan, banyak Muslim yang mengalami penganiayaan dari kaum kafir Quraisy. Tak terkecuali Shuhaib, yang dianiaya dan dilecehkan karena keIslamannya.

Ketika Rasulullah SAW hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahuinya dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah itu, menemani Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Tetapi, orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan Rasulullah.

Mereka menempatkan penjaga untuk mencegahnya pergi dan mengambil hartanya sehingga ia terhalang untuk hijrah untuk sementara waktu. Rasulullah dan sahabatnya berhasil meloloskan diri atas berkah Allah SWT.

Suatu waktu, ia berupaya menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah hingga ketika mereka lengah, ia naik ke punggung unta dan dipacunya hewan itu sekencang-kencangnya. Namun, Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hampir berhasil.

Saat berhadapan dengan mereka, Shuhaib mengancam semua anak panah yang berada dalam kantongnya bisa menghabisi mereka, sebab ia adalah ahli panah yang mahir. Namun, Shuhaib juga menawarkan jika mereka setuju, ia akan menunjukkan tempat penyimpanan harta bendanya, asalkan membiarkannya pergi.

Pasukan Quraisy itu tertarik dengan tawaran terakhir itu dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya. Mereka percaya pada perkataan Shuhaib lantaran tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Shuhaib pun melanjutkan perjalanan hijrahnya hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah SAW di Quba. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau menyambutnya dengan riang dan berkata, "Wahai Abu Yahya! Penjualan yang menguntungkan! Penjualan yang menguntungkan!"

Dan ketika itu, turunlah juga ayat: "Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya." (QS. Al-Baqarah: 207).

Demikianlah kisah Shuhaib, sahabat Nabi SAW yang paling menonjol sifat-sifatnya yang memiliki rasa pengorbanan batin yang besar. Ia mengorbankan hartanya karena agamanya. Ia melepaskan keyakinan palsu orang-orang Yunani dan menjadi seorang Muslim karena pilihan.

Shuhaib berhijrah dengan jiwanya sebelum hijrah dengan raganya. Dia ingin sekali menemani Nabi SAW meskipun belenggu penindasan menghalanginya. Shuhaib menjadi teladan bagaimana seorang Muslim seyogyanya mengevaluasi kembali pendekatan serta komitmen terhadap agama dan keyakinannya.

Shuhaib juga mengajarkan untuk perlunya menyatakan ketaatan penuh pada perintah Allah untuk membersihkan diri dari jebakan materi duniawi. Ia menjadi sosok yang memberikan teladan bagaimana ia merasakan makna hijrah yang sebenarnya dan membiarkan hatinya menuju jalan yang benar. [yy/Kiki Sakinah/republika]