11 Safar 1443  |  Minggu 19 September 2021

basmalah.png

Mujahidah: Ummu Kultsum binti Uqbah, Kisah Muslimah Periwayat Hadits

makkah kabah sahabat nabi

Fiqhislam.com - Ia adalah teladan bagi para Muslimah. Sejarah peradaban Islam mencatat, dia adalah Muslimah pertama yang hijrah ke Madinah, tak lama setelah Nabi Muhammad SAW berserta para para sahabatnya.

Mujahidah yang mulia itu bernama Ummu Kultsum binti Uqbah. Ia rela mengorbankan hidupnya demi berjuang di jalan Allah SWT (jihad fi sabilillah).

Ibnu Sa'ad mengisahkan keberanian Ummu Kultsum dalam Thabaqat-nya. Ia berkata, ''Dia (Ummu Kultsum) adalah wanita pertama yang hijrah ke Madinah setelah hijrah Nabi SAW dan para sahabatnya. Kami tidak mengetahui seorang wanita Muslim Quraisy yang keluar dari kedua orang tuanya dan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Ummu Kultsum."

Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya berjudul "Perempuan-perempuan Mulia  di Sekitar Rasulullah SAW" mengungkapkan, Ummu Kultsum keluar dari Makkah sendirian untuk berhijrah menyusul Rasulullah SAW dan ditemani oleh seorang laki-laki dari Khuza'ah hingga tiba di Madinah pada waktu gencatan senjata.

Dia dikejar oleh kedua orang saudaranya. Kedua saudaranya itu tiba pada hari kedua setelah kedatangan Ummu Kultsum ke Madinah. Keduanya berkata, "Hai Muhammad, kami menuntut syarat, maka penuhilah syarat itu."

Maka Ummu Kultsum berkata, "Wahai, Rasulullah, aku seorang wanita. Wanita itu lemah. Aku khawatir mereka mengganggu dalam agamaku, sedangkan aku tidak sabar, sehingga Allah membatalkan janji pada wanita."

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat Imtihan (ujian) dan memutuskan dengan keputusan yang mereka sama-sama menyepakatinya. Disebutkan. "Hai, orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita yang beriman, maka hendaklah kami uji (keimanan) mereka..."  (QS. Al-Mumtahanah: 10-11).

Kemudian Rasulullah SAW pun menguji Ummu Kultsum dan wanita-wanita sesudahnya. "Tidaklah kalian keluar, kecuali karena cinta Allah dan Rasul-Nya serta Islam, bukan karena cinta suami dan harta." Apabila mereka mengatakan hal itu, maka mereka tidak dikembalikan.

Ummu Kultsum berhijrah karena cintanya yang begitu besar kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Pertanyaan Rasulullah tentang motivasinya berhijrah dijawab Ummu Kultsum dengan tegas, ''Aku tidak keluar, kecuali karena mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan aku tidak keluar untuk mencari dunia maupun membenci suami.''

Pada saat di Makkah, Ummu Kultsum belum menikah. Ia lalu dipersunting oleh Zaid. Setelah Zaid meninggal dunia, ia lalu menikah dengan Az-Zubair.

Tak lama kemudian, Zubair pun wafat, Ummu Kultsum pun lalu dinikahi Abdurrahman bin Auf. Ia wafat sebagai istri Amr bin Ash.

Cahaya iman yang menggumpal di kalbunya membuat Ummu Kaltsum berani meninggalkan keluarganya. Seorang diri, ia berhijrah karena saking cintanya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Sesungguhnya, pada waktu itu Rasulullah SAW telah berdamai dengan Quraisy lewat Perjanjian Hudaibiyah, dengan syarat Nabi Muhammad SAW setuju mengembalikan orang-orang Muslim yang datang kepada mereka.

"Adalah Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu'aith termasuk orang-orang yang keluar kepada Rasulullah SAW dan waktu itu dia masih muda belia. Kemudian keluarganya datang meminta kepada Rasulullah SAW agar mengembalikan kepada mereka, sehingga Allah SWT menurunkan ayat-ayat tentang wanita-wanita beriman." (HR Bukhari dari Al-Miswar bin Makhramah).

Dalam Siyar A'laamin Nubala', Imam Adz-Dzahabi berkata, ''Ummu Kultsum bin Uqbah bin Abi Mu'aith masuk Islam dan berbaiat. Dia tidak sempat hijrah hingga tahun 7 Hijriah, dan keluar di zaman Perdamaian Hudaibiah. Kedua saudaranya adalah "Al-Walid dan Ammarah.''

Selama hidupnya, Ummu Kultsum meriwayatkan sekitar 10 hadits Nabi SAW, salah satunya termasuk hadits Muttafaq alaih, yang disepakati Bukhari dan Muslim. Imam An-Nasa'i dalam Sunan Al-Kubra juga meriwayatkan salah satu hadits dari Ummu Kultsum tentang keutamaan Surah Al-Ikhlas.

Keimanannya sekeras baja. Di usianya yang masih remaja, ia tinggalkan keluarga dan kampung halamannya dan menempuh ganasnya padang pasir antara Makkah dan Madinah demi membuktikan kecintaannya kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Keberanian dan ketegasan Ummu Kultsum dalam meneguhkan keimanan layak ditiru para Muslimah sepanjang zaman. [yy/republika]