9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Dzikir Berjamaah, Bagaimana Hukumnya?

Dzikir Berjamaah, Bagaimana Hukumnya?

Fiqhislam.com - Ada banyak hadits yang mengisyaratkan disunnahkannya berdzikir berjamaah. Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk-duduk bersama (untuk) berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengitari mereka, rahmat memayunginya, ketenangan turun kepadanya, dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada di sisi-Nya”.

Di banyak hadits juga diterangkan bahwa Rasulullah SAW, keluar untuk shalat berjamaah sementara mereka sedang menunggu sambil berdzikir di mesjid. Lalu beliau memberikan kabar gembira dan tidak melarang mereka (melakukan hal itu).

Pada dasarnya berjamaah dalam segala kebaikan dan ketaatan dianjurkan bila membuahkan banyak manfaat, seperti bersatunya hati, menguatkan ikatan, menggunakan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat, dan mengajarkan kepada orang awam yang belum baik bacaannya serta mengumandangkan syiar Allah Taala.

Namun berdzikir berjamaah dapat terlarang jika di dalamnya terdapat hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti mengganggu orang yang sedang shalat, diselingi senda gurau dan tawa, menyelewengkan lafal, mengeraskan dan saling mengungguli atau mendahului dalam berdzikir dan hal yang serupa itu. Bila terjadi hal-hal seperti itu maka dzikir secara jama’i dilarang karena adanya kerusakan-kerusakan atau keburukan-keburukan. Jadi yang dilarang bukan berjamaahnya. Apalagi jika dzikir jama’i itu dilakukan dengan lafal-lafal yang ma’tsur dan shahih.

Alangkah baiknya apabila kaum Muslim sering berkumpul untuk membacanya bersama-sama di waktu pagi dan sore di tempat-tempat berkumpul mereka atau di masjid dengan tetap menjauhi hal-hal yang dilarang oleh syari’at. Dan barangsiapa yang tidak bisa atau tidak sempat berdzikir berjamaah, hendaknya membacanya sendiri serta jangan sampai meninggalkannya sama sekali.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, ia berkata: “Muawiyah keluar (menuju) sebuah halaqah di masjid. Ia bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk-duduk (di sini)?”. Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah”. Muawiyah menyanggahnya, “Demi Allah, kalian tidak duduk di sini untuk hal itu”. Mereka menjawab lagi, “Demi Allah, kami tidak duduk di sini melainkan untuk itu (berdzikir)”. Muawiyah berkata lagi, “Saya tidak meminta kalian bersumpah karena ketidakpercayaanku kepada kalian. Karena tidak seorangpun di antara kalian yang setara denganku, di mata Rasulullah SAW dan yang lebih sedikit dariku dalam menukil hadits dari beliau (artinya Muawiyah merendah bahwa sahabat-sahabat tersebut jauh lebih mulia dan lebih banyak menukil hadits Nabi dibanding dirinya). Dan sesungguhnya Rasulullah SAW keluar menuju ke sebuah halaqah para sahabat seraya bertanya, “Apa yang menjadikan kalian duduk di sini?” Mereka menjawab, ”Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah, memanjatkan puji dan syukur kepada-Nya, karena Dia telah memberikan hidayah kepada Islam dan menganugerahkannya kepada kami”. Rasulullah saw. bersabda, “Saya tidak meminta kalian untuk bersumpah karena ketidakpercayaanku kepada kalian. Namun Jibril telah datang kepadaku seraya memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan malaikat”.(HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i). [yy/islampos]

 


 

Tags: Dzikir | Berjamaah