16 Rajab 1444  |  Selasa 07 Februari 2023

basmalah.png

Bahagia Menyambut Kematian

Bahagia Menyambut Kematian

Kenali dirimu di dalam kubur,

badan seorang hanya tersungkur,

dengan siapa lawan bertutur?

di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,

ke akhirat jua tempatmu pulang,

janganlah disusahi emas dan uang,

itulah membawa badan terbuang.

Fiqhislam.com - “Syair Perahu” karya Hamzah Fanshuri (abad ke-16 akhir dan 17 awal) di atas adalah pengingat untuk kita semua tentang kehidupan. Sehebat apa pun prestasi yang diraih, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, pada akhirnya jasad akan berpulang ke alam kubur. Badan menjadi hancur. Ulat-ulat kecil akan menyantap daging pembungkus jasad, hingga akhirnya menyisakan tulang.

Melalui karya sastra ini, sang sufi mengajak kita mempersiapkan diri menghadapi kematian. Jangan terpikat keindahan dunia. “Banyaklah mamang,” pesan Hamzah.

Hidup ini, jangan pernah disusahkan oleh emas dan uang. Dua hal itu sangatlah berharga, bernilai tinggi, menjadi kebanggaan siapa pun yang memilikinya. Tapi, ambillah sedikit dari keduanya. Sisanya, atau bagian besarnya, gunakan untuk membantu orang lain. Sedekahkan, atau gunakan untuk mendanai kebaikan.

Dengan begitu, harta yang tadinya mengeraskan hati, berubah menjadi energi kebaikan. Pahala jariyah mengalir menjadi bekal menghadapi kematian.

Sungguh tidak mudah melatih diri ini mempersiapkan bekal kematian. Mengeluarkan banyak harta untuk membantu kaum dhuafa dan menghidupkan dakwah akan terasa berat pada awalnya. Namun, itu harus dimulai dari yang sedikit. Jika memiliki uang Rp 100 juta, misalnya, sedekahkan atau wakafkanlah sebesar Rp 1 juta terlebih dahulu. Bahkan, bila sanggup Rp 10 juta.

Setelah itu, perkuat lagi amal sedekah itu dengan dzikir, doa, dan qiyamul lail, yang istiqamah selama 40 hari, misalnya. Atau lebih lama lagi. Kelak hati akan terbiasa mendorong pikiran dan jasad untuk banyak bersedekah. Juga mengikhlaskan dunia untuk menjadi bekal akhirat.

Mari memperbanyak dzikir mengagungkan asma Allah. Juga bershalawat memohonkan kepada Allah agar melimpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Lakukan masing-masing seratus, seribu, bahkan puluhan ribu kali dalam sehari.

Kelak hati menjadi terbiasa mengingat Allah. Dengan begitu Allah akan mengingat kita. Jalan hidup akan dimudahkan, dan insya Allah, pengembaraan hidup akan diakhirkan dengan tahlil, laa ilaaha illa Allah. Inilah wafat yang diidamkan semua orang. Mati yang tenang, penuh kebahagiaan. Mati yang diiringi doa banyak orang saleh dan ditangisi para ahli ibadah.

Kematian seperti itu datang dengan kearifan. Yang ajalnya dijemput merasakan ketenangan, bahkan bahagia, karena meninggalkan dunia yang fana. Bekalnya berlimpah. Bukan emas, perak, dan uang, tapi sedekah, tutur kata yang santun, amal kebaikan membantu orang lain, dan zikir yang selama di dunia, selalu dia ucapkan berkali-kali.

Sosok yang bahagia menyambut kematian adalah sahabat Rasulullah, Abu Sufyan bin Harits. Dia menggali sendiri lubang kuburannya di Baqi. Tiga hari setelah itu, dia wafat.

Hal sama juga dilakukan sufi Rabiah Adawiyah (abad ke-8). Saking cintanya kepada Allah dan Rasulullah, dia menggali kubur sendiri dan menghiasi liang kuburnya dengan khataman Alquran hingga 7.000 kali. Setelah itu, dia wafat di dalamnya.

Sosok lainnya adalah Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar (abad ke-19 akhir). Kesibukannya menggali kuburan sendiri dan mengkhatamkan Alquran di sana, seperti yang dilakukan Rabiah Adawiyah membingungkan keluarganya.

Hal itu dia lakukan 30 tahun sebelum wafat. Keluarganya menilai tindakan itu berlebihan. Namun, anggapan itu kemudian sirna dan akhirnya memahami bahwa itu adalah kesungguhan Habib Ahmad menghadapi kematian.

Tiga kisah kesungguhan menghadapi kematian tadi adalah peringatan untuk kita semua untuk memperbanyak bekal menuju alam kubur. Bekal berupa sedekah untuk menjauhkan cinta dunia, dan memperbanyak tirakat zikir dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah merindukan kita dan kelak menutup usia dengan laa ilaaha illa Allah.

Sungguh kematian yang tidak disusahi emas dan uang, seperti syair Hamzah Fanshuri. [yy/republika]

Oleh Erdy Nasrul