14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Memandang Positif Sebuah Potensi di Dunia Kelam

Memandang Positif Sebuah Potensi di Dunia KelamFiqhislam.com - “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam Islam, maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.

Ucapan itu membuat Umar bin Khatab tersenyum haru. Di saat gelombang kemurtadan menyelimuti kabilah-kabilah yang ada setelah wafatnya Rasulullah. Apalagi ucapan itu keluar dari seorang Suhail. Ingatan Umar pun  menembus bilangan waktu di perang Badar, ketika ia ingin merontokkan gigi Suhail bin Amr agar ia tidak lagi mampu menyebarkan berita-berita bohong yang menghasut Rasulullah. 

Suhail bin Amr adalah corong media kafir quraisy. Kemampuannya berorasi dengan untaian kata-kata yang menarik dan indah merupakan kekuatan tersendiri bagi kafir quraisy untuk melakukan propaganda-propaganda buruk terhadap Rasulullah dan kaum muslimin. Tapi saat ini dimana orang yang sangat menjengkelkan hati Umar ada di hadapannya dan ia ingin sekali merontokkan semua gigi Suhail. Rasulullah justru mencegahnya, "Biarkan ia. Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu bahagia."

Suhail di bebaskan dengan tebusan di perang Badar. Dan permusuhan Suhail terhadap Rasulullah dengan kaum muslimin pun tetap berlanjut. Kali ini di perjanjian Hudaibiyah. Di mana Suhail yang di anggap ahli berbicara dan bernegosiasi di utus oleh orang-orang Quraisy untuk membuat perjanjian damai dan mencegah agak kaum muslimin tidak masuk ke Mekkah.

Karena apabila kaum muslimin masuk ke kota Mekkah akan memberikan kesan kepada bangsa Arab bahwa Quraisy dan Mekkah sudah di taklukkan. Dialah otak dari isi perjanjian Hudaibiyah. Sebuah perjanjian yang membuat geram seluruh kaum muslimin termasuk Umar bin Khattab. Kegeraman yang tiada taranya, karena isi perjanjian itu benar-benar tidak menguntungkan kaum muslimin.

"Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad dan Suhail bin 'Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapapun yang ingin mengikuti Muhammad , diperbolehkan secara bebas. Dan siapapun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda, yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad tanpa izin, maka akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seorang mengikuti Quraisy, maka ia tidak akan dikembalikan. Tahun ini Muhammad akan kembali ke Madinah. Tapi tahun depan, mereka dapat masuk ke Mekkah, untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu, penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah"

Wajar kalau Umar bin Khattab begitu geram...apalagi orang yang menjadi otaknya adalah Suhail. Orang yang ingin ia rontokkan seluruh giginya di perang Badar pada saat Suhail tertawan. Hari ini ketika Mekkah, tanah air yang begitu mereka rindukan sudah di depan mata. Hari ini ketika kerinduan untuk bertawaf sudah tak tertahankan. Perjanjian itu meluluh lantakkan semua rencana dan keinginan mereka untuk melakukan umroh. Kegaduhan dan kegeraman itu menjadi reda setelah Allah  menenangkan hati mereka :

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Fath : 4)

Saat perjanjian Hudaibiyah di langgar oleh musyrikin Quraisy. Saat negosiasi Abu Sufyan untuk memperbaharui perjanjian dengan kaum muslimin di tolak. Saat 10.000 pasukan kaum muslimin yang akhirnya bergerak di bawah pimpinan Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam tidak mungkin lagi di bendung. Saat itulah Rasulullah masuk dengan sangat bersahaja ke jantung kota Mekkah. Rasulullah pun berbicara di hadapan mereka,
Apa yang akan kalian katakan?"
“Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik. Engkau saudara kami  yang mulia, putra saudara kami yang mulia
", jawab Suhail bin Amr.
Aku hanya ingin mengatakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya yaitu Tiada celaan atas kalian pada hari ini. Pergilah ! Kalian semua bebas”, sungguh jawaban Rasulullah itu seperti memporak-porandakan semua benteng kesombongan mereka. Sama sekali jauh dari dugaan mereka. Kekhawatiran akan hari pembalasan terhadap semua kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya hilang sirna. Mereka hanya melihat rasa maaf yang tulus dari seorang sosok mulia. Inilah bukti dari keagungan akhlak seorang Muhammad. Ucapan yang getarannya menyeruak masuk ke relung hati mereka, menyinari setiap sudutnya yang kelam. Begitu pula...Suhail bin Amr, pupus sudah semua kebencian terhadap diri Muhammad.

Berubah menjadi kekaguman yang mengantar ia kepada ke-Islamannya.
Semua ingatan peristiwa itu seperti di putar ulang dalam pikiran Umar bin Khattab. Setelah Rasulullah pergi, justeru orang yang ingin ia rontokkan seluruh giginya karena ucapan-ucapan busuknya menghina Rasulullah-lah yang hari ini dengan lantang berujar,

Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam Islam, maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan pernah mati.

Ia menjadi orang yang begitu tegar membela Rasulullah, bahkan setelah kepergian Rasulullah untuk menghadap Allah Subhanawata'ala.

Hari ini begitu banyak Suhail-Suhail masa Jahiliyah, baik secara individu mau pun lembaga dengan potensi mereka yang luar biasa bergerak untuk memojokkan Islam. Rasulullah telah begitu tajam mengajarkan kepada kita bagaimana melihat dan menyikapi potensi itu. Kalau ia tidak bisa di rubah untuk mendukung perjuangan Islam, paling tidak kekuatan itu tidak menjadi bagian yang memusuhi Islam. Dan pesona akhlaklah yang bisa menjawab itu semua.

Abu Hilyah