15 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 09 Desember 2022

basmalah.png

Nasionalisme dalam Pandangan Hadits

Nasionalisme dalam Pandangan Hadits

Fiqhislam.com - Nasionalisme yang menjadi dasar pembentukan negara dan karakter bangsa adalah nasionalisme yang menghargai pluralisme, humanisme, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.

Unsur-unsur nasionalisme dapat kita temukan dalam Al-Quran, yaitu; Tentang persamaan keturunan, dalam Al-Quran menegaskan bahwa Allah Swt menciptakan manusia terdiri dari berbagai ras, suku dan bangsa agar terciptanya persaudaraan dalam rangka menggapai tujuan bersama yang dicita-citakan. Al-Quran sangat menekankan kepada pembinaan keluarga yang merupakan unsur terkecil terbentuknya masyarakat, dari masyarakat terbentuk suku dan dari suku terbentuk bangsa.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kecintaan terhadap tanah air merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sejajar dengan kecintaan terhadap agama. Bermula dari itulah maka kita dapat saksikan bagaimana para ulama, kiai dan guru ngaji sangat menentang kolonialisme Belanda, sampai mereka mengeluarkan fatwa haram memakai pantaloon dan dasi karena menyerupai penjajah yang kafir.

Rasa kebangsaan (nasionalisme) tidak dapat dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh patriotisme, persatuan, pluralisme dan cinta tanah air. Cinta tanah air ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama, bahkan secara inklusif di dalam ajaran Al-Quran dan praktek Nabi Muhammad Saw.

Pengertian nasionalisme adalah sebuah paham kebangsaan dari masyarakat suatu negara yang memiliki kesadaran dan semangat cinta tanah air dan bangsa yang ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku individu atau masyarakatnya. Pada masa penyebaran agama Islam tidak dikenal tutur atau perkataan yang berkonotasi dengan kata nasionalisme.

Terminologi yang dipakai untuk menunjukan pada kaum umat Islam adalah al ummah al islamiyyah yang bermakna umat Islam. Istilah yang dapat merujuk kepada nasionalisme baru terlihat saat ekspedisi Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu, dia memopulerkan terminologi al ummah al misriyyah yang berarti umat Mesir.

Nasionalisme bisa disebut juga dengan cinta tanah air maka dalam Al-Quran sudah jelas dijelaskan bahwa cinta tanah air adalah suatu hal yang sangat berharga.

وَاِذۡ يَمۡكُرُ بِكَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لِيُثۡبِتُوۡكَ اَوۡ يَقۡتُلُوۡكَ اَوۡ يُخۡرِجُوۡكَ‌ؕ وَيَمۡكُرُوۡنَ وَيَمۡكُرُ اللّٰهُ‌ؕ وَاللّٰهُ خَيۡرُ الۡمٰكِرِيۡنَ

Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS: al-Anfal 30)”.

Para ahli hadits dan sejarah menggambarkan nabi adalah sosok yang sangat mencintai tanah airnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ad-zahabi salah satu ahli sejarah dan sirah nabi itu menyebutkan beberapa sifat nabi. Cinta tanah air menjadi sebagian dari iman apabila didasari dan diekspresikan dengan sikap patriotisme dan berbuat kebaikan sesuai dengan bidangnya masing-masing demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan tanah airnya, cinta tanah air menjadi sebagian dari iman apabila didasari dan diekspresikan dengan sikap patriotisme dan berbuat kebaikan sesuai dengan bidangnya masing-masing demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan tanah airnya.

Dalam beberapa hadits dan Sirah Nabawiyah di sebutkan bahwa Rasulullah Saw, sangat mencintai kota Makkah sebagaimana tanah airnya, karena ia dilahirkan di Makkah, diasuh oleh orang Makkah, menghabiskan masa kecil di Makkah, ayah bundanya asli penduduk Makkah, dan semua sanak familinya tinggal di Makkah.

Akan tetapi setelah beliau ditugaskan untuk berdakwah ke jalan Allah dengan menyebarkan agama Islam di Makkah maka penduduk Makkah menjadi bringas dan tak segan-segan mau membunuh dan mengusirnya, sehingga akhirnya beliau hijrah ke Madinah.

Dari situlah Madinah juga mengisi ruang hati Nabi Muhammad Saw, karena kota Madinah dan penduduknya menerima Nabi dan ddakwahnya hingga keluar ungkapan tentang doa dan kecintaan Nabi kepada tanah airnya:

اللهم حبب إلينا المدينة كما حببت إلينا مكة أو أشد

Ya Allah jadikan kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah bahkan lebih darinya.”

Para ahli hadits dan sejarah menggambarkan Nabi adalah sosok yang sangat mencintai tanah airnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh imam Ad-Zahabi salah satu ahli sejarah dan sirah Nabi itu menyebutkan beberpa sifat Nabi. Dalam melukiskan sosok Nabi beliau menyampaikan :

وكان صلى الله عليه وسلم، يحب عائشة، ويحب اباها، ويحب اسامة، ويحب سبطي ويحب الحلوأ والعسل، ويحب جبل احد، ويحب وطنه، ويحب الأنصار

Rasulullah adalah sosok yang mencintai Aisyah mencintai ayah Aisyah mencintai Usamah mencintai kedua ujungnya menyukai manis manis dan madu mencintaimu mencintai tanah airnya dan mencintai para sahabat Anshor.”

Dari kecintaan Nabi yang teramat mendalam terhadap tanah airnya ini para ulama akhirnya merumuskan bahwa disyariatkan mencintai tanah air bagi umat Islam seperti komentar para ulama atas hadits shahih riwayat Imam Bukhari berikut ini :

عن أنس رضي الله عنه، أن النبي صلي الله عليه وسلم، كان إذا قدم من سفر، فنظر الي جدرات المدينة، أوضع راحلته وإن كان علي داية حركها من حبها

Sungguh ketika nabi pulang dari bepergian beliau melihat tembok-tembok kota Madinah beliau mempercepat laju untanya dan ketika mengendarai tunggangan beliau menggerak-gerakkan tunggangannya semua ini beliau lakukan karena kecintaannya terhadap kota Madinah.” (HR: Muslim).

Sementara pakar hadits lain Ismail bin Muhammad Al-Ajluni berpendapat bahwa cinta tanah air dalam hadits di atas merupakan sebagian dari iman selama sebabnya adalah melakukan kebaikan kebaikan untuk tanah air seperti menyambung persaudaraan berbuat baik kepada penduduk tanah airnya dan mengasihi fakir miskin dan anak yatim.

Cinta tanah air menjadi sebagian dari iman apabila didasari dan diekspresikan dengan sikap patriotisme dan berbuat kebaikan sesuai dengan bidangnya masing-masing dan berbuat kebaikan sesuai dengan bidangnya masing-masing demi kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan tanah airnya. [yy/hidayatullah]

Oleh Muhammad Asyrof MBS
Mahasiswa program Studi Ilmu hadits Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta