21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

AL HAQQ | YANG MAHA BENAR

AL HAQQ | YANG MAHA BENARAL HAQQ (yang Maha Benar) adalah lawan kebathilan. Segala sesuatu akan menjadi jelas melalui lawan-lawannya. Segala sesuatu yang diketahui orang, bisa Haq (benar) sama sekali atau Bathil (salah) sama sekali, atau Haq dalam satu segi dan bathil pada segi yang lain.
 
'Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah' [Al Qashash:88].
 
Dengan demikian Dia itu abadi, bukan dalam satu keadaan dengan mengesampingkan yang lainnya. Ini karena segala sesuatu selain Dia, tidaklah patut esensinya itu wujud, namun hanya patut wujud berkat Dia. Yang mutlak benar adalah yang benar-benar wujud, yang dari-Nya setiap sesuatu yang benar mendapatkan kenyataan yang benar. Wujud yang pantas disebut Haq adalah Allah azza wa jalla, dan pengetahuan yang pantas disebut adalah pengetahuan-Nya.
 
Dia dapat disamakan melalui diri-Nya sendiri dan bukan melalui sesuatu yang lain, karena sepanjang ada hal lain maka Dia menjadi tiada. Sesuatu yang paling pantas disebut benar adalah yang keberadaannya terjadi karena keberadaannya itu sendiri untuk selamanya, maka Pengetahuannya maupun buktinya adalah haq untuk selamanya.
 
Manusia yang menteladani Asma Allah menyadari bahwa segala sesuatu termasuk dirinya adalah bathil, hanya Allah-lah yang haq dan segala yang haq bersumber dari-Nya. Bagaimanapun dia ada berkat keberadaan-Nya dan bukan dengan sendirinya ada.
 
'Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah ?' [Al A'raaf:185].
 
Orang-orang yang benar (shiddiqin) tidak melihat apapun, kecuali Allah Ta'ala, sehingga mereka mengutip Dia sebagai saksi untuk diri-Nya sendiri.
 
'Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslahbagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?' [Fushilat:53].
 
'Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya' [Al An'aam:91]
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya penopang (kekuatan) sebuah rumah bergantung kepada fondasinya, sedangkan penopang agama bergantung pada Ma'rifatnya kepada Allah ta'ala, keyakinan dan akal yang dapat menundukkan (hawa nafsu). Aku (Aisyah) bertanya: Demi ayah dan ibuku, menjadi tebusan anda, apakah akal dapat menundukkan itu?. Beliau menjawab: Mampu menahan (menjaga diri) dari berbuat durhaka terhadap Allah dan selalu bersemangat untuk menaati Allah azza wa jalla' [Ad-Dailami].
 
Semua ilmu adalah ma'rifat dan semua ma'rifat adalah ilmu. Setiap orang yang alim tentang Allah azza wa jalla berarti seorang yang arif dan setiap yang arif berarti alim.
 
Abu Ali Ad Daqqaq berkata: 'Termasuk salah satu tanda ma'rifat kepada Allah azza jalla adalah memperoleh haibah (karomah dan wibawa) dari Allah. Semakin tinggi ma'rifat seseorang, semakin tambah haibahnya. Ma'rifat itu memjadikan ketenangan maka barangsiapa yang bertambah ma'rifatnya niscaya iapun akan bertambah tenang'
 
Dikalangan sufi ma'rifat adalah sifat dari orang yang mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya yang mulia dan berlaku tulus kepada Allah SWT, kemudian menyucikan dirinya dari sifat-sifat yang rendah, yang senantiasa iktikaf dalam hatinya. Dan ia menikmati keindahan dekat dengan-Nya, yang mengukuhkan ketulusan dalam segala keadaan.
 
Menghilangkan segala kotoran jiwanya dan tidak mencondongkan hatinya pada pikiran apapun selain Allah azza wa jalla, istiqomah dalam suka cita bersama Allah SWT dalam munajatnya. Disetiap detik tarikan nafasnya ia senantiasa kembali kepada-Nya, senantiasa berbicara dari sisi Al Haqq melalui pengenalan rahasia-rahasia-Nya.
 
Allah Azza wa jalla mengilhaminya dengan membuatnya menyadari rahasia-rahasia akan ketentuan dirinya. Pada saat itu ia disebut orang arif, dan keadaannya dinamakan ma'rifat. Seorang aif tidak ada keterikatan. Seorang yang cinta tidak pernah mengeluh. Seorang hamba tidak mempunyai tuntutan. Seorang yang takut kepada-Nya. Merasakan tidak ada tempat yang aman dan bagi setiap orang tidaklah ada tempat untuk lari dari Allah ta'ala.
 
'Barangsiapa yang telah ma'rifat kepada Allah, kehidupannya menjadi cerah dan nikmat. Segala sesuatu akan segan kepadanya, hilang perasaan takut kepada makhluk dan merasakan kenikmatan bertemu dengan-Nya'.
 
'Orang arif tidaklah berurusan selain dengan Dia. Tidak pula ia berbicara tentang sesuatu selain-Nya dan tidak melihat satu pelindungpun bagi dirinya selain Dia yang Maha Benar'.
 
'Orang arif memperoleh kesenangan dengan dzikir kepada Allah azza wa jalla dan disegani oleh makhluk-Nya. Dirinya membutuhkan Allah dan Dia membuatnya tidak butuh kepada makhluk. Sang arif selalu merasa hina dihadapan Allah, tetapi Allah memuliakannya dihadapan makhluk-Nya'.
 
'Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku' [Adz Dzariyat:56].
 
Imam Al-Ghazali
foto madaniwallpaper.com