21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

AL WAHHAB | YANG MAHA PEMBERI

AL WAHHAB |  YANG MAHA PEMBERIKarunia merupakan hadiah yang bebas dari imbalan dan kepentingan. Jika karunia yang bersifat seperti ini banyak jumlahnya, pihak yang memberikannya dapat disebut sebagai pemberi atau dermawan. Namun, kedermawanan tidak dapat benar-benar dibayangkan kecuali dari Allah semata, karena Dia-lah yang memberi setiap manusia apa yang dibutuhkannya, bukan untuk mendapatkan balasan atau kepentingan tertentu, sekarang ataupun dimasa yang akan datang.
 
Akan tetapi siapapun yang memberikan sesuatu dengan maksud agar kepentingannya terwujud cepat atau lambat, dia bukanlah pemberi dan juga dermawan. Apa saja yang belum dapat dicapai, tetapi bermaksud mencapainya dengan bermurah hati memberikan sesuatu, hal tersebut dianggap mengharapkan balasan.
 
Kedermawanan sejati adalah memberikan keuntungan-keuntungan kepada orang lain, namun bukan bertujuan agar si pemberi mendapat imbalan keuntungan. Sesungguhnya siapapun yang melakukan sesuatu karena akan dicela kalau tidak melakukannya, dia sedang membebaskan dirinya dengan jalan melakukan sesuatu, hal itu adalah kepentingan dan mengharapkan imbalan.
 
Makna lafazh 'Al Wahhab' menekankan bahwa pada hakikatnya tidak mungkin tergambar dalam benak, mengenai adanya yang memberi, siapapun yang membutuhkannya tanpa mengharapkan imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah Azza wa Jalla.
 
Karena siapa yang memberi disertai dengan tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau mendapatkan kehormatan, dia bukanlah 'Wahhab'. Makhluk tidak mungkin memberi secara berkesinambungan sedang Allah dapat memberi secara berkesinambungan dan tanpa batas.
 
'Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi' [Shaad:9]
 
'(Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)' [Ali Imran:8]
 
'(Nabi Sulaiman) ia berkata : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi' [Shaad:35]
 
Murah hati adalah mengorbankan milik dan jiwanya, demi Allah semata, bukan demi tercapainya kenikmatan Surga atau bukan demi terhindarnya dari siksa Neraka, atau bukan demi keuntungan yang ingin disegerakan atau keuntungan dimasa yang akan datang.
 
Setingkat dibawahnya adalah orang yang memberi dengan sukarela demi tercapainya kenikmatan Surgawi dan tingkat dibawahnya adalah orang yang memberi untuk mendapat pujian. Karena tujuan dari kemurahan hati (kedermawanan) adalah 'keridhaan Allah Azza wa Jalla, kesempatan bertemu dengan-Nya dan dapat mencapai-Nya, karena inilah kebahagiaan yang hakiki dari kemurahan hati (kedermawanan) dan terlihat secara dzahir bahwa dia tidak mendapat apa-apa dari kedermawanannya'.
 
Perhatikan hubungan orang tua kepada anak-anaknya, mereka perduli kepada mereka bukan karena keuntungan yang akan didapatkan dari anaknya dan apabila anak-anaknya tidak memberikan keuntungan kepada orang tua mereka maka para orang tua tidak merubah keperdulian mereka kepada anak-anaknya.
 
Apabila orang mencari sesuatu demi sesuatu yang lain dan bukan demi sesuatu itu sendiri, seakan-akan dia tidak mencari sesuatu itu sendiri, karena hal itu bukan tujuan yang hendak dicapainya.
 
Ini seperti orang yang mencari emas, dia tidak mencari emas demi emas, namun demi mendapatkan makanan atau pakaian melalui emas. Makanan dan pakaianpun tidak dicari demi makanan dan pakaian, tetapi sebagai alat demi memuaskan kenikmatan atau untuk menghilangkan penderitaan.
 
Maka siapapun yang beribadah kepada Allah demi mendapatkan kenikmatan Surga, berarti dia telah menjadikan Allah sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan yang hendak dicapainya. Tanda bahwa sesuatu itu merupakan sarana adalah tidak ada seorangpun yang mencari sesuatu itu jika keuntungannya dapat diperoleh tanpa sesuatu itu.
 
Jika sesuatu itu dapat dicapai tanpa emas, maka emas tidak akan disukai dan tidak akan dicari, karena sesungguhnya yang disukai adalah manfaat yang dicari bukan emas. Dan jika merasa Surga dapat dicapai oleh orang yang beribadah kepada Allah demi Surga itu, maka sesungguhnya dia tidak beribadah, karena yang dicari dan yang disukainya adalah Surga itu sendiri.
 
Barangsiapa yang hanya mencintai Allah semata dan hanya mencari kedekatan dengan-Nya, maka dia-lah yang disebut orang yang beribadah kepada-Nya, bukan mencari keuntungan, karena Allah itu sendirilah keuntungan dan selain Dia bukanlah keuntungan.
 
Maka Allah-lah yang sesungguhnya tujuan akhir seseorang sejak dari awalnya. Kebanyakan makhluk berbuat keji kepada dirinya ketika beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu seperti orang upahan, yang bekerja demi upah yang diharapkannya, maka sikap seperti ini tidak akan memahami kenikmatan menatap wajah Allah Azza wa Jalla, karena mereka hanya mempercayai-Nya sebatas ucapan-ucapan.
 
Jika seseorang yang mencapai sesuatu itu semakin baik keadaannya dibanding bila tidak mencapainya, maka sesungguhnya hal itu bukanlah suatu perolehan, karena perolehan yang hakiki adalah tercapai atau tidaknya sesuatu itu tetap merubah keadaannya semakin baik.
 
Rasulullah Saw bersabda: "Apabila ahli Surga telah tinggal di Surga, Allah mengutus Ruhul Amin, dia berkata: `Wahai ahli Surga,sesungguhnya Tuhan kalian mengucapkan salam kepada kalian. Dia menyuruh kalian agar berkunjung kepada Tuhan kalian ke halaman Surga yang tanahnya adalah misik, kerikilnya adalah yaqut dan mutiara, pohonnya adalah emas dan daunnya adalah jamrud`"
 
Mereka (ahli Surga)pun keluar, kemudian Allah Ta'ala menyuruh Daud as, lalu dia menyaringkan suaranya membaca Zabur. Kemudian diletakkan hidangan Khuld (surga) yang lebih luas daripada jarak Masyrik dan maghrib.
 
Lalu Allah Ta'ala berfirman: berilah makan kekasih-kekasih-Ku!.
 
Diberikan kepada mereka tujuh puluh makanan, lalu mereka memakannya.
 
Kemudian Allah Ta'ala berfirman: berilah buah-buahan kepada kekasih-kekasih-Ku!.
 
Lalu mereka memakan buah-buahan, kemudian Allah berfirman : berilah minum kekasih-kekasih-Ku!.
 
Lalu didatangkan kepada mereka arak yang disegel dan mereka meminumnya.
 
Kemudian Allah Ta'ala berfirman: berilah mereka pakaian!.
 
Lalu muncullah sebuah pohon yang daunnya pakaian-pakaian, masing-masing diberi tujuh ratus pakaian yang sebagian dari pakaian itu tidak menyerupai sebagian lainnya.
 
Kemudian mereka diseru: Wahai kekasih-kekasih Allah!, apakah ada sesuatu dari yang Tuhan kalian janjikan kepada kalian yang belum diberikan?.
 
Lalu berkata: Tidak, kecuali memandang wajah Allah SWT.
 
Maka Tuhan mereka yang Mahasuci lagi Maha Tinggi menampakkan diri kepada mereka. Mereka jatuh dalam keadaan sujud kepada-Nya.
 
Lalu Allah SWT berfirman: Angkatlah kepala-kepala kalian. Sesungguhnya Surga itu bukanlah tempat amal, melainkan tempat pahala.
 
Mereka melihat Allah SWT dan mengatakan: Mahasuci Engkau, kami tidak dapat beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benarnya ibadah.
 
Allah SWT berfirman: Aku menempakan kalian ditempat-Ku dan Aku meberikan kalian Ridha-Ku!.
 
Lalu Allah Ta'ala memberi izin kepada Surga berbicara dan Surga mengatakan: Berbahagialah bagi orang yang menempatiku dan berbahagialah bagi orang yang kekal didalamku.
 
Hal itu sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla: 'Bagi mereka kebahagiaan tempat kembali yang baik' [Ar Ra'd : 29].
 
Kemudian dikatakan kepada mereka: berharaplah kalian.
 
Maka mereka mengatakan: 'kami mengharapkan Ridha-Mu'.
 
Imam Al-Ghazali
foto madaniwallpaper.com

____________________oooOooo___________________

 

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS Ali Imran: 08)

 
Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Pemberian-Nya tanpa syarat, juga tanpa batas. Tak terukur, juga tak ternilai. Tak ada satupun yang mampu menyamai pemberian-Nya. Tak pula satupun yang mampu menghitung anugerah-Nya.
 
Al Wahhab, Dia adalah Maha pemberi. Langit diberi-Nya awan, agar manusia di bumi ternaungi. Langit diberi-Nya awan, agar air kembali turun ke bumi dan menyuburkan tanah. Langit diberi-Nya awan, agar para sastrawan juga mendapat inspirasi.
 
Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Burung dengan merdu berkicau, singa dengan gagah  mengaum. Bukankah begitu indah dan penuh harmoni semua yang dianugerahkan?
 
Diberikan manusia sebaik-baik rupa. Diberikan manusia setinggi-tinggi akal untuk menalar. Diberikan manusia sedalam-dalamnya hati untuk merasa. Diberikan manusia daya untuk berusaha sekuat-kuatnya.
 
Maha Suci Allah yang Maha Pemberi. Dia yang selalu menjawab doa dan memberikan segala yang dipinta hamba. Sungguh luas karunia-Nya. Cacing di dalam tanah, mendapatkan jatahnya. Burung yang tak tahu akan terbang kemana, juga mendapatkan rezekinya. Apalagi manusia, makhluk yang sangat dicintai-Nya, atas izin-Nya dan dengan segala usaha, ada banyak anugerah yang mampu didapatkan manusia.
 
Wahai hamba yang mendamba, jika ingin segala hasrat baik diijabah, dzikirkan selalu dari bibirmu, ya Wahhab. Tiada henti, tiada lelah. Insya Allah, Tuhan yang Maha Memberi akan mengabulkan segala.
 
Tapi ada satu pertanyaan yang tersisa, tidakkah kita malu dengan segala pemberian-Nya yang tidak sebanding dengan ketaatan yang kita sembahkan? Sungguh, Maha Suci Allah yang selalu memberi, meski dengan segala kealpaan kita yang selalu terjadi. Semoga Allah senantiasa memberi ampunan-Nya.
 
Herry Nurdi