21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Udar al-Karimah, Ratu Pemurah Dicinta Rakyat

Udar al-Karimah, Ratu Pemurah Dicinta Rakyat

Fiqhislam.com - Kesuksesan seorang anak tidak terlepas dari contoh yang diteladani dari sang ibu.

Kepemimpinan Sultan Sayf al-Islam Mujahid Ali bin al-Muayyad Hizbir al-Din Daud yang memerintah sejak tahun 724 -765 Hijriyah membawa Yaman saat itu ke dalam kejayaan. Sepak terjangnya tak bisa dilepaskan dari sosok sang ibu, Ad al-Udar al-Karimah.

Nama lengkapnya Ad al-Udar al-Karimah Shaihaab Din Salah. Tak hanya menjadi ibu suri, al-Udar juga turun menjadi pemimpin kerajaan.

Dia pernah mengambil alih kekuasaan sementara selama 14 bulan. Ketika itu anaknya harus pergi untuk berperang bergabung dengan pasukan tentara untuk melindungi Mesir. Meski hanya satu tahun dua bulan, kepiawaian sang Ratu patut diakui dalam politik dan pemerintahan.

Al-Udar dikenal sebagai Lord Lady of Pity. Kasih sayangnya terhadap rakyatnya sangat besar, terutama bagi warga yang miskin.

Dia selalu menyempatkan waktunya setiap hari untuk mengunjungi rakyatnya. Dia melakukan kunjungan ke setiap rumah warganya yang membutuhkan.

Sambil berkunjung al-Udar selalu memberikan hadiah sehingga beban berat yang dialami oleh rakyatnya akan berkurang karena merasa bahagia dikunjungi oleh ratunya.

Sifat dermawan dan simpatinya telah dikenal di seluruh negeri. Bahkan, al-Udar tak jarang mendengarkan curahan hati rakyatnya, bahkan hingga satu hari penuh.

Saat kepemimpinannya berlangsung, dia terus membuat aturan agar selalu diadakan kegiatan amal. Menurut perintahnya, kegiatan amal itu harus dilakukan secara merata tidak hanya di satu daerah, tetapi juga seluruh negeri.

Selain jiwa sosialnya yang sangat tinggi, al-Udar dikenal sebagai pelindung agama dan pendidikan. Saat memimpin, dia terus melakukan pembangunan sekolah dan masjid.

Dia berharap rakyat yang dipimpinnya sejahtera dan tidak ada yang menderita kemiskinan.

Selain jiwa sosialnya yang tinggi, al-Udar memiliki keahlian dalam politik dan pemerintahan.

Hal itu ditunjukkan olehnya ketika membuat aturan agar pemerintahan dari bawah hingga atas harus memiliki administrasi yang tertib sehingga tidak terjadi penyelewengan keuangan dan penyalahgunaan fasilitas negara.

Selain itu, al-Udar juga membuat sistem pengamanan internal. Sistem keamanan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi juga dikombinasikan dengan sistem administrasi yang dilakukan sebelumnya sehingga pemerintahan pun tertata dan teratur. Pada masa itu, Yaman memiliki politik, ekonomi, dan budaya yang kuat dan mandiri.

Yaman menjadi negara terkuat dalam Islam pada abad pertengahan sehingga pemerintahan di Yaman pada masa itu adalah periode yang terlama di antara lainnya sebelum ditaklukkan oleh dinasti lain.

Kerajaan Yaman pada zaman itu telah dikenal ahli dalam bidang ilmiah. Tidak heran jika al-Udar mampu mengelola pemerintahan dengan apik karena mereka telah menguasai ilmu astrologi, kedokteran, pertanian, linguistik, dan undang-undang.

Mereka telah banyak membangun tidak hanya sekolah dan masjid, tetapi juga memperbanyak pembangunan rumah, benteng, jalan, dan saluran air.

Bahkan, madrasah pun berkembang di setiap sudut kota. Proyek pembangunan pun berkembang hingga ke Makkah.

Meskipun hanya memimpin 14 bulan, cukup banyak bagian dari pemerintahan yang diubahnya menjadi lebih baik. Tidak lama saat tampuk kepemimpinannya dikembalikan pada anaknya, al-Udar pun wafat.

Dia wafat pada 1360 Masehi atau 762 Hijriyah. Hingga saat ini, usia dan kelahirannya pun belum diketahui dan tercatat di manapun.

Oleh Ratna Ajeng Tejomukti
yy/republika