pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


9 Dzulqa'dah 1442  |  Sabtu 19 Juni 2021

Tokoh Kunci Dalam Kejayaan Peradaban Islam

Tokoh Kunci Dalam Kejayaan Peradaban Islam

Fiqhislam.com - Pada masa Dinasti Abbasiyah, Kota Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia. Hal ini dipengaruhi oleh kepemimpinan Dinasti Abbasiyah yang memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. 

Itu ditunjukkan dengan dukungan mereka terhadap gerakan pengkajian dan penerjemahan karya-karya agung terdahulu. Seperti, dari tamadun (peradaban) Yunani, Parsi, Hindi, dan Cina, khususnya dalam bidang sains, falsafah, ketabiban, astronomi, kimia, dan matematika.
 
Dari beberapa khalifah yang memerintah, terdapat tiga tokoh kunci (utama) yang berhasil menjadi legenda dunia ilmu pengetahuan pada Dinasti Abbasiyah. Ketiga tokoh tersebut adalah Khalifah al-Manshur, Harun al-Rasyid dan al-Ma'mun. 
 
Ketiganya menggelorakan semangat para penuntut ilmu untuk mendalami berbagai ilmu pengetahuan dengan dukungan sarana dan prasarana yang sangat memadai. Karena, banyak sarjana dari berbagai belahan dunia, menuntut ilmu pada masa pemerintahan ketiga tokoh ini.
 
Khalifah al-Manshur
 
Abu Jafar Abdullah bin Muhammad al-Mansur (712-775 M) merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di al-Humaymah, kampung halaman keluarga Abbasiyah setelah bermigrasi dari Hijaz pada 687-688.
 
Ayahnya bernama Muhammad, cicit dari Abbas. Ibunya bernama Salamah al-Barbariyah--wanita dari suku Barbar. Ia dibaiat sebagai khalifah karena penobatannya sebagai putra mahkota oleh kakaknya, As-Saffah, pada tahun 754 dan berkuasa sampai 775. 
 
Pada 762, ia mendirikan ibu kota baru dengan istananya Madinat as-Salam, yang kemudian menjadi Baghdad. Selama kepemimpinannya, banyak bermunculan aneka karya sastra di dunia Islam. Ia juga mendukung toleransi dengan orang-orang Persia dan kelompok lain.

Al-Mansur meninggal pada 775 M dalam perjalanannya ke Makkah untuk berhaji. Dan, ia digantikan oleh putranya yang bernama al-Mahdi.

Khalifah Harun al-Rasyid
 
Harun al-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 M dan wafat pada 24 Maret 809 di Thus, Khurasan. Harun al-Rasyid adalah kalifah kelima dari Kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786-809 M. 
Ayahnya bernama Muhammad al-Mahdi, khalifah yang ketiga. Kakaknya, Musa al-Hadi adalah khalifah yang keempat. Ibunya, Jurasyiyah, dijuluki Khayzuran dan berasal dari Yaman.
 
Meski berasal dari Dinasti Abbasiyah, Harun al-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran). Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid al-Barmak.
 
Era pemerintahan Harun hingga al-Ma'mun, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam). Saat itu, Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.
 
Sepeninggalnya, pemerintahan dipimpin oleh putranya yang bernama Muhammad bin Harun al-Amin dan lebih dikenal dengan al-Amin. Ia memerintah tahun 809-813 M.
 
Khalifah al-Ma'mun
 
Khalifah al-Ma'mun al-Rasyid, lahir pada 14 September 786 M (15 Rabiul Awal 170 H) dan meninggal pada 9 Agustus 833 M. 
 
Ia bergelar Abu al-Abbas dengan nama asli Abdullah bin al-Rasyid bin al-Mahdi. Ia meneruskan Dinasti Abbasiyah setelah saudaranya, al-Amin, wafat pada 813 M. Ia memerintah dari tahun 813-833 M. Dan, ia meninggal dalam usia 48 tahun.
 
Ayahnya adalah Khalifah Harun al-Rasyid. Sedangkan ibunya adalah seorang bekas budak yang bernama Murajil. Lantaran sang ibu bukan dari keturunan Abbasiyah, pada 802 M sang ayah mewariskan singgasana kekhalifahan kepada putranya yang lain bernama al-Amin. 
 
Sedangkan, al-Ma'mun ditunjuk sebagai gubernur Khurasan dan akan menjadi khalifah setelah al-Amin. Setelah sang ayah wafat pada 809 M, hubungan dua saudara berlainan ibu itu memburuk.
 
Konflik semakin memburuk setelah al-Amin yang menjadi khalifah memecat al-Ma'mun dari posisi gubernur Khurasan. Al-Amin menunjuk putranya untuk menggantikan posisi pamannya di Khurasan.

Al-Ma'mun menganggap keputusan itu sebagai pelanggaran terhadap wasiat sang ayah, Harun al-Rasyid. Keduanya lalu berperang. Dengan bantuan pasukan Khurasan pimpinan Tahir bin Husain, al-Ma'mun berhasil mengalahkan kekuatan al-Amin.

Khalifah al-Ma'mun dikenal sebagai figur pemimpin yang dianugerahi intelektualitas yang cemerlang.

Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Kemampuan dan kesuksesannya mengelola pemerintahan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Berkat inovasi dan gagasannya yang brilian, Baghdad sebagai ibu kota Abbasiyah, menjadi pusat kebudayaan dunia. Seperti ayahnya, Harun al-Rasyid, al-Ma'mun juga mencintai ilmu pengetahuan.

Perpustakaan Baitul Hikmah yang didirikan Khalifah Harun al-Rasyid dikembangkan menjadi sebuah lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan ilmuwan Muslim terkemuka di dunia melalui madrasah-madrasah Nizhamiyah.

Usaha penerjemahan karya agung dari tamadun-tamadun terdahulu sekaligus telah meletakkan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dunia.

Dengan demikian, memberi peluang kepada umat Islam mendekati karya-karya ini, dengan mengharmonikan falsafah-falsafah ilmu yang terdapat dalam peradaban ini dengan ajaran agama Islam.

Maka, lahirlah para ilmuwan Islam yang bukan sekadar alim dalam ilmu fardhu'ain. Mereka juga arif tentang ilmu-ilmu fardhu kifayah. Nama-nama, seperti al-Farabi, al-Biruni, al-Kindi, al-Ghazali, Ibn Sina, Ibn Baitar, Ibn Nafis, Ibn Rushd mewakili ilmuwan Islam yang mahir dalam ilmu agama dan pakar dalam ilmu mereka masing-masing.

Di era kepemimpinannya,
Kekhalifahan Abbasiyah menjelma sebagai adikuasa dunia yang sangat disegani. Wilayah kekuasaan dunia Islam terbentang luas mulai dari Pantai Atlantik di Barat hingga Tembok Besar Cina di Timur.

Dalam dua dasawarsa kekuasaannya, sang khalifah juga berhasil menjadikan dunia Islam sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan peradaban di dunia.

Kehebatan mereka tidak sekadar pada ilmu yang ada di dada. Malah mereka memperturunkan ilmu melalui pelbagai penulisan kitab yang menjadi khazanah ilmu bagi umat Islam hingga hari ini.

Selain itu, karya mereka juga telah dimanfaatkan oleh bangsa Eropa sehingga mereka berjaya dan muncul sebagai bangsa yang menguasai ilmu.

Oleh Syahruddin El-Fikri
yy/republika.co.id