12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Hujjatul Islam: Ahmad Marzuki Al-Batawi, Pelopor Pesantren di Batavia

Hujjatul Islam: Ahmad Marzuki Al-Batawi, Pelopor Pesantren di Batavia

Fiqhislam.com - Salah satu ulama Betawi terkemuka di abad ke-19 adalah Ahmad Marzuki bin Syekh Ahmad Al-Mirshad bin Khatib Sa’ad bin Abdul Rahman Al-Batawi.

Atau lebih dikenal dengan nama Guru Marzuki dari Klender yang dilahirkan tahun 1876 dan meninggal pada tahun 1934.

Ayah Guru Marzuki adalah Syekh Ahmad Al-Mirshad, keturunan keempat Kesultanan Melayu Patani di Thailand Selatan yang hijrah ke Batavia.

Ia adalah ulama Betawi generasi kelima setelah Syekh Ahmad Junaidi Al-Batawi (pernah menjadi imam di Masjidil Haram), Guru Mujtaba, Guru Manshur dan Habib Utsman bin Yahya.

Bersamaan dengan Guru Marzuki di masa yang sama, terkenal juga lima ulama lainnya yaitu KH Moh Mansur (Guru Mansur) dari Jembatan Lima, KH Abdul Majid (Guru Majid) dari Pekojan, KH Ahmad Khalid (Guru Khalid) dari Gondangdia, KH Mahmud Romli (Guru Mahmud) dari Menteng Dalam dan KH Abdul Mughni (Guru Mugni) dari Kuningan.

Seperti ulama terkemuka masa itu, Guru Marzuki pun sempat hijrah ke Makkah di usia 16 tahun. Selain melaksanakan ibadah haji, ia juga menimba ilmu agama selama tujuh tahun di sana.

Selama masa belajarnya di Makkah ia menerima pembelajaran tentang Islam melalui pengajian halaqah di masjid-masjid.

Namun saat kembali ke Tanah Air, Guru Marzuki membuat terobosan dengan melakukan metode belajar yang berbeda dengan pengalamannya di Tanah Suci.

Dan berbeda pula dibandingkan metode belajar yang dikembangkan para ulama Betawi kala itu yang lebih memilih halaqah atau majelis taklim sesuai pengalaman mereka. Guru Marzuki mendirikan sebuah pondok pesantren yang umum dilakukan para ulama Jawa.

Sempat mengajar di Masjid Rawabangke selama lima tahun sesuai permintaan Sayid Usman Banahsan, Guru Marzuki hijrah dan menetap di Cipinang Muara.

Di sinilah ia mendirikan pesantren setingkat Aliyah. Sekitar 50 orang santri mondok dan belajar di sini. Seluruh santri datang dari wilayah Jakarta dan Bekasi, terutama Jakarta bagian utara dan timur.

Dikisahkan dalam laman www.alkisah.web.id, Guru Marzuki lebih memilih metode pembelajaran di luar kelas, yaitu beratapkan langit dan berlantaikan tanah dan rerumputan.

Dalam menyelami pelajaran agama secara bersamaan para santri juga didekatkan pada alam. Guru Marzuki mengajarkan santrinya sambil berjalan di kebun miliknya yang cukup luas. Dan sambil belajar santri juga diajak berburu bajing atau tupai.

Kemana sang guru melangkah para murid mengikutinya dalam susunan berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas empat atau lima orang mempelajari kitab sejenis. Di mana setiap kelompok terdapat juru baca yang bertugas membaca bagian kitab yang dipelajari.

Setelah juru baca selesai membaca, sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setelah satu kelompok selesai belajar, kelompok lain yang mempelajari kitab lain menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Begitu seterusnya hingga seluruh kelompok mendapatkan giliran untuk mempelajari pegangan kitab masing-masing.

Namun, sesekali Guru Marzuki juga mengajar sambil duduk di dalam masjid. Ini ia lakukan hanya jika mengajar untuk khalayak umum.

Di sela pengajaran untuk umum, Guru Marzuki juga mendaulat santrinya satu per satu untuk membaca isi kitab yang sedang dibahas. Kemudian sang guru memberi penjelasan atas bacaan santri-santrinya itu.

Meski begitu, metode pengajaran Islam yang dikenalkan oleh Guru Marzuki di tanah Batavia ini belum  begitu diterima. Masyarakat Batavia di masa itu lebih cocok dengan metode halaqah di masjid.

Di mana mereka bisa mengatur waktu untuk menghadiri halaqah dan pembahasannya yang lebih umum dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Pondok pesantren pertama di Batavia ini pun tutup setelah Guru Marzuki meninggal.

Ahmad Marzuki Al-Batawi dan juga kelima ulama terkemuka yang sama-sama berkarya akhir abad 19 dan awal abad 20 berhasil menyebarluaskan ajaran Islam dan juga meningkatkan intelektualitas di seluruh penjuru tanah Batavia.

Begitu juga mendidik ulama-ulama terkemuka yang meneruskan ajaran-ajaran gurunya.

Para juru baca di kelompok santri pesantren kemudian menjadi ulama terpandang di masyarakat Betawi. Sebagian dari mereka meneruskan metode ajar Guru Marzuki dengan mendirikan pondok pesantren dan juga lembaga pendidikan Islam yang masih bisa ditemui saat ini.

Para santri itu di antaranya KH Noer Alie (pendiri Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Mukhtar Thabrani (pendiri Pesantren An-Nur, Bekasi), KH Abdul Malik (putra Guru Marzuki), KH Zayadi (pendiri Perguruan Islam Az-Ziyadah, Klender), dan KH Abdullah Syafi’i (pendiri Pesantren Asy-Syafi’iyah, Jatiwaringin).

Selain itu, ada pula KH Ali Syibromalisi (pendiri Perguruan Islam Darussa’adah dan mantan Ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta), KH Abdul Jalil (tokoh ulama dari Tambun, Bekasi), KH Aspas (tokoh ulama dari Malaka, Cilincing), KH Mursyidi dan KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Islam Al-Falah, Klender).

Selain Guru Malik, putra-putra Guru Marzuki lainnya mengikuti jejak ayahnya menjadi ulama. Yaitu KH Moh Baqir (Rawabangke), KH Abdul Mu’thi (Buaran, Bekasi) dan KH Abdul Ghofur (Jatibening, Bekasi).

Salah satu santrinya, KH Noer Ali, selain dikenal pandai dalam hal agama juga menjadi seorang politikus. Kepada Noer Ali sebelum berlayar menuju Makkah, Guru Marzuki berpesan agar tak lupa untuk juga belajar pada Syekh Al-Maliki. Noer Ali mendapatkan ilmu hadis dari Syeikh Al-Maliki. Ajaran Guru Marzuki sendiri dikenal kental dengan mazhab Syafi'i.

Guru Marzuki beserta lima ulama terkemuka Betawi yang disebut sebagai ''Enam Pendekar Betawi'' berhasil memperkuat dan memperluas ajaran Islam. Yang kelak meneruskan tradisi ulama terkemuka Betawi yang diakui masyarakat.

Guru Marzuki yang menjadi guru para ulama Betawi memiliki garis keturunan Madura.

Ia memiliki ibu yang berasal dari Madura bernama Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura. Ibunya berasal dari keturunan Ishaq yang makamnya berada di Kota Gresik, Jawa Timur.

Tiga tahun setelah ayahnya meninggal yaitu pada usia 12 tahun, Marzuki kecil menimba ilmu fikih termasuk memperdalam Alquran dan ilmu dasar bahasa Arab dari seorang ahli fikih bernama Haji Anwar. Ia pun berpisah dari sang ibu.

Perjalanan pendidikannya dilanjutkan dengan mempelajari kitab-kitab klasik yang dibimbing oleh ulama Betawi bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahsan.

Menginjak usia 16 tahun, seiring bertambahnya keingintahuan tentang ilmu Islam, Guru Marzuki pun menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah selama tujuh tahun.

Di Tanah Suci inilah, pengetahuan Guru Marzuki semakin luas. Ia belajar dan dibimbing oleh ulama-ulama Haramain untuk mendalami berbagai cabang ilmu Islam. Di antaranya Syekh Muhammad Amin bin Ahmad Radhwan Al-Madani, Syekh Umar Bajunaid Al-Hadhrami, dan Syekh Abdul Karim Al-Daghistani.

Selain itu, ia juga dibimbing oleh Syekh Mukhtar bin Atharid Al-Bogori, Syekh Ahmad Al-Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Umar Al-Sumbawi, Syekh Mahfuzh Al-Termasi, Syekh Sa’id Al-Yamani, Syekh Shaleh Bafadhal, Syekh Umar Syatta Al-Bakri Al-Dimyathi dan Syekh Muhammad Ali Al-Maliki.

Ilmu yang dipelajari meliputi nahwu, sharaf, balaghah (ma‘ani, bayan dan badi‘), fikih, ushul fikih, hadits, mustholah hadits, tafsir, mantiq (logika), fara’idh hingga ilmu falak (astronomi).

Bahkan dalam bidang tasawuf, Guru Marzuki memperoleh ijazah untuk menyebarkan tarekat Al-Alawiyah dari Syekh Umar Syatta Al-Bakri Al-Dimyathi.

Kepiawaiannya dalam berbagai cabang ilmu Islam ini mengukuhkan Guru Marzuki sebagai guru para ulama Betawi masa itu. Ia pun mendapatkan gelar dari seorang sultan tanah Melayu di negeri Pattani, Thailand Selatan, dengan nama Laksmana Malayang.

republika.co.id