12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Asy-Syifa binti Al-Harits, Muslimah Pendidik Umat

Asy-Syifa binti Al-Harits, Muslimah Pendidik Umat

Fiqhislam.com - Sejak zaman Rasulullah SAW, kaum wanita  telah menempati peran penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kaum Hawa tak hanya betugas mengurus anak dan suami di rumah, namun juga bisa berkarya dan berprestasi. 

Salah seorang mujahidah sekaligus sahabat Rasulullah SAW yang berperan penting di awal perkembangan Islam adalah Asy-Syifa binti Al-Harits.

Nama lengkapnya adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab Al-Qurasyiyyah Al-Adawiyah. Ia telah mendedikasikan dirinya sebagai pendidik atau guru wanita yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para Muslimah pada zamannya.

Seperti dikisahkan Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Mushthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dalam “Nisaa’ Haula Ar-Rasul” (Wanita Teladan di Zaman Rasulullah SAW),  Asy-Syifa dikenal sebagai Muslimah yang cerdas dan utama.

''Ia merupakan salah seorang tokoh Islam yang menonjol dan di dalam dirinya terhimpun pengetahuan dan keislaman,'' tulis Al-Istanbuli dan Abu An-Nashr.

Asy-Syifa memeluk Islam sebelum Rasulullah SAW melakukan Hijrah. Ia termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berbaiat kepada Rasulullah saw. Dialah yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Mumtahanah ayat 12:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Asy-Syifa menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi. Ia dikarunia seorang anak bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah.

Asy-Syifa dikenal sebagai guru membaca dan menulis sebelum datangnya Islam. Sehingga, ketika cahaya Islam singgah dikalbunya, ia tetap mendedikasikan dirinya untuk mengajar para Muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala dari Allah SWT.

Itulah yang membuatnya ditabalkan sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. Di antara wanita yang dididik oleh Asy-Syifa adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab RA, yang tak lain adalah istri Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW meminta kepada Asy-Syifa untuk mengajarkan Hafshah RA menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa).

Asy-Syifa berkata, “Suatu ketika Rasulullah SAW pernah datang menemuiku, saat aku  berada di samping Hafshah. Lalu beliau bersabda, ''Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya (Hafshah) ruqyah sebagaimana engkau mengajarkan kepadanya menulis.” (HR Abu Daud).

Sebelum ajaran Islam datang, Asy-Syifa memang dikenal sebagai ahli ruqyah di masa Jahiliyah.  Ketika ia memeluk Islam dan berhijrah dia berkata kepada Rasulullah SAW, “Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.”

Lalu Nabi SAW bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku!”

Asy-Syifa berkata, “Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul.”

Kemudian, Rasulullah SAW bersabda, “Obatilah dengan ruqyah, dan ajarkanlah hal itu kepada Hafshah!”

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah saat melakukan ruqyah adalah: “Ya Allah Tuhan manusia, Yang Mahamenghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Mahapenyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.” (HR Abu Daud).

Asy-Syifa termasuk sahabat Rasulullah SAW yang beruntung, karena telah mendapatkan bimbingan dan perhatian dari Rasulullah SAW.

Ia sangat mencintai Rasulullah SAW sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain. Ia  belajar dari Rasulullah hadis-hadis yang banyak tentang urusan dien (agama) dan dunia.

Ia juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat. Asy-Syifa pun tidak kenal lelah untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang dimilikinya.

Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapatnya, menjaganya dan mengutamakannya dan terkadang dia mempercayakan kepada Asy-Syifa dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, Asy-Syifa juga menghormati Umar. Ia memandang Umar sebagai seorang Muslim yang jujur, teladan yang baik, bertakwa dan berbuat adil.

Suatu ketika, Asy-Syifa melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih.

Ia lalu bertanya, “Siapakah mereka?”

Orang-orang menjawab, “Mereka adalah ahli ibadah.”

Mendengar itu, Asy-Syifa lalu berkata, “Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul menyakitkan.”

Sang mujahidah menjalani sisa-sisa hidupnya setelah Rasulullah SAW wafat. Ia senantiasa memerhatikan keadaan kaum Muslim dan memuliakan mereka, sampai ajal menjemputnya pada tahun 20 Hijriyah.

Sungguh, Asy-Syifa adalah seorang Muslimah yang patut dijadikan teladan bagi kaum wanita di sepanjang masa. [yy/republika]