11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Lingkaran Setan Kesedihan

Lingkaran Setan Kesedihan

Wahai Rasulullah, tunjukkan kepada saya suatu amalan yang jika saya amalkan maka saya bisa masuk surga.

Seorang laki-laki datang lagi dan bertanya, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah suatu amalan untuk saya dan sedikitkanlah.”.

Orang ketiga pun datang bertanya, “Apa yang bisa menyelamatkan saya dari murka Allah?”.

Kemdian Rasulullah menjawab semua pertanyaan ini hanya dengan satu kalimat, “Jangan marah!


Surga yang luasnya mencapai luas langit dan bumi disediakan khusus bagi orang-orang yang meletakkan kayu-kayu penghalang di depan laju air terjun kemarahan yang nyars meledak di dalam diri mereka, yaitu dengan cara menahan amarah dan memaafkan manusia.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.Q.S. Ali Imran, 3:133-134.

Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan dalam Ihya’ Ulumuddin, “Marah bertempat di hati. Kemarahan yang hebat berarti mendidihnya darah di dalam hatu menuntut pembalasan yang merupakan makanan marah dan syahwatnya, dan ia tidak akan tenang kecuali dengan penuntasannya.”

Marah atau Dengki
Dengki atau “hiqd” dalam kamus-kamus bahasa didefenisikan sebagai memendam permusuhan di dalam hati dan menunggu-nunggu kesempatan pemuasannya.” Ia sinonim dengan kata “dhignh”. Dengki adalah perasaan ketika hati merasa jengkel dan muak terhadap seseorang. Ia bersumber dari ketidakmampuan untuk membalas dendam saat marah. Salah satu buah dengki adalah hasud/iri, yaitu mengangan-angankan hilangnya nikmat pada orang yang didendaminya. Puncaknya adalah “senang jika orang lain tertimpa musibah dan sedih bahkan murung jika ia mendapat nikmat”.


Marah <===> Dengki <===> Hasud <===>Sedih dan Sakit


Jika kamu sudah tahu bahwa marah adalah pintu gerbang menuju kedengkian yang merupakan pintu gerbang menuju gerbang hasud, maka janganlah mendengki saat marah.

Kesewenang-wenangan orang-orang naif sewaktu mereka marah, jengkel, dan dongkol, akan berubah menjadi kedengkian di dalam hati yang selanjutnya akan menetaskan delapan buah kezaliman terhadap orang lain, yaitu ;
1. hasud
2. mencaci-maki saat terjadi bala cobaan
3. mendiamkan
4. melecehkan, berpaling, dan menjauhi
5. berkata dengan sesuatu yang tidak disukainya : ghibah (menggunjing), memfitnah, menyebarkan rahasia, dan mengumbar aib yang seharusnya ditutup-tutupi
6. mengolok-olok
7. menyakiti fisik
8. menahan kucuran kemurahan, misalnya pemberian dan silaturrahhim

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq Jengkel
Poin kedelapan adalah sikap yang paling ringan. Pernah suatu kali, terselip rasa jengkel ke dalam diri Abu Bakar Ash-Shiddiq begitu ia mengetahui bahwa salah satu orang yang terlibat dalam pencemaran nama baik putrinya Ummulmukminin Aisyah ra. Dan menuduhnya tanpa bukti dalam kasus ifk adalah kerabatnya sendiri, Mitshah bin Atsatsah ra. yang miskin papa dan ditanggung nafkah kesehariannya oleh Abu Bakar.

Dengan rasa jengkel ia langsung bersumpah tidak akan memberikan apa-apa lagi kepada Misthah. Namun, Allah melindungi hati para kekasih-Nya dari telusup kedengkian sedikitpun pada seseorang. Allah langsung menegurnya dengan lembut disertai kecaman halus.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang Q.S. An-Nur, 24:22

Maaf dan ampunan adalah obat manjur untuk mengatasi kobaran kedengkian yang menghaguskan hati. Caranya, ingatlah bahwa kita banyak berbuat salah pada Allah, namun meski demikian toh tetao mengharapkan ampunan dan keridhaan-Nya.

Begitu merasakan ada butiran kedengkian di dalam hati kita pada seseorang maka kita harus segera mengangkat jargon, Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Q.S. An-Nur, 24:22

Perhatikanlah salah satu cakrawala jiwa-jiwa suci ang dibersihkan dengan cahaya Allah; cakrawala yang memancar dari dalam diri Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. yang merasakan isu ifk (perselingkuhan putrinya) di dalam lubuk hatinya dan harus menanggung kepahitan tudingan atas rumah tangga dan kehormatannya. (Ia memang sempat emosi), namun begitu mendengar imbauan Tuhannya untuk memaafkan dan begitu perasaannya tersentuh oleh pertanyaan wahyu (An-Nur, 24:22), ia pun langsung melepaskan diri dari segala derita dan perasaan manusia. Rohnya melambung dan terbang, bersinar terang dengan cahaya Allah. Ia pun langsung menyambut imbauan Allah dengan penuh ketenangan dan kesungguhan dengan mengatakan, “Tentu, demi Allah aku ingin sekali mendapat ampunan Allah.”

Ia tarik sumoahnya (untuk menghentikan nafkahnya oada Misthah) dan kembali memberikan nafkah kepadanya sebagaimanan semula, sambil bersumpah, “Demi Allah, saya tidak akan mencabut nafkah darinya untuk selama-lamanya.”.

kafemuslimah.com
Disadur dari Manajemen Diri Muslimah 2, Dr. Akram Ridha