1 Rabiul-Awwal 1444  |  Selasa 27 September 2022

basmalah.png

Zainal Abidin, Keturunan Rasulullah Saw yang Tak Pernah Banggakan dan Andalkan Nasab

Zainal Abidin, Keturunan Rasulullah Saw yang Tak Pernah Banggakan dan Andalkan Nasab

Fiqhislam.com - Beliau adalah Imam Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib alaihissalam. Cicit Rasulullah SAW yang dijuluki Zainal Abidin (permata ahli ibadah).

Tentu saja julukan ini tidak sekadar basa-basi atau pujian melebihi kenyataan seperti kebanyakan julukan yang disematkan pada sebagian orang hari ini. Imam Darul Hijrah Malik bin Anas ra berkata: “Setiap hari ia (Imam Zainal Abidin) sholat beratus-ratus rakaat hingga wafatnya.”

Seorang tokoh salaf yang bernama Juwairah bin Asma` pernah berkata sebagai berikut:

ما أكل علي بن الحسين بقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم درهما قط

“Tidak pernah satu dirham pun Ali bin Husein makan karena kekerabatannya dengan Rasulullah SAW.”

Pesan untuk kita dan mereka-mereka yang suka membanggakan diri sebagai keturunan wali fulan, generasi syekh ‘allan, murid kiai fulan, penerus buya ‘allan, lalu menjadikan itu sebagai alat untuk menangguk materi.

Baktinya pada sang ibu sungguh menakjubkan. Pernah seseorang berkata padanya: “Engkau orang yang sangat berbakti pada ibumu. Tapi kami tak pernah melihat engkau makan bersama ibumu dalam satu nampan.” Beliau menjawab, “Aku khawatir kalau-kalau tanganku menyentuh makanan yang sudah diliriknya. Dengan begitu berarti aku durhaka padanya.”

Selama hidup, dia dikenal sebagai seorang yang bakhil, karena ia tak pernah terlihat bersedekah dan berderma. Tapi dia tak berusaha untuk membantah anggapan itu atau memperbaiki citra diri.

Bukan Zainal Abidin seorang cucu Nabi yang akan melakukan itu. Sosok seperti beliau tidak akan peduli apapun penilaian manusia. Justru itu akan menjaga kerahasiaan dan kemurnian amalnya.

Imam Muhammad bin Ishaq dan Jarir bin Mughirah menceritakan, “Ratusan rumah di Madinah hidup dengan baik tanpa tahu siapa orang yang mengantarkan makanan setiap malam ke depan pintu rumah mereka. Ketika Imam Ali Zainal Abidin wafat, mereka tidak lagi mendapatkan subsidi itu. Barulah mereka sadar bahwa sosok yang selama ini membantu mereka secara diam-diam adalah Imam Ali Zainal Abidin. Ketika memandikan jenazahnya, mereka menemukan di punggungnya bekas mengangkat barang-barang berat.”

Mengapa dia begitu dermawan? Karena dia malu mendoakan orang dikaruniai surga oleh Allah SWT, sementara dia sendiri pelit memberikan sedikit dari dunianya untuk mereka.

Betapa banyak orang yang begitu ringan mendoakan surga untuk orang lain. Tapi ketika sedikit dunianya diminta, dia enggan memberi. Bukankah ini jadi pertanda bahwa doanya untuk orang lain agar dikaruniai surga hanya basa-basi belaka?

Kalau ada hal yang membuatnya murka maka itu adalah ketika dia dipuji secara berlebihan. Pernah suatu ketika beberapa orang memujinya secara berlebihan. Bukannya senang, dia malah berkata dengan suara tinggi:

ما أكذبكم وأجرأكم على الله ... نحن من صالحي قومنا وحسبنا أن نكون من صالحي قومنا ...

“Alangkah pembohongnya kalian… Alangkah lancangnya kalian terhadap Allah…Kami hanyalah bagian dari orang-orang baik diantara kami, dan itu cukup bagi kami…”

Hanya gelas kosong yang minta diisi. Hanya tong kosong yang nyaring berbunyi.

Ketika dihina, tak sedikitpun ketenangan pribadinya terganggu. Suatu ketika ada seseorang mencoba memancing emosinya. Tapi ia tidak mempedulikannya. Merasa dicueki, orang itu berkata, “Engkau yang aku maksudkan.” Dengan tenang, ia berkata: “Memang dari engkau aku berpaling.”

Di kesempatan lain ada orang yang memfitnahnya. Menanggapi hal itu sang Imam hanya berkomentar:

إن كنت كما قلت فأستغفر الله وإن لم أكن كما قلت فالله يغفر لك

“Kalau aku seperti yang engkau katakan maka aku mohon ampun kepada Allah. Tapi kalau aku tidak seperti yang engkau katakan maka semoga Allah mengampunimu.”

Di antara kalimatnya yang penuh hikmah adalah :

إن لله عبادا عبدوه رهبة فتلك عبادة العبيد ، وآخرين عبدوه رغبة فتلك هبادة التجار ، وآخرين عبدوه شكرا فتلك عبادة الأحرار

“Ada hamba Allah yang beribadah pada-Nya karena takut. Itulah ibadah para budak. Ada yang beribadah pada-Nya karena harap. Itulah ibadah para pedagang. Dan ada yang beribadah pada-Nya karena syukur. Itulah ibadah orang-orang merdeka.” [yy/republika]

Oleh Ustadz Yendri Junaidi Lc MA
Dosen STIT Diniyyah Puteri Padang Panjang, alumni Al-Azhar Mesir