14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Berapa Ukuran Arsy?

Berapa Ukuran Arsy?Fiqhislam.com - Terkait ukuran singgasana Tuhan tersebut, tidak akan ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Hal ini diriwayatkan Ibnu Abi Khatim dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mengatakan, “Tidak akan ada yang mampu mengetahui berapa ukuran arsy kecuali yang menciptakannya. Langit di bandingkan dengan arsy ibarat kubah di atas padang sahara nan luas,” katanya.

Sementara, di dalam tafsir al-Manar, ketika menafsirkan surah at-Taubah ayat 129 disebutkan bahwa arsy adalah pusat pengendalian segala persoalan makhluk Allah. Hal ini sesuai dengan bunyi surah Yunus ayat 3 yang artinya, “...kemudian Dia bersemayam di atas arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan.” Para imam ahli tafsir menjelaskan bahwa Arsy adalah suatu tempat yang memiliki materi dan fisik, bukan suatu ungkapan kiasan saja. Hal ini dijelaskan secara panjang oleh Imam al-Baihaqi seperti berikut ini.

“Dan pendapat para ahli tafsir tentang al- Arsy adalah singgasana, dan dia adalah fisik yang berbentuk, yang telah diciptakan Allah. Dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikulnya dan beribadah dengan mengagungkan dan bertawaf kepadanya, sebagaimana Dia menciptakan satu rumah di bumi dan memerintahkan bani

Adam untuk bertawaf kepadanya dan menghadap ke padanya ketika shalat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadis-hadis serta atsar-
atsar (perkataan yang datang dari para sahabat yang disandarkan pada Nabi).”

Sesungguhnya Allah menguasai segala ciptaan-Nya, mengaturnya, dan menjaganya. Allah SWT lebih mulia dari segala makhluk yang ada. Allah lebih besar dari segala makhluk-makhluk tersebut. Namun, yang jelas ciptaan atau makhluk Allah yang paling besar dibanding seluruh makhluk ciptaan-Nya yang lain adalah arsy, sebagaimana firman Allah yang artinya,

“Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai arsy yang besar.”( QS an- Naml [27]: 26)


Mengenal Singgasana Allah

Allah SWT menyebut dalam berbagai ayat jika ia bersemayan di atas Arsy. Allah SWT berfirman, "Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. (QS al-A'raf [7]: 54)

Lalu bagaimanakah sifat Arsy itu? Dalam buku Ensiklopedi Islam Jilid I, dijelaskan arsy/ bisa diartikan sebagai takhta atau singgasana Tuhan. Hal ini berdasarkan kata dasar dalam bahasa Arab arsya, yang berarti bagunan, singgasana, istana, atau takhta. Arsy dengan pengertian tersebut banyak disebutkan dalam Alquran, seperti dalam  surah at-Taubah ayat 129, surah Yunus ayat 3, surah al-Mu'minun ayat 86 dan 87, serta surah an-Naml ayat 26.

Arsy, menurut paham Ahlussunah waljamaah, adalah makhluk Allah yang tertinggi berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat. Allah Ta'ala berfirman dalam Alquran, "Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka." (QS al-Haaqah [69]:17)

Dalam Tafsir ad-Durr al-Mansur fi Tafsir bi al-Maksur, Jalaluddin as-Suyuti menyebutkan, ada hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi Khatim dari Wahhab bin Munabbih. Hadis tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan arsy dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. Arsy itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi.

Di sekeliling arsy itu terdapat empat sungai, yaitu sungai yang berisikan cahaya berkilauan, sungai yang berisikan api menyala kemerahan, sungai yang berisikan salju putih berkilauan, dan sungai yang berisikan air. Di setiap sungai tersebut para malaikat berdiri sambil membaca tasbih, yang berarti Mahasuci Allah. Di arsy terdapat lisan atau bahasa sebanyak lisan makhluk seluruhnya. Setiap lisan bertasbih kepada Allah dengan bahasanya.

Abu as-Syaikh meriwayatkan hadis dari asy-Sya'bi.  Rasulullah Saw bersabda, "Arsy itu terbuat dari batu permata (yakut) merah. Satu malaikat di antara malaikat memandang arsy dan keagungannya." jelas potongan hadis tersebut.

Penjelasan tentang arsy yang demikian, juga dipertegas dengan hadis yang diriwayatkan Abu asy-Syaikh dari Hammad. Rasulullah bersabda, "Allah menciptakan arsy dari permata zamrud hijau dan diciptakan baginya tiang penopang dari batu permata (yakut) merah. Di Arsy terdapat seribu bahasa (lisan). Di bumi diciptakan seribu umat. Setiap umat bertasbih kepada Allah dengan bahasa arsy."

Terkait ukuran singgasana Tuhan tersebut, tidak akan ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri. Hal ini diriwayatkan Ibnu Abi Khatim dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mengatakan, "Tidak akan ada yang mampu mengetahui berapa ukuran arsy kecuali yang menciptakannya. Langit dibandingkan dengan arsy ibarat kubah di atas padang sahara nan luas," katanya.

Sementara, di dalam tafsir al-Manar, ketika menafsirkan surah at-Taubah ayat 129 disebutkan bahwa arsy adalah pusat pengendalian segala persoalan makhluk Allah. Hal ini sesuai dengan bunyi surah Yunus ayat 3 yang artinya, "...kemudian Dia bersemayam di atas arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan."

Para imam ahli tafsir menjelaskan bahwa Arsy adalah suatu tempat yang memiliki materi dan fisik, bukan suatu ungkapan kiasan saja. Hal ini dijelaskan secara panjang oleh Imam al-Baihaqi seperti berikut ini.

"Dan pendapat para ahli tafsir tentang al-Arsy adalah singgasana, dan dia adalah fisik yang berbentuk, yang telah diciptakan Allah. Dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikulnya dan beribadah dengan mengagungkan dan bertawaf kepadanya, sebagaimana Dia menciptakan satu rumah di bumi dan memerintahkan bani Adam untuk bertawaf kepadanya dan menghadap kepadanya ketika shalat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadis-hadis serta atsar-atsar (perkataan yang datang dari para sahabat yang disandarkan pada Nabi)."

Sesungguhnya Allah menguasai segala ciptaan-Nya, mengaturnya, dan menjaganya. Allah SWT lebih mulia dari segala makhluk yang ada. Allah lebih besar dari segala makhluk-makhluk tersebut. Namun, yang jelas ciptaan atau makhluk Allah yang paling besar dibanding seluruh makhluk ciptaan-Nya yang lain adalah arsy, sebagaimana firman Allah yang artinya, "Allah, tiada Tuhan yang disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai arsy yang besar."( QS an-Naml [27]: 26)

Demikianlah sekelumit penggambaran tentang singgasana Allah  yang sekaligus ciptaan-Nya yang paling besar. Masih banyak ayat dan hadis yang mengurai tentang arsy. Namun, tidak ada yang tahu bentuk sejati dari arsy. Sebagai umat Islam, kita hanya harus mengimani sesuai dengan keterangan dari Allah dan Rasul-Nya tersebut, tanpa menolaknya dan mengilustrasikan atau mengandai-andaikannya.


Tujuh Golongan yang akan Bernaung di Bawah Arsy

Bagi oang yang beriman dan beramal shaleh, tiada ganjaran bagi mereka selain surga. Dalam al-Quran pun demikian. Iman selalu disandingkan dengan amal shaleh. Jika hanya beriman tanpa diisi dengan amal shaleh, maka keimanan itu akan kurang sempurna. Begitu pun sebaliknya. ’’Demi masa. Sesungguhnya manusia sangat merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.’’ (QS. Al-’Ashr: 1-3).

Banyak amal shaleh yang dapat dilakukan dalam bulan suci Ramadhan ini. Beberapa di antaranya bersedekah, tadarus al-Quran, i’tikaf di masjid, shalat malam dan lain sebagainya. Sungguh beruntung orang-orang yang dapat melaksanakan ibadah-ibadah tersebut serta menyeimbangkan urusan duniawi dengan ukhrawi agar siap melewati cobaan di hari akhir nanti. Dalam hadits Rasulullah disebutkan, ada tujuh golongan yang akan dilindungi Allah berupa naungan ’Arsy-Nya di hari kiamat. Sebab tidak ada satu pun yang dapat menolong kita dari sulitnya hari kiamat, selain pertolongan dari-Nya.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: ’’Tujuh golongan yang akan berteduh di bawah ’Arsy Allah, pada hari yang tiada bisa berteduh kecuali keteduhan ’Arsy pada hari kiamat yaitu:

Pertama, imam yang adil. Imam di sini, menurut Hajar Al-Atsqolany, ialah khalifah ata dapat pula disebut dengan pemimpin yang adil terhadap rakyatnya. Pemimpin yang mencontoh kesahajaan para Khulafaur Rasyidiin yang senantiasa memikirkan nasib rakyat. Pemimpin yang dapat memecahkan masalah yang menimpa rakyatnya, sehingga membuat rakyat tersebut menaruh kepercayaan dan keridhaan yang besar atas amanat yang ia emban.

Dua, pemuda-pemudi yang giat beribadah. Alangkah beruntungnya jika masa muda kita isi dengan ibadah. Penguatan mental dan rohani tidak serta merta kita dapat begitu saja. Perlu waktu yang cukup lama untuk menjadi pemuda yang cerdas. Tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga cerdas spiritual. Dalam kitab Ta’lim Muta’lim, ada beberapa tahapan yang harus dilalui seorang hamba untuk mendapatkan ilmu, salah satunya thuula al-waqt (waktu yang lama). Oleh karena itu, sudah seyogyanya pemuda-pemudi Indonesia yang sudah terjamah oleh dahsyatnya perkembangan teknologi, lebih meningkatkan kualitas ibadah mereka.  Dengan pondasi iman yang kokoh, Insya Allah takkan tergoyahkan oleh badai yang menghantam sedahsyat apa pun itu.

Tiga, orang yang suka berdizikir pada waktu dan tempat yang sunyi, kemudian air matanya mengalir karena Allah. Dzikir, adalah salah satu bukti kecintaan kita pada Allah. Dzikir lisan, jika dibarengi dengan dzikirnya hati, pasti akan mendapatkan ketentraman batin yang tak terhingga. Manusia tak luput dari khilaf dan dosa, karena itu Allah menganjurkan manusia untuk banyak berdzikir, banyak mengingat dosa dan mengingat-Nya. ’’ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.’’ (QS. Ar-Ra’d: 28).

Empat. Orang yang hatinya selalu teringat kepada masjid ketika keluar hingga kembali lagi ke masjid. Seseorang yang senantiasa terpaut ke masjid untuk melakukan ibadah, tidak ada pahala terbaik dari Allah selain ampunan, cinta dan surga-Nya. Tempat bernaung terbaik di dunia adalah masjid. Masjidlah tempat seluruh Muslim bersujud dan sebaik-baiknya tempat untuk memohon ampunan-Nya.

Lima. Orang yang suka bersedekah, kemudian dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahaui apa yang dilakukan oleh tangan kanananya. Sedekah secara sirri (sembunyi-sembunyi) itu jauh lebih utama ketimbang sedekah yang hanya diniatkan agar orang lain mengetahui sedekah kita. Dalam Qs Al-Baqarah disebutkan,’’Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.’’ (Al-Baqoroh: 262).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa ikhlas, lahir dari hati dan tidak menyebut-nyebut berapa banyaknya pemberian kita. Menurut Ibnu Hajar Al-Atsqolany dalam kitabnya yang berjudul Nashoihul ’Ibad (Kumpulan nasihat-nasihat), sedekah tatthawu’ (sedekah sunnah) dianjurkan jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sedangkan sedekah wajib, seperti zakat fitrah, sunnah dilakukan secara terang-terangan.

Enam, dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul karena Allah, mereka berpisah pun karena Allah. Mencintai karena Allah, berarti ikhlas dan ridha mengikuti semua perintah Allah dan Rosul-Nya. Dalam QS Ali Imroon Allah berfirman, ’’Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imraan: 31).

Tujuh. Laki-laki yang diajak mesum oleh perempuan, tetapi dia menolaknya seraya berkata, ’’Aku takut pada Allah,’’. Masih ingat kisah Nabi Yusuf as? Beliau pernah diuji oleh Allah dengan cukup berat; cobaan hawa nafsu. Zulaikha, istri sang majikan pernah mengajaknya untuk berzina saat suaminya tidak di rumah. Namun, Yusuf bersikeras menolak, karena ia takut akan azab Allah jika ia menuruti hawa nafsu syaithan tersebut.

Kisah ini terangkum dalam QS Yusuf,’’ Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.(QS: Yusuf: 23).

Kendati Yusuf sudah bersikeras, godaan itu semakin besar menghantam keimanannya. Namun, Allah menguatkan hatinya. ’’Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf: 24). [yy/republika]

 

Tags: arsy | arasy | allah