29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Menyingkap Misteri Maryam

Menyingkap Misteri Maryam

Fiqhislam.com - Dalam literatur Islam, baik klasik maupun kontemporer, misteri Maryam masih sangat langka dibahas. Kitab-kitab Tafsir pun jarang menyingkap lebih jauh siapa sesungguhnya Maryam.

Padahal, di dalam Alquran, Maryam dijadikan sebagai sebuah nama surah dengan 98 ayat. Maryam lebih banyak dijelaskan sebagai ibunda Nabi Isa AS—nabi yang lahir tanpa bapak.

Peristiwa hamilnya Maryam tanpa pernah disentuh laki-laki cenderung diselesaikan dengan menyerahkan kepada kemahakuasaan Allah SWT, padahal ada sejumlah ayat menyatakan proses dan peran malaikat Jibril, seperti:

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 17-19).

Dalam tulisan ini tidak akan dikaji sudut pandang biologis Maryam dengan proses dan peran Jibril yang kemudian melahirkan Nabi Isa, akan tetapi tulisan ini akan mengkaji sudut pandangan esoteris kehadiran Maryam yang kemudian melahirkan Nabi Isa As.

Dalam pandangan esoteris, Maryam merupakan simbol orisinalitas kesucian (the original holiness) kebalikannya Hawa yang merupakan simbol orisinalitas dosa (the original sin). Maryam dan Hawa simbol dari sepasang karakter feminin.

Hawa menjadi simbol kejatuhan anak manusia ke bumi kehinaan dan Maryam menjadi simbol kenaikan anak manusia ke langit kesucian. Karena Hawa menggoda suaminya, Adam, maka anak manusia jatuh ke lembah kehinaan dan karena sang perawan suci Maryam melahirkan Nabi Isa, maka manusia diangkat kembali ke langit, kampung halaman pertama manusia.

Di dalam tradisi Talmud Babilonia, semacam kitab tafsir Taurat (Perjanjian Lama), Hawa dinyatakan sebagai penyebab dari segala sumber kehinaan dan malapetaka kemanusiaan sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Eruvin pasal 100 b.

Akibat kekeliruan dilakukan Hawa/Maria maka kaum perempuan dinyatakan menanggung 10 macam kutukan, yaitu:
 

  1. Perempuan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya Hawa tidak pernah mengalaminya di surga.
  2. Perempuan yang pertama kali melakukan persetubuhan mengalami rasa sakit.
  3. Perempuan mengalami penderitaan dalam mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian, kebersihan, dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risi manakala pertumbuhan anak-anaknya tidak seperti yang diharapkan.
  4. Perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.
  5. Perempuan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur tua.
  6. Perempuan merasa sakit pada waktu melahirkan.
  7. Perempuan tidak boleh mengawini lebih dari satu laki-laki.
  8. Perempuan masih ingin merasakan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi.
  9. Perempuan sangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepadanya.
  10. Perempuan lebih suka tinggal di rumah.


Bandingkan juga dengan Kitab Kejadian [3]: 15 yang sering dianggap sebagai the protoevangelium:

“Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu (benihmu) dan keturunannya (benihnya); keturunannya (benihnya) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Kalangan teolog Kristen sering mempertentangkan atau memperhadap-hadapkan antara figur Hawa dan Maryam, namun ada juga yang menganggap Hawa dan Maryam adalah sepasang perawan yang saling melengkapi.

Jika Hawa yang muncul dari Adam menjadi simbol kejatuhan manusia, maka Maria perawan suci yang melahirkan Nabi Isa adalah simbol kemenangan dan keterangkatan manusia ke langit atas.

Melalui simbol kesucian dan kasih sayang Maryam, maka manusia akan menguasai dosa yang diwariskan oleh simbol Hawa, sang pembawa bencana dengan kekuatannya sebagai penggoda (tempter).

Dalam literatur kekristenan dijelaskan bahwa perempuan yang dimaksudkan di sini adalah Hawa yang telah tergoda dengan ular atau setan tersebut, dan akhirnya telah melanggar perintah Tuhan.

Ayat-ayat dalam Alkitab di atas cenderung memojokkan agama Kristen di mata kaum feminis, namun kaum feminis juga paham bahwa agama dan produk nilai-nilai kepercayaan luhur tidak selamanya saling menguntungkan dengan tidak mengindahkan sertifikat.

Wacana Hawa-Maryam seperti ini mengingatkan kita pada konsep Maya dalam perspektif agama Hindu yang dilukiskan sebagai “Divine Principle” yang berakar dari ketidakterbatasan Tuhan. Ia adalah “penyebab” Esensi Ilahiyah memancar keluar dari Diri-Nya ke dalam manifestasi. Maya adalah Hawa dan juga sekaligus Maryam.

Ia merupakan simbol perempuan penggoda (seductive) tetapi sekaligus dan perempuan membebaskan (pneumatic). Ia ”descendent” (an-nuzuli) tetapi sekaligus “ascendant” (al-su’udi). Ia mengasingkan (al-fariq) tetapi sekaligus menyatukan kembali (al-jam’).

Ia menghijab agar bisa berjuang memanifestasikan segala potensialitas Kebaikan Agung (the Supreme Good), tetapi juga menyingkapkan-Nya, agar ia memanifestasikan kebaikan yang lebih baik.

Berbagai akibat yang lahir dan muncul dari dosa Hawa, akan tetapi kesucian dan kemuliaan Maryam secara total akan menghapuskan dosa Hawa. Hawa dalam sudut pandang seperti ini, eksistensi dan puncak keilahian, tidak akan ada ambiguitas lagi, dan kejahatan (evil) akan menjadi terhapus“.

Pada puncaknya, apa pun selain dari al-Asl al-Ilahi (the Divine Principle) hanyalah “penampilan”; hanya Al-Haq yang benar-benar riil, dan maka itu Hawa secara tak terbatas telah dimaafkan dan mendapat kemenangan dalam Maryam.

Hubungan antara dua aspek feminin ini tidak hanya sebuah hubungan resiprokal di mana dosa Hawa dalam konteks proyeksi kosmogonis untuk bergerak ke arah ketiadaan yang menyebabkan Maya terlihat ambigu, tetapi ambiguitas ini adalah relatif. Ia sama sekali jauh dari kesimetrisan, keadaan ini tidak akan mengotori Maryam. Bahkan, Maryam akan secara total menghapuskan dosa Hawa.

Dalam Islam tidak dirinci secara eksplisit fungsi dan peran Hawa dan Maryam. Kita hanya menemukan dalam Alquran bahwa Hawa adalah figur personal yang lahir dari badan Adam tanpa ibu. Sedangkan Maryam adalah figur personal yang lahir dari pasangan lengkap ayah dan ibu lalu ia melahirkan seorang putra (Nabi Isa AS) yang hanya punya ibu tanpa bapak. Contoh-contoh ini tentu ada hikmahnya dalam dunia kemanusiaan.

Kajian tematik (maudhu’i) tentang siapa sesungguhnya Maryam akan menguak pemahaman tentang hakikat Maryam. Setidaknya, beberapa kriteria kenabian sudah dimiliki Maryam.

Maria juga dilukiskan sebagai spouse of the Holy Spirit (pasangan Roh Ku dus) dan coredemptress (naik ke surga). Maryam ipso facto diidentifikasikan dengan the divine Sophia.

Ini wajar karena bagaimana mungkin Maria bisa menjadi lokus inkarnasi jika ia sendiri tidak memiliki wisdom yang akan diinkarnasi.

Syekh Isa mengisyaratkan bahwa Maria terlihat sangat Ilahi. Ia mengidentifikasikan beliau dengan uncreated wisdom yang sepertinya telah menghilangkan kemanusiaan beliau.

Kaum Kristiani harus hati-hati di sini karena mengilahikan Maria akan menimbulkan problem konseptual lebih lanjut. Kaum Kristiani tetap menekankan aspek kemanusiaan Maria yang kemudian menjadi lokus untuk inkarnasi Kristus.

Dengan menekankan aspek kemanusiaan Maria maka ia benar-benar meluarbiasakan Kristus. Maria berada pada posisi Sophia atau Logos yang mengikarnasi.

Dengan tetap menjadi manusia biasa, Maria sama sekali tidak bertentangan dengan keilahian (divinity). Malah dengan demikian, Maria bisa mengisyaratkan diri sebagai perempuan yang salehah, kemudian mendapatkan kekhususan dari Tuhan.

Maria seperti sengaja menutup dirinya sendiri yang penuh dengan misteri demi mengemban misi sejati Kristus. Dia tidak perlu dikenal dan populer, lalu mendekonsentrasikan perhatian umat kepadanya, tidak pada Kristus. Inilah divine femininity (feminitas Ilahi) yang ditampilkan Bunda Maria.

Namun, mereka juga seringkali mereferensi kepada St Luke, ada dua isyarat yang sangat penting tentang hakikat Maryam (haqiqat Maryamiyyah).

Pertama, dalam keterangan the Annunciation (pemberitaan): “Dan, malaikat datang kepadanya dan berkata, ‘Ketahuilah, kamu sangat disenangi, Tuhan bersama dengan kamu, kamu telah dimuliakan (atau diberkahi) di kalangan perempuan’.” (Luke [1]: 28).

Dan kedua, saat menceritakan pertemuan antara Maryam dan St Elizabeth, “Dan, Elizabeth telah terpenuhi dengan the Holy Ghost (Roh Kudus), dan dia telah berbicara dengan suara yang keras dan berkata beliau, ‘Telah dimuliakan kamu di kalangan perempuan dan telah dimuliakan buah dari rahim kamu’.” (Luke [1]:41-42).

Dalam tradisi Kristen, Maria sudah dipenuhi dengan berkah Tuhan (“God’s Grace”), tidak ada lagi ruang untuk diisikan dengan dosa.

Maria adalah holiness (kesucian). Maria adalah kemurnian (the purity), kecantikan (the beauty), kebaikan (the goodness), dan kerendahan hati (the humility). Maria adalah substansi kosmis dan sekaligus gambaran mikrokosmis.

Dalam Alquran, pengakuan akan kesucian Maryam juga ditemukan di sejumlah ayat, antara lain, “Maryam berkata, ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!

Jibril berkata, ‘Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS Maryam [19]: 20-21).

Hanya, dalam tradisi intelektual Islam, Maryam belum banyak dibahas dan dianalisis secara tuntas dan mendalam sebagaimana halnya dalam tradisi intelektual Kristen.

Tetapi, ini tidak berarti keberadaan Maryam tertutup kemungkinan untuk didalami. Banyak ayat dalam beberapa surah dalam Alquran yang berbicara tentang Maryam.

Sekiranya dilakukan metode tematik (maudhu’i) tentang siapa sesungguhnya Maryam, maka tidak tertutup kemungkinan kita akan memperoleh pemahaman mendalam tentang Maryam.

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar
republika.co.id