12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Geliat Keilmuan di Timbuktu

Geliat Keilmuan di Timbuktu

Fiqhislam.com - Pada era kejayaan Islam di Timbuktu, banyak sarjana berkulit hitam terbukti lebih pandai dibandingkan sarjana asal Arab. Sejarawan terkemuka, Al-Hasan bin Muhammad Al-Wazzan atau Leo Africanus dalam bukunya, The Description of Africa (1526), mengungkapkan geliat keilmuan di Timbuktu pada abad ke-16 M.

"Ada banyak hakim, doktor, dan ulama di sini (Timbuktu). Semuanya mendapatkan gaji yang layak dari Raja Askia Muhammad. Dia menghormati orang-orang yang terpelajar," papar Al-Wazzan. Kisah sukses dan keberhasilan perabadan Islam di benua hitam Afrika yang ditulis Leo, konon telah membuat masyarakat Eropa terbangun dari jeratan era kegelapan hingga mengalami Renaisans.

Lalu, bagaimana asal muasal berdirinya Universitas Sankore?

Seperti halnya Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko, aktivitas keilmuan di Timbuktu juga bemula dari masjid. Alkisah, pada 989 M, kepala hakim di Timbuktu bernama Al-Qadi Aqib ibnu Muhammad ibnu Umar memerintahkan berdirinya Masjid Sankore.

Masjid itu dibangun secara khusus meniru Masjidil Haram di Makkah. Pada bagian dalamnya dibuatkan halaman yang nyaman. Di masjid itulah kemudian aktivitas keilmuan tumbuh pesat.

Seorang wanita Mandika yang kaya raya lalu menyumbangkan dananya untuk mendirikan Universitas Sankore dengan tujuan sebagai pusat pendidikan terkemuka.

Perlahan namun pasti, Universitas Sankore pun mulai berkembang. Universitas ini lalu menjadi sangat dikenal dan disegani sebagai pusat belajar terkemuka di dunia Islam pada masa kekuasaan Mansa Musa (1307 M-1332 M) dan Dinasti Askia (1493 M-1591 M). Pada masa itulah, Sankore menjadi tujuan para pelajar yang haus akan ilmu agama dan pengetahuan lainnya.

Universitas ini dilengkapi dengan perpustakaan yang lengkap. Jumlah risalah yang dikoleksi perpustakaan itu berkisar antara 400 ribu hingga 700 ribu judul. Dengan fasilitas buku dan kitab yang lengkap itu, para mahasiswa akan belajar sesuai tingkatannya. Jika telah lulus dari berbagai ujian dan mengikuti pelajaran, para mahasiswa akan diwisuda dan dianugerahkan sorban.

Sorban itu melambangkan kecintaan pada Ilahi, kebijaksanaan, moral, dan pengetahuan yang tinggi. Pada zaman modern ini, para wisudawan diberikan toga. Tingkat paling tinggi yang ditawarkan Universitas Sankore adalah 'superior' (setara PhD), lamanya kuliah selama 10 tahun.

Ulama dan ilmuwan terkemuka yang dimiliki Universitas Sankore adalah Ahmad Baba as-Sudane (1564 M-1627 M). Ia adalah rektor terakhir Universitas Sankore yang menulis 60 buku dengan beragam judul, termasuk hukum, kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, serta ilmu lainnya.

Ilmuwan dan ulama kenamaan lainnya yang dimiliki universitas itu antara lain; Mohammed Bagayogo as-Sudane al-Wangari al-Timbukti--mendapat gelar doktor saat berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Mesir; Modibo Mohammed al-Kaburi; Abu al-Abbas Ahmad Buryu ibn Ag Mohammed ibn Utman; Abu Abdallah; dan Ag Mohammed Ibn Al-Mukhtar An-Nawahi.

Kebebasan intelektual yang dinikmati di universitas-universitas di dunia Barat pada zaman modern ini, konon telah terinspirasi oleh Universitas Sankore dan Universitas Qurtuba di Spanyol Muslim.

Tak hanya itu, universitas ini juga menjadi salah satu model perguruan tinggi yang benar-benar multikultural. Mahasiswa dan beragam latar belakang etnis dan agama menimba ilmu di Universitas Sankore.

 

Geliat Keilmuan di Timbuktu

Fiqhislam.com - Pada era kejayaan Islam di Timbuktu, banyak sarjana berkulit hitam terbukti lebih pandai dibandingkan sarjana asal Arab. Sejarawan terkemuka, Al-Hasan bin Muhammad Al-Wazzan atau Leo Africanus dalam bukunya, The Description of Africa (1526), mengungkapkan geliat keilmuan di Timbuktu pada abad ke-16 M.

"Ada banyak hakim, doktor, dan ulama di sini (Timbuktu). Semuanya mendapatkan gaji yang layak dari Raja Askia Muhammad. Dia menghormati orang-orang yang terpelajar," papar Al-Wazzan. Kisah sukses dan keberhasilan perabadan Islam di benua hitam Afrika yang ditulis Leo, konon telah membuat masyarakat Eropa terbangun dari jeratan era kegelapan hingga mengalami Renaisans.

Lalu, bagaimana asal muasal berdirinya Universitas Sankore?

Seperti halnya Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko, aktivitas keilmuan di Timbuktu juga bemula dari masjid. Alkisah, pada 989 M, kepala hakim di Timbuktu bernama Al-Qadi Aqib ibnu Muhammad ibnu Umar memerintahkan berdirinya Masjid Sankore.

Masjid itu dibangun secara khusus meniru Masjidil Haram di Makkah. Pada bagian dalamnya dibuatkan halaman yang nyaman. Di masjid itulah kemudian aktivitas keilmuan tumbuh pesat.

Seorang wanita Mandika yang kaya raya lalu menyumbangkan dananya untuk mendirikan Universitas Sankore dengan tujuan sebagai pusat pendidikan terkemuka.

Perlahan namun pasti, Universitas Sankore pun mulai berkembang. Universitas ini lalu menjadi sangat dikenal dan disegani sebagai pusat belajar terkemuka di dunia Islam pada masa kekuasaan Mansa Musa (1307 M-1332 M) dan Dinasti Askia (1493 M-1591 M). Pada masa itulah, Sankore menjadi tujuan para pelajar yang haus akan ilmu agama dan pengetahuan lainnya.

Universitas ini dilengkapi dengan perpustakaan yang lengkap. Jumlah risalah yang dikoleksi perpustakaan itu berkisar antara 400 ribu hingga 700 ribu judul. Dengan fasilitas buku dan kitab yang lengkap itu, para mahasiswa akan belajar sesuai tingkatannya. Jika telah lulus dari berbagai ujian dan mengikuti pelajaran, para mahasiswa akan diwisuda dan dianugerahkan sorban.

Sorban itu melambangkan kecintaan pada Ilahi, kebijaksanaan, moral, dan pengetahuan yang tinggi. Pada zaman modern ini, para wisudawan diberikan toga. Tingkat paling tinggi yang ditawarkan Universitas Sankore adalah 'superior' (setara PhD), lamanya kuliah selama 10 tahun.

Ulama dan ilmuwan terkemuka yang dimiliki Universitas Sankore adalah Ahmad Baba as-Sudane (1564 M-1627 M). Ia adalah rektor terakhir Universitas Sankore yang menulis 60 buku dengan beragam judul, termasuk hukum, kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, serta ilmu lainnya.

Ilmuwan dan ulama kenamaan lainnya yang dimiliki universitas itu antara lain; Mohammed Bagayogo as-Sudane al-Wangari al-Timbukti--mendapat gelar doktor saat berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Mesir; Modibo Mohammed al-Kaburi; Abu al-Abbas Ahmad Buryu ibn Ag Mohammed ibn Utman; Abu Abdallah; dan Ag Mohammed Ibn Al-Mukhtar An-Nawahi.

Kebebasan intelektual yang dinikmati di universitas-universitas di dunia Barat pada zaman modern ini, konon telah terinspirasi oleh Universitas Sankore dan Universitas Qurtuba di Spanyol Muslim.

Tak hanya itu, universitas ini juga menjadi salah satu model perguruan tinggi yang benar-benar multikultural. Mahasiswa dan beragam latar belakang etnis dan agama menimba ilmu di Universitas Sankore.

 

Timbuktu Menjadi Pusat Pembelajaran Islam

Timbuktu Menjadi Pusat Pembelajaran Islam


Fiqhislam.com - Tombouctou- begitu orang Prancis menyebut Timbuktu - adalah sebuah kota di negara Mali, Afrika Barat. Kota multietis itu dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Secara geografis, Timbuktu terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Niger.

Kota Timbuktu didirikan suku Tuareg Imashagan pada abad ke-11 M. Alkisah, saat musim hujan, suku Tuareg menjelajahi padang rumput hingga ke Arawan untuk mengembalakan hewan peliharaan mereka.

Ketika musim kering tiba, mereka mendatangi sungai Niger untuk mencari rumput. Ketika tinggal di sekitar sungai, suku Tuareg terserang sakit akibat gigitan nyamuk dan air yang menggenang.

Dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu, mereka memutuskan untuk menetap beberapa mil dari sungai Niger dan mulai menggali sebuah sumur. Ketika musim penghujan datang, suku Turareg biasa meninggalkan barang-barang yang berat kepada seorang wanita tua bernama Tin Abutut - yang tinggal dekat sungai. Seiring waktu, nama Tin Abutut berubah menjadi Timbuktu.

Sejak abad ke-11 M, Timbuktu mulai menjadi pelabuhan penting - tempat beragam barang dari Afrika Barat dan Afrika Utara diperdagangkan. Pada era itu, garam merupakan produk yang amat bernilai. Di Timbuktu garam dijual atau ditukar dengan emas. Kemakmuran kota itu menarik perhatian para sarjana berkulit hitam, pedagang kulit hitam, dan saudagar Arab dari Afrika Utara.

Garam, buku, dan emas mejadi tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaannya pada era itu. Garam berasal dari wilayah Tegaza dan emas diproduksi dari tambang emas di Boure dan Banbuk. Sedangkan buku dicetak dan diproduksi para sarjana atau berkulit hitam dan ilmuwan dari Sanhaja.

Proses pembangunan pertama kali berlangsung di Timbuktu pada awal abad ke-12 M. Para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek Muslim dari Afrika Utara mulai membangun kota itu. Pembangunan di Timbuktu berlangsung menandai berkembang pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan. Saat itu, Raja Soso diserbu kerajaan Ghana. Sehingga, para ilmuwan dari Walata eksodus ke Timbuktu.

Timbuktu pun menjelma menjadi pusat pembelajaran Islam serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, Timbuktu telah memiliki tiga universitas serta 180 sekolah Alquran. Ketiga universitas Islam yang sudah berdiri di wilayah itu antara lain; Sankore University, Jingaray Ber University, dan Sidi Yahya University. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika.

 

Dahulu Banyak Perpustakaan Berdiri di Timbuktu

Dahulu Banyak Perpustakaan Berdiri di Timbuktu


Fiqhislam.com - Guna memenuhi 'dahaga' masyarakat Muslim Timbuktu akan beragam pengetahuan, buku yang dijual di kota itu banyak yang didatangkan dari negeri Islam lainnya. Selain itu, tak sedikit pula buku-buku yang diperjualbelikan adalah hasil karya para ilmuwan dan sarjana di Tumbuktu. Di kota itu juga sudah ada industri percetakan buku.

Perpustakaan universitas dan milik pribadi pun bermunculan dengan beragam koleksi buku yang ditulis para ilmuwan. Ilmuwan terkemuka Timbuktu, Ahmad Baba, pada masa itu sudah memiliki perpustakaan pribadi dengan jumlah koleksi buku mencapai 1.600 judul. Perpustakaan Ahmad Baba itu tercatat sebagai salah satu perpustakaan kecil yang ada di Timbuktu.

Pada tahun 1325 M, Timbuktu mulai dikuasai Kaisar Mali, Masa Mussa (1307 M - 1332 M). Raja Mali yang terkenal dengan sebutan Kan Kan Mussa itu begitu terkesan dengan warisan Islam di Timbuktu. Sepulang menunaikan haji di Makkah, Sultan Musa membawa seorang arsitek terkemuka asal Mesir bernama Abu Es Haq Es Saheli. Sang sultan menggaji arsitek itu dengan 200 kilogram emas untuk membangun Masjid Jingaray Ber - masjid untuk shalat Jumat.

Sultan Musa juga membangun istana kerajaannya atau Madugudi Timbuktu. Padamasa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjid agung di Gao (1324 M - 1325 M) - kini tinggal tersisa fondasinya saja. Kerajaan Mali mulai dikenal di seluruh dunia, ketika Sultan Musa menunaikan ibadah haji di tanah Suci, Makkah pada tahun 1325 M.

Sebagai penguasa yang besar, dia membawa 60 ribu pegawai dalam perjalanan menuju Makkah. Hebatnya, setiap pegawai membawa tiga kilogram emas. Itu berarti dia membawa 180 ribu kilogram emas. Saat Sultan Musa dan rombongannya singgah di Mesir, mata uang di Negeri Piramida itu langsung anjlok. Pesiar yang dilakukan sultan itu membuat Mali dan Timbuktu mulai masuk dalam peta pada abad ke-14 M.

Kesuksesan yang dicapai Timbuktu membuat seorang kerabat Sultan Musa, Abu Bakar II menjelajah samudera dengan menggunakan kapal. Abu Bakar dan tim ekspedisi maritim yang dipimpinnya meninggalkan Senegal untuk berlayar ke Lautan Atlantik. Pangeran Kerajaan Mali itu kemungkinan yang menemukan benua Amerika. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan bahasa, tradisi dan adat Mandika di Brasil.

Sayang, kejayaan Timbuktu terus meredup seiring bergantinya zaman. Kini Timbuktu hanyalah sebuah kota terpencil yang lemah. Bahkan nyaris terlupakan. Mungkinkah peradaban Islam bangkit kembali di negeri itu?.

 

Universitas Sankore, Cahaya Peradaban di Afrika

Universitas Sankore, Cahaya Peradaban di Afrika


Fiqhislam.com - Kemana para pelajar Muslim di abad ke-12 hingga 16 M menimba ilmu? Universitas Sankore, pasti jawabannya. Tinta emas sejarah peradaban Islam mencatat perguruan tinggi yang berada di Timbuktu, Mali, Afrika Barat, itu selama empat abad lamanya sempat menjelma menjadi lembaga pendidikan berkelas dunia.

Meski tak setenar Universitas Al-Azhar di Mesir dan Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko, pada era kejayaan Islam Universitas Sankore telah menjadi obor peradaban dari Afrika Barat.

Laiknya magnet, perguruan tinggi yang berdiri pada 989 M itu mampu membetot minat para pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam untuk menimba ilmu di universitas itu.

Pada abad ke-12 saja, jumlah mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas Sankore mencapai 25 ribu orang. Dibandingkan Universitas New York di era modern sekalipun, jumlah mahasiswa asing yang belajar di Universitas Sankore pada sembilan abad yang lampau masih jauh lebih banyak. Padahal, jumlah penduduk Kota Timbuktu di masa itu hanya berjumlah 100 ribu jiwa.

Penulis asal Prancis, Felix Dubois dalam bukunya bertajuk, Timbuctoo the Mysterious, Universitas Sankore menerapkan standar dan persyaratan yang tinggi bagi para calon mahasiswa dan alumninya. Tak heran jika universitas tersebut mampu menghasilkan para sarjana berkelas dunia.

Universitas Sankore diakui sebagai perguruan tinggi berkelas dunia. Karena, lulusannya mampu menghasilkan publikasi berupa buku dan kitab yang berkualitas. Buktinya, baru-baru ini di Timbuktu, Mali, ditemukan lebih dari satu juta risalah. Selain itu, di kawasan Afrika Barat juga ditemukan tak kurang dari 20 juta manuskrip.

Jumlah risalah sebanyak itu dengan tema yang beragam dinilai kalangan sejarawan sungguh sangat fenomenal. "Koleksi risalah kuno yang ditinggalkan kepada kita di Universitas Sankore membuktikan daya tarik dan kehebatan institusi pendidikan tinggi itu," papar Sejarawan Runoko Rashidi. Menurutnya, fakta sejarah itu sungguh menarik untuk kembali diungkap.

Jutaan risalah yang dihasilkan para ilmuwan dan ulama di Universitas Sankore sungguh luar biasa kaya. Baik dalam gaya, isi, serta menggambarkan kedalaman pengetahuan dan intelektualitas para pelajar dan sarjananya. "Fakta ini juga mampu mematahkan mitos selama ini yang menyatakan bahwa masyarakat Afrika lebih dominan dengan budaya tutur," cetus Emad Al-Turk, pimpinan dan salah satu pendiri Internasional Museum of Muslim Cultures (IMMC).

Menurut Emad, temuan jutaan manuskrip kuno dari Universitas Sankore itu membuktikan bahwa masyarakat Afrika memiliki budaya baca dan kebudayaan yang sangat tinggi. Apalagi pada abad ke-12 hingga 16 M, fakta membuktikan bahwa perdagangan buku di Mali sangat pesat dan merupakan bisnis yang menguntungkan. "Itu membuktikan bahwa masyarakat Afrika Barat sangat gemar membaca dan gandrung pada ilmu pengetahun," imbuh Emad.

Tingkat keilmuan para alumni Sankore juga diperhitungkan universitas lain di dunia Islam. "Secara mengejutkan, banyak sarjana lulusan Universitas Sankore diakui sebagai guru besar di Maroko dan Mesir. Padahal, belum tentu kualitas keilmuan sarjana lulusan Al-Azhar dan Al-Qarawiyyin memenuhi standar di Sankore," imbuh Felix Dubois. [yy/republika]