7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Karena Banyak Membaca, Mantan Pemimpin Skin Head Itu Masuk Islam

Karena Banyak Membaca, Mantan Pemimpin Skin Head Itu Masuk Islam

Fiqhislam.com - Terlibat dalam gerakan skinhead neo-nazi, Marc Springer tumbuh sebagai seorang rasis yang anti-Islam, anti-Muslim. Gairahnya untuk membaca akhirnya mengantarkan dirinya pada bacaan-bacaan tentang Islam dan Muslim, dan akhirnya pada Islam. Ia kemudian memutuskan berbalik arah hidup dari seorang yang tadinya sama sekali tidak percaya Tuhan menjadi penyembah Allah SWT semata.

Berikut adalah penuturannya di islamicbulletin bagaimana perjalanan hidupnya menjadi seorang Muslim.

“Perjalanan saya  menuju Islam, tampaknya, tidak seperti pada umumnya orang. Tidak seperti sebagian terbesar orang kulit putih yang pernah saya  temui, yang pindah agama menuju Islam, datang dari latar belakang liberal dan berpikiran terbuka. Saya  dididik dan dibesarkan jauh dari situasi semacam itu.

Kedua orang tua saya  adalah personil militer AS dan saya  dibesarkan dengan cara yang sangat keras. Ayah saya  sangat rasis, dan oleh sebab itu, saya  menjadi sangat rasis sampai usia 24 tahun. Saya  masih ingat saat menjadi seorang anak kecil mendengar ayah sangat benci dan menyerang orang Arab dan Muslim serta agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Dengan didikan semacam ini saya  dibesarkan dan dengan cara seperti ini pula saya  hidup dan bersikap.

Saya  tumbuh sebagai anak yang penuh dengan masalah, sebagaimana telah saya  sebutkan di atas, itu hanyalah permulaan. Ayah seorang alkoholik dan seorang pria pemarah, sering menganiaya kami secara fisik. Saya  tumbuh dalam ketakutan secara terus menerus menghadapi kekerasan terhadap diri sendiri, ibu, dan saudara-saudara laki-laki maupun perempuan saya . Datang dari latar belakang seperti ini membuat saya  secara alamiah mencari kelompok orang-orang yang mungkin bisa menggantikan kehidupan keluarga saya , yang tidak saya  dapatkan di rumah. Persoalannya adalah, orang-orang yang saya  temui dan yang saya  jadikan sekutu malah membuat situasi semakin buruk dan lebih buruk lagi.

Selama beberapa tahun saya  terlibat berat dengan gerakan yang sangat rasis, yakni skinhead movement. Seperti tak ada yang lain lagi dalam hidup saya , saya  tidak sekedar menjadi pengikut, tapi bahkan saya  sangat menikmati menjadi pimpinan mereka, dan keterlibatan saya  dengan gerakan neo-nazi skinhead juga karena alasan yang sama. Saya  sangat terkenal dan ditakuti di seluruh kota di mana saya  tumbuh besar. Namun, kerinduan saya  pada keluarga dan teman-teman, tidak pernah mematikan benih-benih dalam hati bahwa apa yang saya  lakukan adalah salah, tidak adil.

Saya  ingat seorang teman sekolah saya  sekelas yang berasal Meksiko pernah bertanya pada saya  saat umur saya  16 tahun “kenapa kamu menghabiskan waktu dengan menjadi pecundang seperti ini? Kamu itu bisa lebih baik dari ini”. Dia benar, tapi saya  mengira itu adalah bagian dari diri saya , meskipun saya  membenci ayah saya  terhadap apa yang dia lakukan terhadap keluarga, saya  ingin seperti dia. Dari situlah rasisme dan kebencian itu berasal.

Situasi di rumah menjadi bertambah buruk bagi saya  sehingga saya terpaksa harus pindah ke luar kota asal saya. Saya berpikir mulai dari momen inilah kiranya, fase-fase hidup saya  yang tidak karuan mulai tertutup, untuk kemudian menjadi seorang Muslim—hidup jauh dari ayah dan segenap kebencian yang ia rasakan, untuk membentuk masa depan saya  sendiri.

Beberapa tahun kemudian saya  mengalami kehidupan yang sangat keras dan terus berlanjut selama beberapa tahun di jalan itu, seperti ketika awal-awal dulu. Saya minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang dan tersangkut dengan persoalan hukum yang sangat serius.  Sementara itu, semua orang yang telah saya  anggap sebagai pengganti keluarga saya , ternyata malah lebih buruk, penuh dengan kekerasan, tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Saya  pergi meninggalkan AS, negara tempat saya  tumbuh besar, saat berusia 23 tahun dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya  bisa mengalami kehidupan tanpa bayang-bayang sosok ayah tempat saya  bergantung dan jauh dari pengaruh buruk dari teman-teman saya.  Saya mulai melihat semuanya dengan lebih berhati-hati, kebohongan-kebohongan yang saya  lakukan dalam hidup atas dasar kerapuhan.  Perlahan-lahan saya  melihat semua kebenaran yang terurai dalam hidup saya . Itulah titik di mana saya  mulai mempertanyakan segala sesuatu dalam hidup saya , termasuk keyakinan agama yang selama ini saya  anut. Saya  berdiri pada titik dimana saya  harus mengevaluasi ulang dan melihat segala sesuatu lebih cermat.

Saya  punya teman seorang gadis yang belakangan saya  nikahi. Ia juga aktif dalam gerakan rasis skinhead tempat saya  melibatkan diri dan selalu ada kekhawatiran bahwa saya  menyinggung dirinya manakala ide dan pemikiran baru saya  ungkapkan. Saya  seorang yang suka membaca, dan terus dalam dua tahun berikutnya ingin mendapatkan apapun di tangan saya  bahan bacaan. Gairah yang saya  miliki—membaca—telah mengarahkan saya  untuk mengoleksi buku-buku dalam perpustakaan kecil yang sekarang ini telah mencapai ribuan volume, apapun mulai dari filsafat Imannuel Kant, Rene Descartes hingga Ramadan dan Edward Said.

Waktu itu, Intifada sedang berkecamuk di Palestina. Ayah saya , seorang yang rasis dan anti-Semit sekalipun, mendukung berdirinya negara Yahudi. Saya  tahu ia benci Yahudi, dan sama bencinya dengan orang-orang non kulit putih, tetapi Ia lebih benci lagi pada orang Arab melebihi kebenciannya pada Yahudi, jadi itu sebabnya ia mendukung Israel. Sebagai akibat dari evaluasi ulang atas apapun yang saya  pikirkan ketika usia saya  masih belasan tahun, saya  memutuskan untuk melihat secara lebih dekat perjuangan mempertahankan hidup di Timur Tengah.

Saya  mulai membaca buku-buku umum tentang sejarah dan politik Timur Tengah serta negara-negara di wilayah itu. Lagi dan lagi saya  mengalami masalah dalam memahami sejarah maupun politik di wilayah itu karena saya  tidak pernah punya pengetahuan yang cukup tentang Islam. Sebagai seorang anak yang menghadiri gereja dari waktu ke waktu, namun tak pernah benar-benar berdiri di atas pijakan agama tertentu.

Ayah saya  membenci Islam, jadi sebagai seorang anak berusia belasan tahun ketika itu saya  ikut-ikutan membenci agama ini tanpa pernah tahu mengapa dan apa itu Islam sesungguhnya atau apa yang kaum Muslim yakini. Saya  membenci Muslim padahal belum pernah berjumpa dengan seorang pun dari mereka seumur hidup.

Jadi saya  mulai melihat lebih dalam tentang Islam, sejarah dan keyakinan-keyakinan serta ajaran-ajarannya.

Karena istri saya  pindah ke ke Inggris, saya  pun turut pindah. Untuk beberapa waktu, saya  memanfaatkan kepindahan ke Inggris ini untuk melakukan perjalanan ke seluruh Eropa sambil mempelajari sejarah negara-negara Eropa. Namun, pikiran saya  tetap tertuju pada Timur Tengah dan politik di sana. Saya  mulai serius untuk mempelajari ajaran Islam, ideologi dan sejarah Islam, serta mulai membaca terjemahan Alquran.

Dari buku-buku yang dibaca, saya  mengetahui bahwa banyak ritual Kristen yang sampai saat ini dilakukan umat Kristiani adalah hasil inovasi manusia, bukan berbasiskan pada ajaran Tuhan. Saya   juga mencoba mempelajari agama Yudaisme, yang menurut saya  justru lebih “aneh”.

Menurut Mereka, orang-orang Yahudi memperlakukan para nabi Allah dengan keji. Jika ajaran Yudaisme meragukan, mengapa pula saya  memilih Yudaisme sebagai petunjuk hidup saya ?

Akhirnya saya  pun bertemu dengan seorang Muslim asal Libanon yang cukup faqih. Saya  pun banyak berdiskusi dengannya terkait dengan keinginan masuk Islam. Setelah Muslim Libanon itu benar-benar yakin bahwa saya   memang sudah bertekad bulat maka ia pun mengajak saya   mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di London.

Namun saya ng, kabar gembira tersebut menjadi kabar yang sangat buruk bagi istri saya . Ia sama sekali tidak berminat berdiskusi tentang Islam, menoleransi saya  masuk Islam pun tidak, apalagi mengikuti jejak saya . Sehingga cerai pun tidak dapat dihindarkan lagi. Saya   pun kembali ke Amerika dengan berat hati karena gagal membimbing istri.

Tapi alhamdulillah, saya  sekarang mengerti mengapa Allah memberikan semua peristiwa ini pada saya . Di AS, Saya   mendapatkan pekerjaan baru di Alaska. Tempat saya bekerja berjarak ratusan mil dari kota Anchorage dan Faribanks, yang cukup banyak komunitas Muslimnya di wilayah Alaska. Karenanya, saya   mengandalkan buku, internet dan sumber-sumber lainnya untuk terus mempelajari Islam.

Saya  mulai berkenalan dengan banyak Muslim setelah sering melakukan perjalanan bisnis ke Washington DC. Saya lalu dikenalkan dengan seorang Muslimah keturunan Arab Saudi. Saya  berkomunikasi lewat email dan telepon, tanpa pernah bertemu muka. Saya baru melihat wajah wanita nya setelah datang melamar pada keluarganya di Washington DC. Kami lalu menikah, lengkaplah kebahagiaan saya  sebagai seorang muslim.

Subhanallah, bagaimana Allah menuntun saya  pada Islam sangat menakjubkan, dari seorang yang jauh dari agama dan dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan ajaran kebencian, Allah menuntun saya  ke jalan-Nya …

Allah selalu ada, memperhatikan saya . Dia membimbing saya , melewati masa-masa berbahaya dan masa-masa yang buruk untuk menjadi seorang lelaki sejati dan menjadi seorang Muslim. Orang bilang, keajaiban tidak terjadi setiap hari, tapi cerita hidup saya  membuktikan bahwa perkataan itu salah.” [yy/islampos.com]