7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Linda Delgado, Al Quran Panduan Menuju Kebenaran Hakiki

Linda Delgado, Al Quran Panduan Menuju Kebenaran Hakiki

Fiqhislam.com - Lima tahun lalu, Linda Delgado masih mengaku penganut Kristen. Namun, ia tidak lagi rutin mengunjungi gereja. "Dahulu saya menghadiri banyak gereja, dan belajar dengan banyak pendeta. Saya coba mencari kebenaran," kata dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (7/5).

Selama bertahun-tahun, Linda mencari kebenaran. Ia tidak hanya belajar tentang ajaran Kristen, tetapi banyak agama. Yang pertama, Linda belajar dua kali sepekan dengan uskup Katolik. Namun, ia tidak bisa menerima keyakinan Katolik.

Selanjutnya, ia belajar dengan Saksi-saksi Yehuwa dan lagi-lagi tidka menerima keyakinan itu. "Hatiku bilang Yesus bukanlah Tuhan melainkan seorang Nabi. Hatiku bilang Adam dan Hawa bertanggung jawab atas dosa mereka,  bukan saya. Hatiku bilang saya harus berdoa kepada Tuhan, bukan kepada yang lain," papar dia.

Sejak itu, Linda selalu berdoa kepada Tuhan untuk menemukan jalan menuju kebenaran. Ini karena, sejak mencari kebenaran, ia belum mendapatkan apa yang dicarinya. "Saya tahu dalam hati saya, bahwa apa yang saya dengar tidaklah benar," kata dia.

Cerita itu berubah ketika ia bertemu dengan polisi Arab Saudi. Ia diminta untuk memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada mereka.  Saat itulah, ia bertemu Abdul. Salah seorang peserta pelatihan bahasa Inggris. Selama pelatihan itu, Abdul menetap di rumahnya.

Linda sangat terkesan dengan karakter Abdul. "Dia menunjukan sikap yang sopan dan baik," kata dia.

Suatu hari, Linda tertarik dengan apa yang menjadi bahasa para polisi Saudi, yakni Alquran. Dalam hatinya, bahasan itu seperti sesuai dengan apa yang dicarinya selama ini. Itu sebabnya, Linda merasa tertarik untuk membaca Alquran, dan literatur tentang Islam dan Muslim.

Pada satu kesempatan, Linda mengunjungi Arab Saudi. Linda sempat was-was, negara itu dikenal ketat dengan penerapan ajaran Islam. Karena itu, Linda menyempatkan diri membeli hijab, dan abaya. Di negara itu, ketertarikan Linda terhadap Islam begitu besar.

Untuk kali pertama, secara terbuka Linda pun menyatakan ketertarikan untuk memeluk Islam. "Saya mengucapan syahadat saat itu juga. Anak-anak saya menangis dan tertawa, saya percaya ini merupakan jalan kebenaran dalam Islam," kenang dia

Selepas bersyahadat, Linda tak berlama-lama untuk segera mendalami ajaran Islam. Ia mulai mendatangi masjid ditengah kesibukannya. Memang, harapan dia untuk mendapatkan ilmu yang dibutuhkannya tidak mulus. Banyak pihak yang memandang sinis kehadirannya di masjid. Linda pun terluka.

Perjuangannya menjadi Muslim yang kaffah tak berhenti sampai disitu. Di tahun ketiganya sebagai Muslim, Linda mengalami serangan jantung dan menjalani operasi jantung. "Ini adalah waktu yang berat bagi saya. Karena saya tidak bisa shalat, sungguh tersiksa," ucapnya.

Ditengah rasa sakitnya, Linda kian kagum terhadap Islam. Apalagi ketika melihat umat Islam terdari berbagai suku bangsa dan budaya berkumpul di masjid. Perbedaan yang ada hilang seketika. "Aku senang bisa mengucapkan assalamualaikum," kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (7/5).

Seiring waktu, penyakit Linda mulai membaik. Rasa haus untuk melanjutkan pendalaman ajaran Islam tak terbendung lagi. Bahkan, Linda mulai belajar membimbing mualaf seperti dirinya. "Kami memiliki banyak kesamaan, kami mengalami banyak cobaan yang sama," kata dia.

Pengalaman-pengalaman yang dialaminya itu mendorong Linda menulis sebuah buku. Olehnya, buku itu diberinama Islamic Rose Books. Inti buku ini, Linda ingin memaparkan situasi ketika mualaf memilih Islam, ia akan kehilangan banyak hal. Disaat kekosongan seperti itu, mualaf membutuhkan umat Islam.

"Buku ini merupakan isi pemikiran dan pengalaman saya, ini juga bagian dari kontribusi saya untuk umat Islam," ucapnua.

Inspirasi penulisan buku ini datang dari cucunya. "Cucu saya itu meminta saya menulis buku tentang pengalaman saya dengan Islam," kata dia.  Linda bahagia bisa mewujudkan keinginan cucunya itu.

Selang beberapa lama, Linda juga memutuskan memberikan bantuan pada organisasi yang menyediakan makanan yang dibutuhkan kalangan tak mampu. Ini termasuk, pembentukan data guna penyalurannya tepat sasaran. "Dari penjualan buku tersebut, saya serahkan sebagian besar keuntungan untuk membantu kalangan tak mampu," ucapnya.

Ia juga memutuskan untuk membantu pembelian buku-buku untuk perpustakaan anak-anak Islam. Ia sedih melihat banyak perpustakaan untuk anak-anak Muslim memiliki rak buku yang kosong. "Pada akhirnya, tujuan akhir hidup saya ini adalah belajar tentang Islam. Tak bosan membaca Alquran," ucapnya. [yy/republika.co.id]