21 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 27 Oktober 2021

basmalah.png

Rabi'ah al-Adawiyah dan Kebenaran Mimpi Rasulullah Saw

Rabi'ah al-Adawiyah dan Kebenaran Mimpi Rasulullah Saw


Fiqhislam.com - Dalam khazanah peradaban Islam, nama Rabi’ah al-Adawiyah harum sebagai seorang sufi perempuan pertama. Sosok bernama lengkap Ummu al-Khair bin Ismail al-Adawiyah al-Qisysyiyah itu lahir pada suatu malam di Basrah (Irak) pada 717 Masehi. Ayah dan ibunya berasal dari suku Atiq yang bersahaja. 

Sururin dalam Rabi’ah al-Adawiyah Hubb al-Illahi (2000) mengutip Fariduddin al-Attar yang merawikan betapa memprihatinkan keluarga ini. Rumah mereka gelap gulita ketika Rabi’ah lahir. Sebab, tidak ada setetes pun minyak untuk menerangi lampu. Bahkan, tidak terdapat sehelai kain pun untuk melindungi bayi yang baru lahir itu dari hembusan angin dingin. Namun, tanda-tanda kebaikan dalam diri Rabi’ah al-Adawiyah sudah mulai tampak. 

Ayah Rabi’ah dikisahkan akhirnya tertidur sambil memeluk bayi perempuannya. Dalam tidurnya, pria itu mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW yang berkata, “Janganlah engkau bersedih hati karena putrimu yang baru lahir itu kelak akan menjadi orang yang terhormat.” 

Masih dalam mimpinya, Rasulullah SAW berpesan kepada ayah Rabi’ah agar menulis sebuah surat kepada gubernur (‘amir) Basrah, “Tulislah: ‘Wahai ‘amir, engkau biasanya membaca shalawat 100 kali setiap malam dan 400 kali setiap malam Jumat. Tetapi, dalam Jumat terakhir ini engkau lupa melaksanakannya. Karena itu, hendaklah engkau membayar 400 dinar kepada yang membawa surat ini sebagai kafarat atas kelalaianmu.’” 

Keesokan paginya, ayah Rabi’ah melaksanakan perintah Nabi SAW sebagaimana diperolehnya dalam mimpi. Ia tidak bisa menemui langsung sang gubernur. Karenanya, surat itu dititipkan kepada pasukan penjaga. Namun, justru gubernur Basrah sendiri yang kemudian mendatangi rumah keluarga Rabi’ah al-Adawiyah sambil memberikan uang ratusan dirham. Menurut Sururin, inilah salah satu cara Allah untuk menjaga Rabi’ah sejak dini dari harta yang haram atau syubhat. 

Kehidupan sang salik tidak hanya menggetarkan orang Islam atau generasi sezamannya. Orientalis Louis Massignon memuji perikehidupan Rabi’ah sebagai “suatu kehidupan yang menyebarkan harum wangi ke orang-orang sekitarnya.” Sampai kini, ajaran-ajaran tasawuf salik perempuan tersebut masih bergema dan dipelajari, khususnya mengenai cinta (mahabbah) dan kedekatan (al-uns) kepada Allah. [yy/republika]