15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Lalla Fatma N'Soumer: Pejuang dari Tanah Djurdjura

Lalla Fatma N'Soumer: Pejuang dari Tanah Djurdjura

Fiqhislam.com - Lalla Fatma N'Soumer adalah sosok penting gerakan perlawanan Aljazair pada tahun-tahun awal penjajahan Prancis. Dia adalah simbol nyata perjuangan melawan tiran. Terlibat dalam perlawanan menghadapi agresi tentara Prancis.

Lalla adalah panggilan untuk perempuan yang sederajat dengan sidi (Tuanku). Di tradisi lokal, lalla merupakan sebutan penghargaan untuk wanita berharkat tinggi atau seseorang yang dimuliakan seperti orang suci. Lalu, N'Soumer adalah atribusi untuk kota Kabyle tempat ia tinggal, Soumer.

Perempuan yang lahir pada 1830 di desa Ain el Hammam itu tumbuh dan berkembang saat negaranya yang terletak di pesisir Laut Tengah Afrika utara itu berada dalam cengkeraman tentara Prancis. 

Kehidupan sosok yang bernama lengkap Fatma Sid Ahmed melewati tiga fase penting. Pertama, masa kecil dan belia. Kecerdasan dan talenta yang dimiliki mendorongnya berkeinginan kuat untuk menekuni agama. Dia memaksa untuk menghadiri pelajaran Alquran di Sekolah Alquran asuhan ayahnya.

Di situ, dia menghafal Alquran dan hadis bersama murid-murid lain. Saat ayahnya meninggal, Fatma diarahkan untuk memimpin Sekolah Alquran itu dengan adik laki-lakinya, Si Mohand Tayeb. Fatma mengambil alih merawat orang miskin dan anak-anak. Sebagai tambahan dari kealiman, kebijaksanaan, dan kecerdasannya, dia juga memiliki reputasi yang baik di seluruh Kabylia.

Kedua, saat beranjak remaja dia menolak untuk menikah dan memilih untuk melanjutkan pendidikannya. Akibatnya, Lalla Fatma menjauh dari kota kelahirannya dan dicari-cari karena pengetahuan agama dan kemampuannya melihat masa depan.

Terakhir, Fatma N'Soumer berumur 16 tahun saat tentara Perancis menjajah Aljazair. Pada 1854, saat Fatma berumur 24 tahun, ia bergabung dengan pasukan tentara Aljazair. Pertempuran yang dipimpin oleh Mohamed El Amdjed Ibnu Abdelmalek atau Boubaghla hampir kalah dari tentara Prancis.

Saat itu, Lalla Fatma memobilisasi tentara dan relawan, pria maupun wanita, dan memimpin pasukan untuk menyerang Prancis. Fatma lah yang mengarahkan bangsanya menuju kemenangan. Saat itu, seluruh masjid, zawiyas, dan sekolah-sekolah Alquran menyanyikan pujian padanya sebagai pahlawan dari Djurdjura.

Kegigihan

Kisah kegigihan dan aksi heroik Fatma menyebar dan melegenda seantero Aljazair. Jenderal Randon yang tidak menerima kekalahan, meminta penduduk Azazga untuk menangkap Fatma N'Soumer dan mengakhiri legendanya. Tapi, masyarakat tidak mau berkhianat. Jenderal Randon akhirnya tetap mengancam akan terus mengerahkan suara meriam selama Fatma belum tertangkap.

Fatma tidak menyerah. Bahkan, setelah jatuhnya Azazga dan represi ganas oleh pasukan Randon, ia menggerakkan penduduk dan memimpin lebih banyak pertempuran. Dia menyebut pasukannya “Pejuang Islam, Tanah, dan Kemerdekaan”.

Mereka berjuang terus menerus, enggan menjadi objek konsesi atau tawar-menawar. Kepribadian kuat Fatma memiliki pengaruh yang kuat pada semua Kabylia, ditunjukkan oleh pengorbanan dan tekad rakyat selama pertempuran, terutama penduduk dari Icherridene dan Tachkrit tempat pasukan musuh dikalahkan. Pertempuran terakhir terjadi pada 18 Juli 1854, mengakibatkan 800 orang musuh tewas, termasuk 56 perwira serta 371 luka-luka.

Ingkar janji

Prancis akhirnya menyatakan gencatan senjata yang diterima oleh Fatma N'Soumer. Segalanya kemudian berjalan begitu mudah dalam pengembangan organisasi serta memperkuat pasukan. Tapi, Prancis ingkar janji. Tiga tahun setelah pernyataan gencatan senjata, Prancis menyerang kembali.

Pasukan tentara Lalla Fatma kewalahan melawan kekuatan militer Prancis. Mereka kalah. Banyak tentara Lalla Fatma yang tewas dan dipenjara, termasuk Lalla Fatma.

Kesulitan menahan frustrasi dari ketidakmampuannya untuk bertindak melawan agresi dan penghinaan pada rakyatnya begitu memengaruhi kesehatannya. Fatma meninggal pada 1863 di usia 33 tahun.

Oleh Nashih Nashrullah
yy/republika.co.id