14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Ja'far ash-Shadiq, Sang Imam dari Kalangan Ahlul Bait

Ja'far ash-Shadiq, Sang Imam dari Kalangan Ahlul Bait

Fiqhislam.com - Salah seorang dari kalangan keluarga (ahl al-bait) Nabi Muhammad SAW yang masyhur adalah Ja’far ash-Shadiq. Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin lahir di Madinah al-Munawwarah pada tahun 80 Hijriyah. Keturunan Husein bin Ali bin Abu Thalib itu berpulang ke rahmatullah dalam usia 68 tahun di kota yang sama.

Ia digelari ash-Shadiq karena sifat-sifatnya yang alim dan jujur. Tidak pernah sekalipun dirinya berdusta. Julukan lainnya adalah al-faqih. Sebab, pribadinya menguasai banyak ilmu keislaman sehngga menjadi pemimpin (imam) panutan dari golongan ahl al-bait.

Betapapun luhur karakteristiknya, Ja’far ash-Shadiq bukanlah seorang yang dipandang bebas dari kesalahan atau dosa (ma’shum). Sebab, kriteria ma’shum itu hanya disematkan pada para utusan Allah, termasuk Rasulullah SAW. Pandangan yang agak berbeda justru dimiliki kelompok Syiah. Mereka melihat ash-Shadiq sebagai seorang yang ma’shum.

Selain alim dan jujur, Ja’far pun dikenang sebagai sosok yang sangat dermawan. Sifat itu memang menjadi tradisi di kalangan ahl al-bait, mengikuti jejak Nabi SAW yang merupakan insan paling murah hati.

Ja’far tidak jauh berbeda dengan kakeknya, Ali Zainal Abidin. Berbagai kisah populer tentang kebiasaan Zainal Abidin dalam bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Beberapa kali, di tengah kegelapan malam ia memanggul sekarung gandum di atas pundaknya.

Kemudian, bahan pangan itu dibagikannya kepada orang-orang fakir dan miskin di Madinah. Mereka yang menerima pemberian itu bahkan tidak mengetahui, sang dermawan adalah Ali Zainal Abidin kecuali sesudah wafatnya anggota ahl al-bait tersebut.

Ja’far ash-Shadiq pada masa belia belajar kepada ulama-ulama besar. Bahkan, ia pun berguru pada sejumlah sahabat Nabi SAW yang berusia panjang. Di antaranya adalah Anas bin Malik dan Sahl bin Said as-Saidi.

Guru-gurunya juga berasal dari kalangan tabiin, semisal Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah.

Dalam bidang ilmu hadis, Ja’far mengambil riwayat dari ulama-ulama senior Madinah. Ia juga meriwayatkan hadis dari kakeknya, al-Qasim bin Muhammad.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Di samping itu, ada pula Malik bin Anas al-Ashbahi, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Muhammad bin Tsabit al-Bunani. Dua santrinya yang dikenal luas adalah Abu Hanifah dan Sufyan ats-Tsauri.

Orang-orang ekstrem acap kali mengatasnamakan Ja’far ash-Shadiq dalam menyebarkan pahamnya. Misal, mereka mengeklaim bahwa sang alim pernah mencerca beberapa sahabat Nabi SAW, termasuk Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khattab.

Besarnya rasa hormat dan cinta Ja’far kepada keduanya amat jelas. Kesaksikan diutarakan antara lain Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani. Menurutnya, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang saleh di Madinah. Sampaikanlah (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum, aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menganggapku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, aku pun berlepas diri darinya (orang yang mengeklaim demikian).’”

Bahkan, secara nasab Abu Bakar masih sanak famili dengan Ja’far. Ibunya, yakni Ummu Farwa, merupakan anak al-Qasim bin Muhammad, yakni cucu dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Maka, tidak mungkin rasanya bila seorang alim mencerca kakeknya sendiri.

Berikut ini beberapa petuah yang pernah disampaikan Ja’far ash-Shadiq kepada jamaah haji.

Jika ingin melaksanakan ibadah haji dengan tekad yang kuat, kosongkan hati karena Allah dari segala urusan selain-Nya dan yang menghijabnya. Serahkan seluruh urusan kepada Sang Pencipta. Bertawakallah kepada-Nya dalam segala gerakan dan diam. Pasrahlah dengan ketentuan-Nya dan takdir-Nya. Tinggalkan dunia, kenyamanan, dan ciptaan."

“Sebelum kalian berangkat ke Tanah Suci, tunaikan dahulu seluruh hak orang lain yang masih ada dalam tanggungan. Jangan sekali-kali menggantungkan hidup pada bekal yang kalian bawa, kendaraan yang kalian tumpangi, kawan-kawan seperjalanan, kekuatan yang kalian miliki, kemudaan, dan harta, sebab itu semua busa yang menjadi musuh dan penghalang. Ketahuilah bahwa seseorang tidak memiliki kekuatan dan daya kecuali dengan penjagaan Allah SWT dan taufik-Nya.”

“Persiapkan perjalanan seakan-akan kalian tidak berharap untuk kembali lagi. Carilah kawan seperjalan yang baik. Jagalah diri dalam menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya dan sunnah-sunnah Nabi-Nya tepat pada waktunya.”

“Perhatikan etika-etika umum yang berlaku dan tabahlah dalam menghadapi kesulitan dan bersabarlah atas segala penderitaan. Bersyukurlah atas nikmat-Nya. Tanamkan sifat penyayang dan dermawan dalam diri serta mengutamakan kepentingan orang lain. “Lalu sucikan diri dari dosa-dosa dengan air tobat yang tulus. Kenakanlah pakaian kebenaran, kesucian, kepatuhan, dan kekhusyukan.”

“Ketika kalian mengenakan pakaian ihram, putuskanlah hubungan dengan segala sesuatu yang merintangi dalam mengingat Allah dan yang menghijabi untuk melaksanakan ketaatan pada-Nya. Kumandangkan talbiah yang bermakna jawaban yang suci dan tulus untuk Allah Azza wa Jalla dalam seruan pada-Nya dengan berpegang teguh kepada pegangan yang kokoh.”

“Bertawaflah dengan hati bersama para malaikat di sekitar Arasy seperti kalian tawaf di Baitullah bersama kaum Muslimin. Ketika berada antara Shafa dan Marwa, lakukanlah sai sebagaimana kalian melarikan diri dari hawa nafsu dan melepaskan pengakuan diri akan semua daya dan kekuatan.” [yy/republika]