12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Thulayha dari Seorang Nabi Palsu, Menjadi Pejuang Tauhid

Thulayha dari Seorang Nabi Palsu, Menjadi Pejuang Tauhid

Fiqhislam.com - Pertempuran Buzakha, pertempuran pada bulan Jumadits Tsani 11 Hijriah (September 632) ini mempertemukan Khalid ibn al-Walid dengan Thulayha ibn Khuwailid ibn Nawfal al-Asadi.

Latar Belakang

Thulayha adalah seorang kepala suku Arab dari Banu Asad ibn Khuzaymah yang kaya raya dan terkenal, namun ia menolak bahkan memerangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika menyampaikan dakwahnya. Pada tahun 625, yaitu 2 tahun setelah hijrah, ia dikalahkan dalam Pertempuran Qatan yang merupakan serangan mendadak oleh kaum Muslimin dipimpin Abu Salamah ketika Banu Asad sedang bersiap untuk mengepung kota Madinah. Kekalahan itu tidak membuatnya jera, bahkan ia turut bergabung dengan suku Quraisy lainnya bersama suku Yahudi dalam mengepung kota Madinah dalam Pertempuran Khandaq/al-Ahzab pada tahun 627.

Pada tahun 630, ia masuk Islam langsung di hadapan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak lama setelah Makkah dibebaskan dari kejahiliahan. Namun, setahun setelah itu ia memberontak dengan mengklaim dirinya juga mendapat wahyu sebagai nabi. Thulayha menjadi orang ketiga yang mengklaim kenabian di antara bangsa Arab. Pengakuan dari berbagai suku Arab lainnya membuat Thulayha lupa diri dan ambisius untuk membentuk konfederasi suku Arab melawan kaum Muslimin.

Kekuatan yang Bertarung

Pada bulan Juli 632, khalifah Abu Bakr memobilisir pasukan untuk memerangi suku-suku Arab yang memberontak. Bala tentara ini dibagi 3 dengan komandannya masing-masing diserahkan kepada 'Ali ibn Abi Thalib, Talhah ibn 'Ubaidillah, dan az-Zubayr ibn al-Awwam. Bala tentara kaum Muslimin ini menyerang konfederasi pimpinan pengaku nabi Thulayha di Pertempuran Dzu al-Qassa yang juga merupakan pendadakan (pre-emptive strike) pada pusat penggalangan kekuatan lawannya. Kekalahan tertimpa pada pihak Thulayha dan memaksa mereka mundur ke ke Dzu al-Hassa.

Kini Abu Bakr menugaskan Khalid ibn al-Walid untuk menghancurkan sisa kekuatan Thulyha, kedua kekuatan ini berjumpa di sebuah tempat yang bernama Buzakha. Khalid berkekuatan 6.000 personil sedangkan Thulayha memiliki 15.000 personil yang loyal kepadanya.

Pertempuran

Khalid menantang duel Thulayha sebelum pertempuran. Ia menyambut ajakan duel tersebut namun cidera hingga lari berlindung di belakang pasukannya. Pertempuran ini berlangsung sengit, dalam jarak dekat, serta bertubi-tubi dimana kemenangan terlihat akan jatuh kepada pihak yang paling kokoh. Hampir tidak ada manuver-manuver taktis yang menjadi ciri khas Khalid dikemudian hari terlihat pada pertempuran ini. Keahlian tanding pasukan Muslimin secara individual sangat menonjol pada pertempuran ini. Dengan perbandingan 1:2 pasukan Muslimin yang lebih sedikit berhasil kemudian mendapatkan kemenangan.

Setelah kekalahan telak yang menimpa suku-suku pendukung Thulayha, banyak yang kemudian insyaf dan masuk Islam kembali. Namun Thulayha berhasil lolos kembali dan bersembunyi di Syam. Setelah Syam pula berhasil ditaklukkan kaum Muslimin barulah Thulayha menerima Islam secara menyeluruh.

Setelah itu, Khalid diperintahkan langsung bergerak menuju pusat kekuatan tokoh pemberontak lainnya yang bernama Sajah dan mengalahkannya di Pertempuran Zafar pada bulan berikutnya.

Kesudahan & Kisah Thulayha di Kemudian Hari

Thulayha meminta ampunan kepada khalifah Abu Bakr dan ia beserta sukunya mendapatkan ampunan tersebut. Namun mereka dilarang Abu Bakr untuk turut serta berperang bersama kaum Muslimin yang tidak pernah murtad maupun memberontak.

Tahun 634, pada masa kekhilafahan 'Umar ibn al-Khaththab barulah Thulayha dan sukunya mendapatkan kesempatan untuk menebis masa lalunya yang kelam. Mereka dikerahkan oleh 'Umar untuk berperang di front Irak melawan bala tentara Sassania Persia. Pertama kalinya ia berperang pada pihak kaum Muslimin adalah pada Pertempuran Jalula.

Thulayha menuliskan sejarah gemilang pada Pertempuran Qadhisiyya sebagaimana yang tertulis pada kitab Tarikh al-Umam wal-Muluk karya Imam Thabari. Thulayha dan suku Bani Asad menjadi penentu bertahannya pasukan kaum Muslimin di hari pertama dalam pertempuran al-Qadhisiyya yang dikenal sebagai Yaum-ul-Armats atau hari kekacauan ("The Day of Disorder"). Ia tercatat dalam serbuan seorang diri ke barisan lawan pada malam hari serta berhasil membawa tawanan perang. Ia juga tercatat pernah menerobos hingga ke barisan tenda di lini belakang Sassania serta berhasil merubuhkan tenda-tenda lawan, membunuh 2 pasukan elit Sassania, merampas 2 kuda perang berbaju zirah yang ia bawa kembali ke barisan kaum Muslimin, berikut menyerahkan 1 tawanan kepada panglima Sa'ad ibn Abi Waqqasy.

Thulayha mendapatkan syahidnya di Pertempuran Nihavand dengan mengorbankan jiwa raganya guna memancing bala tentara Sassania Persia ke dalam jebakan kaum Muslimin sehingga membawa pada kemenangan yang menjadi titik nadir dan kekalahan total dinasti Sassania. Inilah sebuah epos kehidupan seorang Thulayha yang berawal sebagai musuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam namun mengakhirinya sebagai pejuang di jalan Allah Ta'ala. Semoga ia diampuni atas dosanya terdahulu dan diterima sebagai mujahid yang ikhlas. [yy/inilah]

Ust. Agung Waspodo, SE, MPP