14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Kondisi Mualaf Asal Timtim Sangat Memprihatinkan

Kondisi Mualaf Asal Timtim Sangat Memprihatinkan

Fiqhislam.com - Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama para mitranya di pengujung Ramadhan lalu memiliki kegiata menarik, terutama di ujung negeri, saat mereka mengunjungi komunitas mualaf di perbatasan Atambua Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan Timor Leste.

Manajer Community Partnership ACT, Sudayat yang bermarkas di Masjid Raya Mujahidin Atambua, mengatakan dalam kesempatan tersebut ACT menyampaikan beberapa paket bantuan dari mitra ACT: LAZ Yaumil, ZIS Indosat, BMT Harum, Solusi 247 dan MT BTPN.

Sudayat mengungkapkan, referendum tentang masa depan Timor Timur, kini Timor Leste, menyisakan trauma yang sangat mendalam bagi rakyat Timtim yang sudah memeluk Islam (mualaf).

Mereka melakukan hak pilih untuk masa depan Timtim dan mayoritas memilih tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Hati kami sudah merah putih, kami tidak mau kembali ke Timor Leste,“ ungkap Sudayat mengutip pernyataan mereka.

Dijelaskan, hidup di pengungsian selama bertahun-tahun tentu bukan pilihan. Tapi, apa boleh buat, mereka sudah memilih menetap di perbatasan Indonesia, dan tidak mau kembali.

Mereka lebih baik bergabung dengan Indonesia, toh jika kembali ke Timor Leste pun tidak akan bisa menjamin hidup mereka akan lebih baik.

“Tinggal di sini lebih tenang tidak terganggu masalah-masalah politik. Di sini kalau mau hidup, kami harus
bekerja, dan di sana juga harus bekerja, “ ujar Rahmat.

Mualaf asal Sesurai, Kabupaten Same Timor Leste sudah mantap menetap di Dusun Sukabitete, Desa Leon Tolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu/Atambua.

Di sana ada 15 kepala keluarga (KK) dengan 75 jiwa yang menempati tanah milik pribumi asli Atambua. “Pemilik tanah mempersilakan tanahnya untuk kami tempati dan garap, tapi tidak selamanya karena suatu saat pemilik tanah akan meminta kembali.''

Di tanah seluas 1,5 hektare ini, para mualaf mendirikan rumah-rumah gubug yang terbuat dari kayu, dengan dinding pelepah pohon lontar dan atap alang-alang.

Sedangkan lantainya terbuat dari tanah dan tidak memiliki jendela sebagaimana laiknya rumah yang jauh dari standar rumah sehat.

Mata pencaharain mereka, umumnya bercocok tanam dan berkebun, sebagian ada yang menjual ikan. Jika kemarau tiba, mereka lebih memilih menanam sayur-sayuran seperti sawi baso, bayam dan kangkung darat.

Sedangkan di musim hujan, mereka bertanam jagung dan padi di ladang. Hasil bercocok tanam mereka jual ke pasar Atambua.

Lingkungan pemukiman yang seadanya, sangat jauh dari kesehatan. “Air bersih sangat mereka butuhkan,“ kata Ja’far pengurus Masjid Raya Mujahidin yang sering menyambangi mereka ke lokasi pengungsian.

Tapi, Alhamdulillah tempat wudhu tersedia di depan mushalla alang-alang mereka. “Ini air wudhu kami tarik dari sungai bantuan dari para dermawan, “ ujar Rahmat.

Sudayat menuturkan, kedatangan tim relawan ACT disambut sumringah di balai pertemuan yang dibangun dari kayu, bambu, pelepah pohon lontar dan beratapkan jerami. 

Sejumlah paket lebaran dari mitra ACT diserahkan kepada 15 KK terdiri dari baju koko, mukena, Al-Qur’an dan sejumlah paket sembako. Sedekah para dermawan adalah senyum bahagia para muallaf di perbatasan Indonesia–Timor Leste. [yy/republika.co.id]