5 Dzulhijjah 1443  |  Selasa 05 Juli 2022

basmalah.png

Ciri-Ciri Mimpi Bertemu Rasulullah

istri nabi saw

Fiqhislam.com - Masih banyak lagi kisah mimpi bertemu Rasulullah yang diceritakan Abdul Aziz dalam bukunya. Husein cucu Rasulullah bermimpi bertatap muka dengan kakeknya dapat mendapatkan doa. Setelah shalat, dia membaca doa tersebut berkali-kali sehingga keinginannya tercapai.

Ada juga yang bermimpi mendapatkan peringatan dari Rasulullah. Mimpi tersebut juga ada yang menjadi petunjuk keilmuan, seperti yang dialami imam al-Ghazali.

Kisah itu ditulis oleh seorang alim asal Mesir, Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz, dalam bukunya Ra'aytun Nabiyya Shallallahu 'Alaihi Wasallam: Mi'atu Qishshatin min Ru'an Nabiy (Aku bermimpi bertemu Rasulullah: Ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi). Memahami mimpi Rasulullah bukan hal biasa.

Hanya orang tertentu yang mengalami itu. Dia menjelaskan, ciri-ciri mimpi bertemu Rasulullah.

Pertama, sosok dalam mimpi yang ditemuinya berkata, Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah nabimu.

Kedua, si pemimpi melihat sosok yang diagungkan. Dia meyakini orang tersebut bukan orang sembarangan. Orang tersebut diyakininya sebagai Rasulullah meskipun tidak ada yang memberitahukan hal tersebut.

Ketiga, pemimpi melihat seseorang yang dihormati. Kemudian, ada orang lain yang memberitahukan, orang tersebut adalah Rasulullah.

Setan dan jin mampu menyerupai makhluk apa pun di alam ini. Keduanya bisa mewujud dalam bentuk manusia atau binatang, dan banyak lagi. Namun, dia tidak bisa menyerupai Rasulullah. Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Barang siapa melihatku, ia telah melihat kebenaran karena setan tidak bisa menjelma dalam rupaku.

Mimpi bertemu Rasul merupakan ekspresi kerinduan dan kecintaan seseorang kepada Rasulullah. Umat saat ini memang tidak dapat bertatap muka langsung dengan Rasulullah. Namun, mereka dapat melihat sang Nabi dalam mimpi yang kerap menghadirkan isyarat atau petunjuk. [yy/republika]

 

istri nabi saw

Fiqhislam.com - Masih banyak lagi kisah mimpi bertemu Rasulullah yang diceritakan Abdul Aziz dalam bukunya. Husein cucu Rasulullah bermimpi bertatap muka dengan kakeknya dapat mendapatkan doa. Setelah shalat, dia membaca doa tersebut berkali-kali sehingga keinginannya tercapai.

Ada juga yang bermimpi mendapatkan peringatan dari Rasulullah. Mimpi tersebut juga ada yang menjadi petunjuk keilmuan, seperti yang dialami imam al-Ghazali.

Kisah itu ditulis oleh seorang alim asal Mesir, Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz, dalam bukunya Ra'aytun Nabiyya Shallallahu 'Alaihi Wasallam: Mi'atu Qishshatin min Ru'an Nabiy (Aku bermimpi bertemu Rasulullah: Ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi). Memahami mimpi Rasulullah bukan hal biasa.

Hanya orang tertentu yang mengalami itu. Dia menjelaskan, ciri-ciri mimpi bertemu Rasulullah.

Pertama, sosok dalam mimpi yang ditemuinya berkata, Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah nabimu.

Kedua, si pemimpi melihat sosok yang diagungkan. Dia meyakini orang tersebut bukan orang sembarangan. Orang tersebut diyakininya sebagai Rasulullah meskipun tidak ada yang memberitahukan hal tersebut.

Ketiga, pemimpi melihat seseorang yang dihormati. Kemudian, ada orang lain yang memberitahukan, orang tersebut adalah Rasulullah.

Setan dan jin mampu menyerupai makhluk apa pun di alam ini. Keduanya bisa mewujud dalam bentuk manusia atau binatang, dan banyak lagi. Namun, dia tidak bisa menyerupai Rasulullah. Nabi bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Barang siapa melihatku, ia telah melihat kebenaran karena setan tidak bisa menjelma dalam rupaku.

Mimpi bertemu Rasul merupakan ekspresi kerinduan dan kecintaan seseorang kepada Rasulullah. Umat saat ini memang tidak dapat bertatap muka langsung dengan Rasulullah. Namun, mereka dapat melihat sang Nabi dalam mimpi yang kerap menghadirkan isyarat atau petunjuk. [yy/republika]

 

Ra'aytun Nabi, Inspirasi dari Memimpikan Rasulullah

Ra'aytun Nabi, Inspirasi dari Memimpikan Rasulullah


Fiqhislam.com - Mimpi bukan sekadar proyeksi ataupun emosi yang meluap ketika memejamkan mata. Lebih dari itu, mimpi dapat menjadi inspirasi untuk perubahan dan kemajuan. Mimpi menjadi pemicu lahirnya kebijakan yang konstruktif, mengingatkan kelalaian seseorang agar semakin dekat dengan Islam.

Hal tersebut terbukti dalam sebuah kejadian yang diriwayatkan Ashim, anak Umar bin Khattab. Suatu ketika, sang anak menyaksikan seorang bernama Haris al-Muzni datang. Dia mengaku, bertemu Rasulullah dalam mimpinya. Utusan Allah itu berpesan, hujan akan turun. Pesan itu harus disampaikan kepada Umar bin Khattab.

Ketika pesan itu disampaikan, Umar terkejut. Sang khalifah bertanya beberapa kali untuk memastikan keaslian mimpi Haris. Tidak lama setelah itu, Umar mengajak kaum Muslimin untuk mendirikan shalat meminta hujan (istisqa). Khalifah yang kerap disebut Abu Hafs ini berdoa, Ya Allah, para pendukung kami telah lemah. Daya dan kekuatan kami melemah, begitu pula dengan diri kami. Tiada daya dan kekuatan, kecuali atas pertolongan- Mu. Ya Allah anugerahkanlah kami siraman hujan.

Mimpi bertemu Rasulullah juga menjadi titik awal perubahan seseorang menjadi lebih baik. Mereka yang semula tidak mengimani Islam berubah sehingga mau bersyahadat. Suatu ketika Khalid bin Ash bermimpi akan dijerumuskan ke jurang negara oleh ayahnya. Namun, tangannya dipegang oleh Rasulullah.

Khalid ingat betul gambaran neraka yang panas dan menyeramkan. Setelah bangun dari tidur, dia menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Seumur hidupnya, Khalid mengabdi kepada Rasulullah. [yy/republika]

Mimpi Orang Saleh

Mimpi Orang Saleh


Fiqhislam.com - Mimpi orang-orang saleh kerap menyimpan makna mendalam. Nabi Yusuf, misalkan, sewaktu kecil pernah bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan rembulan sujud kepadanya. Dia pun menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Mendengar cerita itu, Yakub mengerti akan ada permasalahan yang dialami Yusuf.

Yakub cemas jika Yusuf mendapat celaka bila mimpi itu diketahui oleh saudara-saudaranya. Yakub kemudian menasihati Yusuf, "Hai anakku, janganlah kamu menceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka akan memperdayakan kamu dengan segala tipu daya. Karena, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS Yusuf: 5).

Alquran juga mengabadikan kisah raja Mesir kuno bermimpi. Dia melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus. Kemudian, tujuh tangkai gandum hijau dimakan tujuh gandum lainnya yang kering.

Setelah bangun dari tidur, Raja yang kerap disebut Fir'aun itu memanggil ilmuwan dan dukun istana. Dia meminta mereka menafsirkan, apa makna mimpi tersebut. Namun, tidak seorang pun dari mereka mengetahui apa maknanya. Itu mimpi-mimpi yang kosong. Kami tidak mengerti maksudnya, ujar mereka.

Kemudian, salah seorang pelayan raja mengingat Nabi Yusuf yang pandai menafsirkan mimpi. Orang itu pernah dipenjara bersama Yusuf karena dianggap pengkhianat. Raja kemudian memerintahkan pelayan tersebut untuk menemui putra bungsu Ya'qub di penjara. Kepada sang pelayan, Yusuf menerangkan, mimpi tersebut adalah imbauan agar pemerintah bertani selama tujuh tahun bertururturut. Hasil panennya harus disimpan.

Makanlah sedikit dari hasil cocok tanam itu. Sisanya disimpan untuk persediaan pangan. Kemudian, akan datang tujuh tahun masa yang sangat sulit. Persediaan pangan hasil pertanian tadi akan banyak terkuras. Setelah itu, datanglah tahun yang banyak hujan sehingga negeri akan kembali hijau dan subur. Kisah ini tertulis dalam Alquran surah Yusuf (12).

Nabi yang terkenal karena ketampanannya itu langsung dipanggil. Raja ingin mendengarkan langsung tafsir mimpinya. Setelah itu, Yusuf dibebaskan dari segala tuduhan. Bahkan, dia diangkat sebagai pejabat yang mengurusi pangan untuk mengantisipasi bencana kekeringan. Mesir, ketika itu, menjadi negeri yang makmur. [yy/republika]