12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Kedermawanan Ibn al-Mubarak

Kedermawanan Ibn al-Mubarak


Fiqhislam.com - Bagi generasi salaf, keteladanan yang telah dicontohkan Rasulullah SAW selalu membekas dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk soal ajaran untuk gemar bederma dan menyedekahkan sebagian harta bagi dhuafa.

Hal ini pulalah yang mendasari kedermawanan seorang tokoh tabiin terkemuka, yakni Ibn al-Mubarak.

Konon, seusai pulang pergi dari Tharasus dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, ia segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda yang biasa mengurus kebutuhannya.

Pemuda tersebut menarik perhatian Ibn al-Mubarak. Ini lantaran sang pemuda itu adalah sosok yang rajin dan haus ilmu. Ia tak segan-segan belajar dan menimba ilmu kepada Ibn al-Mubarak. Pekerjaannya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus mempelajari hadis.

Hingga suatu hari, Ibn al-Mubarak kembali singgah ke penginapan itu, namun tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu ia memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara Islam, sehingga tidak sempat menanyakan hal itu.

Setelah pulang dari peperangan dan kembali ke penginapan, ia segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlilit utang yang belum dibayarnya. Maka, demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar utangnya, sampai ia tak mampu membayarnya ?”

“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.

Kemudian beliupun segera menyelidiki dan mencari si pemilik utang itu. Setelah mengetahui orangnya, beliau lantas menyuruh seseorang untuk memanggil orang tersebut pada malam harinya. Setelah orang itu tiba, Ibnu al-Mubarak langsung menghitung dan membayar seluruh utang pemuda tersebut.

Namun, segera ia berpesan, agar pemilik utang tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun selama beliau masih hidup. Dan orang itu pun menyetujuinya. Dan akhirnya Ibn al-Mubarak berkata, “Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda itu dari tahanan.”

Pagi harinya, Abdullah bin al-Mubarak pun segera bergegas pergi sebelum pemuda itu dibebaskan. Pemuda itu kembali ke penginapan. Orang-orang yang melihatnya langsung berkata, “Kemarin Abdullah bin al-Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun saat ini dia sudah pergi lagi.” Kini yakinlah pemuda itu bahwa Abdullah bin al-Mubarak yang telah membebaskannya.

Maka segera ia menyelusuri jejak Abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua-tiga marhalah (sata marhalah kira-kira dua belas mil) jauhnya dari penginapan. Setelah Abdullah bin Mubarak melihat pemuda itu, beliau lantas berkata, “Kemana saja engkau anak muda? Mengapa aku tak pernah melihatmu lagi di penginapan?”

Pemuda itu lantas menjawab, "Benar wahai Abu Abdurrahman (Ibn al-Mubarak), saya memang baru saja ditahan karena terlilit utang." “Lalu bagaimana engkau dibebaskan?" tanya Ibn al-Mubarak.

”Seseorang telah datang membayar seluruh utangku, hingga aku bisa dibebaskan. Namun, sampai saat ini aku tidak tahu, siapa orang yang telah menolongku," tutur pemuda itu lagi.

Sebenarnya, di balik jawaban dan pernyataannya, dia berharap Ibn al-Mubarak mengakui dugaannya. Bahwa Ibn al-Mubarak yang telah membebaskannya.

Sayangnya, Ibn al-Mubarak justru berkata, "Wahai Pemuda, bersyukurlah engkau kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik-Nya kepadamu, sehingga bisa terlepas dari utang."

Pemuda pelayan penginapan lantas kembali ke tempatnya bekerja. Tentu saja tanpa membawa jawaban dari semua rahasia pembebasan dirinya. Sedangkan orang pemberi utang, tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang jasa Ibn al-Mubarak yang membayar utang pemuda pelayan penginapan, sampai Ibn al-Mubarak wafat.

Selain ilmunya yang luas, kezuhudan, kemuliaan, dan banyaknya beribadah. Ibn al-Mubarak seseorang yang mengajarkan untuk menjauhi utang-piutang.

Sejak muda, Ibn al-Mubarak begitu rajin menuntut ilmu. Ia bahkan berpindah-pindah ke berbagai negeri. Hanya untuk berjumpa dan belajar dengan para ulama. Ia juga gemar menulis dan mempelajari hadis-hadis.

Suatu ketika, saat berada di majelis ilmu di Syam. Saat itu, pena yang Ibn al-Mubarak gunakan untuk menulis, tidak berfungsi. Lalu ia meminjam pena kepada seorang pelajar lain yang duduk di sebelahnya.

Setelah majelis berakhir, Ibn al-Mubarak yang buru-buru, lalu segera bangkit untuk meneruskan perjalanannya ke Mesir. Ia pun lupa untuk mengembalikan pena yang dia pinjam. Ia baru sadar setelah tiba di Mesir.

Menyadari hal tersebut, ia merasa telah mengambil hak seseorang tanpa izin. Dengan segera, Ibn al-Mubarak segera kembali ke Syam. Berniat untuk mengembalikan pena kepada pemiliknya. Padahal, perjalanan dari Syam ke Mesir sangat jauh serta melintasi lautan.

Bukan suatu alasan untuk Ibn al-Mubarak tak mengembalikan hak orang lain. Setibanya di Syam, ia segera mencari pemilik pena itu dan mengembalikan padanya.

Itulah kewarakan Ibn al-Mubarak. Ia sadar, sebuah pena bisa menghalanginya masuk surga. Itulah sebabnya, ia segera mengembalikan hanya sebuah pena meski harus menempuh jarak ribuan kilometer. [yy/republika]